jump to navigation

Syarifudin Baharsyah: Data Pertanian Membingungkan Januari 28, 2010

Posted by Iqbal in pertanian, politik.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
2 comments

Wawancara Syarifudin Baharsyah, mantan Menteri Pertanian periode Orba

Februari 2009

Di Kediamannya di Pondok Indah

Kata Pak Bungaran, saat ini keadaannya excess demand sehingga petani dapat harga yang lebih baik, paling tidak dibanding tahun 80an?

Apa betul? Haha. Karena bagi saya tahun 2008 ini adalah tahun yang cukup membingungkan. Di TV kita lihat bahwa selalu ada laporan-laporan, pernyataan produksi yang meningkat yang luar biasa juga ini ya kalau produksi pangan terutama beras dari tahun ke tahun meningkat dengan peningkatan tinggi, 4-6 tahun, dari tahun ke tahun ya, buat saya itu luar biasa.

Bapak percaya data itu gak?

Pada waktu saya Mentan mengusahakan itu sangat sulit mencapai kenaikan-kenaikan yang tinggi berturut-turut setiap tahun. Saya capai kenaikan yang tinggi itu setelah tahun kering, setelah terjadinya el nino, karena pada saat el nino tingkat kenaikannya turun. Tapi untuk mempertahankan produksi ini terus menerus tinggi saya kagum gitu. Sementara saya belum melihat ada perbaikan-perbaikan dalam penyaluran pupuk. Ada kejadian truk-truk yang ngangkut pupuk distop sama petani untuk dibeli, untuk dibeli bukan dirampok. Saya juga dapat info dari para petani yang tergabung dalam katena (?), stok pupuk di gudang-gudang itu juga banyak. Jadi gambarannya adalah pupuk banyak di gudang, lalu lintas pupuk ramai tapi petani gak kebagian pupuk untuk musim tanam. Tapi produksi naik terus. Kagum juga saya ini. Sementara itu pengetahuan juga ini, lahan kita untuk pertanian makin lama makin surut, begitu juga sarana irigasi, kalau betul-betul yang dapat berfungsi hanya 40%, kemudian teknologi yang masih memakai teknologi lama, ada memang kejutan-kejutan teknologi yang betul ada juga kejutan yang tidak betul. Tapi bisa dibilang teknologi yang dipakai petani saat ini 80% masih teknologi IRRI tapi tidak ditunjang dengan pupuk yang cukup, irigasi yang baik.

Saya menangkap dari omongan bapak sepertinya bapak curiga dengan data yang ada?

Haha. Kan sudah waktunya kita meninjau kembali sistem pelaporan data kita. Saya ingat waktu itu sekitar tahun 75 itu kita memperbaiki sistem pelaporan data pertanian. Waktu itu ada 3 jenis pelaporan, yaitu dari deptan, BPS, dan fakultas-fakultas pertanian. Lalu yang mana yang betul, akhirnya ditunjuk satu sajalah, data BPS itulah. Nah ini yang perlu dilihat kembali. Ada beberapa perbaikan yang saya rasa harus diperbaiki, pertama, yang melaporkan tidak perlu bertanggung jwb terhadap apa yang dilaporkan. Yang melaporkan jangan dihukum kalau (data) yang dilaporkannya itu kurang baik. Yang kedua, yang terutama adalah, mungkin ada cara-cara pengambilan data di lapangan yang harus juga diperbaiki. Kalau data produktivitas, sejauh itu masih ada pembinaan-pembinaan yang dapat dipertanggungjwbkan, itu masih bagus datanya. Yang sulit itu adalah luasan-luasan, seperti luas tanah, luas panen. Ini yang sulit. Padahal seharusnya kita sudah berani menggunakan teknologi-teknologi yang canggih, teknologi pengindariaan jauh yang katanya dua titik dari jarak beberapa meter saja bisa dihitung.

Mungkin terlalu mahal Pak, kita subsidi pupuk saja sulit?

Haha. Sistem itu juga yang skarang berjalan, ada noda-noda yang memungkinkan terjadinya interfensi-intervensi. Dari dulu intervensi ini juga banyak. Ada peluang intervensi. Yang teknologi itu saya rasa sudah saatnya kita beralih ke yang lebih canggih, saya rasa tidak terlal mahal. Jadi, Anda mancing terus saya percaya apa nggak. Haha. Buat saya itu ajaib aja, keadaannya kenaikan baik dari tahun ke tahun, dibandingkan prestasi saya jelek betul. Haha. Saya bersyukur saja kalau data itu betulbetul tercapai.

Tapi NTP katanya naik terus tuh pak?

Kita ini dalam keadaan krisis, sebelum itupun, saya dapat info dari Mentan, ada pujian lah ya dari FAO bahwa kita bisa menstabilkan harga beras. Seberapa jauh itu berarti kenaikan dari NTP. Kalau sementara itu harga bahan bakar, pupuk, dan obat-obatan, keperluan yang lain-lain ini tetap naik. Harus diyakinkan betul ke saya kalau nilai tukar petani ini naik (karena keadaannya kontras). Hehe. 2008 buat saya agak membingungkan juga. Termasuk yang dikatakan bulog bahwa cadangan kita lebih dari 3 juta ton, cakep betul itu. Petani ini sampai sekarang masalahanyaa di situ, di pupuk. Kalau kita lihat pertanian yang lebih luas dari itu, maka tentu belakangan ini keprihatinan terhadap turunnya harga ekspor produk-produk pertanian seperti kelapa sawit terutama. Karena tadinya berkibar sekali kan.

Gula belakangan ini tetap saja masih diricuhkan dengan impor gula rafinasi. Kasihan. Kasihannya sistem memadukan kerja sama dengan petani tebu dan industri gula, sedang bagus-bagusnya Jatim itu. Bagus sekali. Karena sejak pada waktu kita merubah sistem sewa dengan sisem intensifikasi bersama dengan petani, itu merupakan jadi suatu kekompakan yang bagus antara petani tebu dan industri gula. Bahkan sekarang ada masalah gula rafinasi.

Tapi sudah diblok pak oleh pemerintah?

Iya diblok tapi belakangan sekali. Haha.

Dibandingkan dengan zaman Bapak dulu, posisi pertanian Indonesia di mata internasional saat ini meningkat atau menurun?

Saya mengalami keadaan dimana posisi pertanian kita terhormat. Kalau pas saya di tahun 98, ketika saya hampir selesai sebagai Mentan, saya terpilih mjadi ketua (….) di FAO. Ini bukan karena pribadi saya tapi karena martabat pertanian Indonesia sedang terpandang sekali.

Faktor apa saja yang buat kita terpandang waktu itu?

Swasembada beras. Kemudian walaupun ekonomi waktu itu sedang dipacu ke industri tapi kita mencoba mempertahankan tidak terlalu jeleklah prestasi dari pertanian. Walaupun kita waktu itu bisa berpikir dengan lebih relaks tentang swasembada pangan, ketahanan pangan, apabila diperlukan tidak ada salahanyaa kita mengimpor. Tapi yang jelas waktu itu kita terpandang sekali. Ya mungkin belakangan bahwa dikatakan gejolak pangan di Negara kita tidak terlalu berat, di saat Negara lain bergejolak. Jadi, saya angkat topilah. Cuma kebingungan saya ini ya faktor-faktor yang seharusnya mendukung saya belum melihat perubahan. Mungkin juga ada 1 faktor lain, yaitu hubungan pusat dan daerah. Otonomi daerah itu tidak selalu memudahkan pelaksanaan kebijakan yang diarahkan dari pusat. Kalau dulu sudah hampir seperti komando aja kan.

Melihat ke depan, saya tetap merasa bahwa ada hal-hal yang masih potensial yang masih memerlukan penanganan yang khusus, selain daripada perbaikan yang tadi yah. Lahan kering dan lahan marjinal seperti pasang surut mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan. Ini masalahanyaa kan seperti yang tadi, subsidi pupuk, pupuk cukup atau tidak, infrastruktur. Itu sayang sekali. Kalau ibu ditanya maka ibu selalu akan mengarah ke keberagaman pangan. Saya kira juga yang harus mjadi perhatian. Bukan hanya dikatakan tapi juga diprogramkan.

Ada dua hal lagi yang perlu menjadi perhatian. Pertama adalah teknologi revolusi hijau yang sekarang kita pakai masih skitar 80%, harus ada teknologi baru. Ada dua teknologi besar yang bisa dikembangkan, yaitu hibridisasi dan rekayasa genetik. Dari dulu kita menentang genetic, GMO  itu. Saya rasa tidak bisa tidak, arahanyaa harus ke situ. Kita lihat bahwa, bagi saya dua-duanya itu sangat penting. Hibridisasi itu masih memberikan peluang kenaikan yang cukup baik. Memang agak sulit padi yang tropis itu menghasilkan hybrid, tapi bukan mustahil. Barangkali memang, kita harus memberikan penghargaan yang baik untuk para peneliti. Karena penelitian hybrid itu jauh lebih kompleks. Memerlukan upaya yang perlu didukung dengan baik sekali. Kalu yang dimodifikasi genetic itu jugan terlalu takutlah. Kita kan sudah barangkali 10 tahun memakan kedelai hasil genetic itu, kita gak ada masalah tuh. Tapi kalau kita bicara benih itu harus ada protkol yang perlu dipatuhi untuk menyalurkan GMO itu yah sehingga meminimalkan efek ke ekologi. Dua-duanya nantinya akan mensyaratkan sistem perbenihan nasional yang ditingkatkan. Jadi kalau misalnya nanti suatu saat para peneliti kita dapat menghasilkan benih hybrid yang cukup itu memerlukan suatu sistem penyalura benih yang agak lain. Begitu juga kalau penelitian dari bioteknologi kita mengasilkan genetic. Karen risikonya bukan main. Kalau kita bicara teknologi ada disiplin di situ. Jugan terlalu cepat disebarkan. Teknologi itu tidak ada jalan pintasnya.

Nah yang keetiga, saat ini ada suatu perkembangan investasi di Merauke untuk pertanian. Daerah itu memang mengandung potesi yang bagus. Walaupun barangkali para investor yang melirik ke sana tidak melihat ke pangan, tapi ke kelapa sawit bahkan beberapa waktu yang lalu ke biofuel. Boleh saja ini. Tapi di pangan ada hal yang sangat penting. Lahan yang sangat luas itu kalau mau dikerjakan, ikut sertakanlah petaninya, jugan mjadi suatu coorporat besar yang menguasai. Saya kira masih bisa diatur, sehingga manfaatnya masih bisa dirasakan petani, baik petani setempat maupun yang didatangkan ke sana.

Perkebunan. Saya pikr tidak perlu kita terlalu bersedihlah melihat harga saat ini. Kita lihat ada peningkatan dari industri hilirnya, biofuel. Itu harus dipertahankan. Sejauh biofuel itu baik dalam bentuk produknya maupun penggunaannya, tidak membahayakan ketahanan pangan kita. Mengapa tidak kita majukan. Kalau jagung itu harus berpikir betul, kita juga masih pas-pasan. Ubi kayu berpotensi. Mengapa kita hanya sepintas saja pada jarak. India sangat bersungguh-sungguh mengembangkan jarak. Kita selalu mendapat kritik dengan jarak karena kita tidak punya varietas yang baik, produktivitas yang tinggi. Tetapi mengapa tidak kita cari? Begitu banyak varietas jarak kita, seleksi saja mana yang baik. Jangan dikira masalah minyak bumi itu akan selesai, inilah waktunya. Negara lain investasinya ke biofuel sangat besar. Tebu, hati-hatilah kita. Bukan mustahil kita menggunakan side product-nya digunakan sebagai biofuel seperti yang dilakukan Brazil, kalau residunya yang kita gunakan kan tidak bertentangan. Ubi kayu kita punya potensi yang sangat besar untuk biofuel. Masyarakat kita kan tidak asing dengan ubi kayu. Coba kita lihat ubi kayu, lebih banyak produk hilirnya dari beras. Dulu kan ada gaplek, ada aci, kenapa tidak biofuel dari situ. Tidak bertabrakan dengan kebiasaan kita. Produktivitasnya memang masih rendah, tapi justru itu pertanda kita tidak sungguh-sungguh.

Yang Bapak lihat dari efek krisis global?

Pasti ada, perkebunan jelas terlihat. Pertanian pangan kita harus bersyukur karena tercukupi dengan baik, walaupun saya bingung dari mana itu, haha. Kalau sekarang kan tidak ada gejolak yang besar. Kita harus berterima kasih pada petani kita karena pencapaian tersebut.

Excess demand, Bapak setuju?

Kita harus lihat apa yang di belakangnya juga. Jelas ada penambahan konsumen. Demand itu kan bukan hanya keinginan tapi sudah ada kemampuan. Berarti excess demand pertanda kemampuan konsumen bertambah.  Ada benarnya ini baik karena petani juga kan konsumen. Yang peru dilihat juga bahwa pendapatan petani itu hanya sebagian saja yang didapat dari onfarm. Porsi pendapatan di luar pertanian itu lebih besar. Bisa kita lihat besarnya skala produksi petani kita kan kecil. Untuk menutupinya dia harus bekerja diluar, baik kerja bangunan, dagang, itulah offfarm. Kalau kemampuan naik, itu naiknya kenapa. Kalau sementara itu lapangan kerja tidak terbuka maka offfarm itu sedikit sekali menyumbang pada pendapatan petani.

Bukannya itu bagus buat petani kita karena mendapatkan harga lebih baik?

Itu yang skarang saya senang, kalau betul bulog mengatakan itu berarti bulog membeli tidak terpaku pada harga yang dipatok. Petani kan tidak mau menjual kalau harga terlalu rendah. Kalau itu mencerminkan harga-harga yang diterima petani maka itu bagus sekali. Dan bulog kan tidak perlu BPS, kita lihat saja gudang yang dia punya, jadi bulog bisa kita percayalah.

Saya curiga satu hal. Kalau kita perhatikan luasan kebun kelapa sawit. Luasan badan usaha di bawah PTP itu kan sedikit, luasan dari swasta sangat ……, tapi jugan dikecilkan pengembangan kelapa sawit dari rakyat, in besar sekali. Sementara itu saya baca dan dengar dari teman-teman, bahwa harus sudah ada perbaikan dari pupuk sriwijaya dan sebagainya.

Satu hal yang bagus sekali, pupuk organik, itu baik sekali. Pupuk organik memang tidak bisa menggantkan pupuk anorganik. Kandungan hara organik tidak sepadat pada anorganik. Kalau kita lihat yah pemupukan yang dianjurkan litbang kita, di dalamnya ada pupuk organik dan anorganik. Itu bagus sekali. Tidak pernah saya dengar Litbang menganjurkan hanya memakai pupuk organik.

Oh ada teknologi yang baik, SRI, itu sama saja seperti PTP yang dikembangkan oleh Litbang. Mereka tidak sama sekali menutup dari pupuk anorganik. Tapi SRI itu ada beberapa hal yang khas, pertanamannya hanya 1 bibit saja dalam satu lubang, dengan harapan bahwa anakannya akan banyak, dan memang betul. Pengairan juga harus diatur dengan baik, jugan digenang terus-terusan. Begitu bagus, tapi tidak semua tempat bisa dipakai. Karena pupuk organik tidak bisa didapat di semua tempat. Pengaturan irigasinya juga hrs besar, tidak bisa dilakukan satu petak saja. Claim produktivitasnya sampai 14-15 ton per Ha. Itu claim-nya. Dan itu katanya hasil di Madagaskar. Tapi kalau sudah nyampe 5-6 ton saja itu sudah bagus. Cuma jangan dipertentangkan dengan yang dilakukan dengan Litbang pertanian kita, sama saja sebetulnya. Ini juga sangat mudah. Saya senang Pak Menteri juga melihatnya bagus, tapi harus sangat diwaspadai di mana bisa dilakukan. SRI itu mengandung hal-hal yang sangat baik.

Bunga dan Pernak Pernik Bisnis Politiknya Januari 18, 2010

Posted by Iqbal in pertanian, politik.
Tags: , , , , ,
add a comment

Wawancara Karen Sjarief, ketua Asbindo (Asosiasi Bunga Indonesia)

Pada Pekan Flora dan Fauna Nasional, 24-29 Juni 2009, di Tangerang City.

Karen Sjarief. Dok: Iqbal

(Saking semangatnya, sebelum saya bicara, Ibu Karen sudah curi start)

Mengadakan pameran seperti ini, harus ada peraturannya, tidak boleh bawa plasma nutfah Indonesia yang langsung dibawa dari hutan.

Kemarin saya baru presentasi, nanti saya kirim deh, apa sih florikultura. Jadi tanaman hias lebih luas kalau disebut florikultura. Sebetulnya florikultura itu adalah bagian produk hortikultura, masuk di bawah dirjen horti, ada direktorat tanaman hias. Direktorat tanaman hias ini menangani masalah florikultura.

Horti itu kan beragam, ada buah, sayur, biofarmaka, beragam, kemudian ada florikultura. Nah, florikultura pun terdiri dari macam-macam, ada tanaman lansekap, tanaman hias pot, tanaman tahunan, ada tanuman annual, kemudian ada bagian dari tanaman dekoratif seperti bunga dan buah2an kering yang bisa dipakai untuk dekorasi, kemudian tanaman hias air, kemudian bunga potong, daun potong, dan juga bagian dari florikultura itu bibit atau benih umbi-umbian.

Sekarang sifat dari industri ini sendiri, selain high value product dalam horticulture, diapun suatu produk yang cepat berganti karena dia mengikuti fashion. Mengenai industri ini, dia adalah fragile, jadi kalau diekspor harus ada kurungnya. Kemudian dia rapid developing, cepat sekali berubah, varietasnya banyak. Saat ini adalah industri yang disukai yang cepat perkembangannya, pencapaian ekonominya cepat jika kita memberdayakan florikultura. Kalau buka di google, florikultura di Uganda, Zimbabwe, Etiopia. Etiopia itu baru berkembang 5 tahun yang lalu tapi sudah bisa mengangkat GDP nya, karena dia emerging market. Kita sebagai negara berkembang seharusnya melihat ini sebagai satu potensi yang patut diperhitungkan.

Macamnya banyak sekali yang di stand sekitar ini, tapi masih kurang industri benih dan bibit yang dari nasional. banyak yang impor. Kalau anggrek dan dendario-dendario (?) iya masih dari domestik. Kalau Anda lihat Palaenopsis (?) yang besar-besar itu, 98% dari Taiwan dan Korea bibitnya. Walaupun indukannya awalnya dari Kalimantan dan Jawa. Kita ini kan sekarang dijajah, bukan geografinya, tapi karena ketergantungan dari importasi, padahal mother plant-nya dari Indonesia. Kenapa? Karena masalahnya, industri florikultura itu hanya bagian kecil dari seluruh potensi yang ada di Indonesia. Apalagi posisi di Deptan itu yang jadi primadona adalah pangan. Pangan itu punya empati, politic strategic yang dipakai sebagai jargon politiklah, lebih mudah mendapat empati. Kemudian juga politically lebih cenderung ke sana. Semantara florikultura, menurut mereka kecil, di bawah ditjen hortikultura. Walaupun potensinya luar biasa, mereka tidak akan pernah melihat ini sebagai prospek karena kita tidak akan pernah bisa melawan yang namanya pangan. Kalau Indonesia memang soko gurunya agriculture, harusnya mulai memisahkan hortikultura dengan kebutuhan pangan. Pangan itu tidak akan pernah bisa disamakan dengan kebutuhan hortikultura, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa. Apalagi di bawah hortikultura itu banyak sekali sektor seperti buah. Buah-buah tropis kita potensinya luar biasa, belum jamu-jamuan atau biofarmaka. Harusnya dengan gaya hidup yang seperti sekarang menuju ke alam, green living movement, hidup yang lebih sehat, harusnya menjadi peluang biofarmaka menjada peluang di pasar dunia, menjadi satu komoditas yang meningkatkan ekspor kita, meningkatkan pendapatan kita. Tapi nyatanya kan tidak. Kita hanya menjadi parsial kecil, menjadi bagian kecil di mana-mana. Karena menurut saya, selama ini masih di bawah satu departemen, ini akan sulit. Tidak akan bisa berkembang secara optimal. Karena kita tidak akan pernah menjadi satu fokus perhatian selama kita masih disamakan dengan pangan karena pangan akan lebih unggul.

Kalau memang pemerintah serius menangani pangan dan kemiskinan, bikinlah satu departemen sendiri yang menangani pangan sehingga potensi di hortikultura yang lain bisa dikembangkan. Kalau pemerintah bisa buat departemen sosial, kenapa tidak bisa menangani kemiskinan dan pangan tersendiri. Sementara segala sesuatu yang ada di bawah agriculture di bawah pangan akan bisa berkembang.

Kalau kita bandingkan Negara lain di sekitar Indonesia?

Negara lain tidak punya penduduk sebanyak kita. Negara lain bukan Negara agraris, bukan kepulauan.

Tapi Cina dan India yang punya penduduk banyak?

Cina bukan Negara kontinental. Penduduknya banyak, based-nya agriculture. Kalau Malaysia Negara kecil. India florikulturenya berkembang luar biasa karena ada Bollywood. Investornya adalah mereka karena emerging market tadi, cepat berkembang dan cepat menghasilkan.

Kalau posisi di pemerintahan mereka seperti apa?

Saya tidak tahu, mungkin lebih dari direktur karena ekspornya mereka luar biasa tinggi. Tapi itu tadi, kalau kita melihat organisasi sendiri di Deptan, harus sudah mulai memisah-misahkan. Kan kita sekarang sudah pakai ekonomi kreatif, segala macam disuruh kreatif, tapi kebijakannya tidak mendukung. Jadi ada satu kekonsistenan pemerintah di dalam melaksanakan ini.

Jangan-jangan pemerintah melihat masyarakat florikulturnya ini sendiri yang masih belum bergerak?

Belum melihat. Florikultura ini belum dilirik. Walaupun pemerintah sudah mulai ada ini (pameran bunga), salah satu langkah konkret dari ditjen horti. Tapi pemerintah secara keseluruhan ini masih dianggap kecil. Sementara industri ini kalau dibangun dengan benar, kita tu mempunyai banyak varian, plasma nutfah kita terbesar di dunia. Genetically, SDG, sumber daya genetik, kita itu terbesar di dunia, karena kita kepulauan. Yang tertulis di literatur itu Brazil, tapi menurut saya Indonesia. Kenapa? Karena Brazil kontinen, kita kepulauan, terpencar-pencar. Berarti setiap pulau punya keunikan tersendiri tergantung kondisi geologisnya. Sekarang ada Tarsius di Sulawesi, memang di tempat lain ada? Jadi banyaklah keunggulan-keunggulan kita. Kalau fauna berbeda apalagi floranya.

Boleh tidak saya katakana industri kita lambat?

Jangan dilihat hanya anggrek. Memang anggrek masih tergantung pada bibit luar. Anggrek tok. Kita harus pandai nih, yang terjadi sekarang memang sebagian besar masih tergantung. Tapi untuk beberapa jenis sudah diproduksi lokal. Kita punya pengusaha2 nasional yang punya jiwa nasionalis besar yang sudah membenihkan lokal. Kita sudah punya pembenih-pembenih nasional yang membenihkan lokal. Tapi baru sedikit. Kontribusinya sedikit karena belum ada dukungan yang penuh.

Nah, dukungan penuh seperti apa yang diinginkan?

Ooo…kebijakan banyak sekali. Banyak sekali kebijakan yang bermasalah. Rata-rata tumpang tindihnya kebijakan antardepartemen. Tidak ada satu penanganan yang holistik.

Contohnya?

Banyak. Misalnya IHH, itu Iuran Hasil Hutan. Anggrek itu ditarikin IHH, padahal anggrek itu bukan hasil hutan. Anggrek ini didatangkan seedling dari Korea, kan bukan hasil hutan. Tapi harus masuk melalui proses Dephut dan ada charge-nya. Kadang-kadang dipersulit, ya harus bayar dan sebagainya. Jelas donk saya keberatan, ini bukan dari hutan kok. Mereka masih mempersepsikan anggrek itu dari hutan padahal tidak semua anggrek itu dari hutan. Pemerintah sendiri masih belum ter-educate mengenai industri ini. Bukan Deptan, tapi Departemen lain yang terkait industri ini.

Ibu pasti sering teriak-teriak, tanggapan dari pemerintahnya sendiri?

Saya kira hasil teriakan-teriakan ini mulai terdengar, sudah mulai ada antusiasme masyarakat, dari pemerintah sendiri mulai aware dibanding 10 tahun yang lalu. Cuma kita ini kurang cepat, kita kehilangan momen. Ekonomi ini kehilangan momen kalau tidak bertindak cepat.

Sekarang kan katanya krisis, harusnya ka nada percepatan menangani krisis. Harusnya salah satu yang industri yang digunakan untuk percepatan itu industri yang berbasis nasional, yang punya basis sumber daya nasional, seperti daun potong. Daun potong ini kita 12 jam matahari, tidak perlu green house.

Tapi akan sama saja ketika diekspor tidak punya pasar?

Kata siapa? Tidak. Industri bunga tidak berdampak terlalu besar pada krisis. Tiap hari ada orang mengatakan cinta, tiap hari ada org meninggal, tiap hari ada orang menikah. Itu merupakan satu kebutuhan. Kebutuhan manusia bukan hanya pangan dan makan. Itu adalah kebutuhan manusia di Negara ketiga, hanya pangan, yes.

Apa betul industri florikultur tidak bergejolak saat krisis walaupun pasarnya sebagian besar ekspor?

Iya, nanti saya forward datanya. Di luar (ekspor-red) kita stabil, di pasar dalam negeri awalnya terimbas, pertama kali turun sekitar 20% tapi sekarang merangkak naik lagi. Di luar kita tidak terlalu terimbas. Luar itu konsumen terbesarnya Jepang, Amerika, Eropa. Tapi mereka merupakan bagian dari culture, bagian dari kehidupan. Kehidupan itu kan tidak saja makan. Kehidupan itu ka nada kehidupan jasmani dan rohani. Bagian dari kehidupan rohani itu ya bunga. Mana ada manusia tanaman hidup dengan tanaman. Rumah pasti ada tumbuhan walaupun kecil, ya toh. Itu merupakan kebutuhan.

Kalau kita urut, posisi Indonesia di kancah internasional di mana?

Internasional kita belum terlalu besar. Kontribusi kita belum besar karena kendala masih banyak. Kalau kendala2 itu bisa dibantu pemerintah di mana di negara2 lain itu dibantu pemerintah. Kendala2 tersebut (di Negara lain-red) justru dipermudah. Seperti adanya one stop service, adanya suatu perizinan secara cepat, integrated. Itu kan kata2 yang paling sulit di Indonesia. Satu departemen aja antara satu ditjen dengan ditjen yang lain belum tentu nyambung. Apalagi satu departemen dengan departeman lain. Satu urusan pupuk saja yang menangani tujuh lembaga. Ini semua menandakan ketidakpiawaian Indonesia di dalam memandang prospek pertanian. Kalau Indonesia mengatakan bahwa soko guru kita pertanian harusnya semua mengacu pada soko guru itu. Apapun perdagangan, apapun perindustrian, itu mengacu ke percepatan pertanian, kan gitu. Sekarang kan karena kita tu kaya, konsentrasinya banyak, tidak jelas loh.

Kendala kita itu justru di kebijakan, akses lahan, undang-undang agraria kita tidak jelas, akses lahan diberikan ke siapa, irigasi katanya dipakai untuk akses pertanian tapi lahannya untuk perumahan.

Di mata internasional, orang memandang Indonesia hebat di komoditas bunga apa?

Orang mengenal Indonesia sebagai Negara yang mempunyai plasma nutfah banyak. Tapi Indonesia juga dikenal punya penduduk yang besar. Jadi saat ini Indonesia lebih banyak dilempar sebagai konsumen, tidak hanya di bunga tapi di ranah industri. kita menjadi bangsa konsumen. Ini adalah titik di mana Indonesia menjadi bangsa yang produktif. Tidak menjadi target konsumen Negara lain yang akhirnya sumber genetic pindah ke Negara lain. Yang mempunyai nilai tambah banyak di dia bukan di kita, karena ketidak-aware-an kita untuk memberdayakan sumber genetik kita.

Apa bisa dengan mudah memindah-mindahkankan sumber genetik?

Bisa. Anggrek itu awalnya dari Phalaenopsis amabilis. Asalnya dari kaltim. Tapi yang membudidayakan, yang meng-claim anggrek itu sebagai bunga raya adalah Korea. Yang punya produksi adalah Taiwan. Yang punya nilai tambah kan mereka. Kita hanya mendatangkan seedling kemudian membesarkan, yang namanya grower. Yang untung kan mereka. Karena kita tidak aware. Karena kita menganggap itu industri rumahan, industri rumah tangga. Ini mainannya ibu-ibu rumah tangga.

Justru jadi ada pertanyaan ke mana penggiat industri bunga ketika melihat potensi besar itu?

Karena mereka tidak aware, belum tahu. karena selalu kita tidak pernah, pemerintah ditjen Horti misalnya, bagaimana dia membesarkan membuat program, membuat awareness, kalau misalnya hortikultura saja belum kelihatan di deptan. Jadi ini juga masalah politik kebijakan. Di Negara lainpun semua itu didukung pemerintah. One stop service semuanya. Orang mau investasi florikultura dipermudah, awalnya dengan subsidi. Jangankan kita subsidi, boro-boro. Kita tuh bergerak sendiri, modal dengkul seperti ini. kita harusnya diberikan apresiasi bahwa hortikultura itu survive karena kreativitas dank arena daya juang. Daya juang orang-orang di luar pemerintah. Kalau pemerintahan horti, mereka mengerti. Tapi kalau sudah disatukan dengan departemen perdagangan, deperin, LIPI pun mengadakan penelitian based on our genetic market oriented. Penelitian kita tidak berdasarkan untuk bisnis, mereka mengadakan penelitian tidak tahu untuk apa, tidak pernah menanyakan kepada sektor swasta. Kan kalau penelitian itu untuk jangka panjang, sedangkan mereka melihat hanya produk hari ini. semua Negara punya strategi future product, Indonesia tidak punya! Ikut-ikutan, selalu lihat apa yang di barat laku. Padahal kita bisa menjadi trend center, kita punya sumber daya genetik kok. Hanya pemerintah itu harus kolaborasi antardepartemen, musti tut wuri handayani. Kalau tidak, lupakan saja, Negara ini tidak akan bisa maju.

Kembali ke pemain swasta. Pemain kelas atas kita itu jual apa?

You amaze what they sell. Mereka jual pucuk-pucuk krisan. Mereka jual krisan, dia ini tanaman semusim. Tanaman ini sering dipakai orang Cina dan Jepang. Itu kebutuhan mereka sehari-hari untuk sembahyang dan macam-macam. Pertumbuhan itu paling cepat di Indonesia karena ecologically kita itu menguntungkan. Ada satu yang namanya saung mirwan, dia ekspor pucuk-pucuk krisan ke Jepang. Bukan bunganya, tapi tanamannya. Jangan dilihat kalau ekspor tu bunga ya bunga, bisa jadi benihnya, batangnya, daunnya, batangnya, bisa jadi yang dikeringkan, banyak sekali yang bisa dilakukan. Jadi derivasi dari industri florikultura itu besar sekali. Batang jagungpun bisa dijual, itu bisa jadi bagian dekorasi. Dekorasi kan ada bunga filler, ada daun, ada juga batang-batang seperti sulur, ada kayu kering. Nah, kayu, pertumbuhan tanaman itu paling cepat di Negara tropis. Diversifikasi kita besar.

Apa ada standardisasi produk untuk ekspor?

Ada, yang buat itu departemen, tapi kita (swasta-red) juga punya standar sendiri. Mereka (departemen-red) mengajukan standardisasi, itu baru, dan itu bagus. Kita mengusulkan ke direktorat tanaman hias dan kemudian direktorat tanaman hias mengeluarkan standar-standar tersebut.

Asbindo ini punya juga standar sendiri?

Setiap perusahaan kan tergantung permintaan. Jadi ada yang minta seperti importer saya, dia minta setiap tanaman dilebihkan 6 cm, setiap ujung batangnya lebih 6cm. Jadi ada permintaan-permintaan dari client juga.

Asbindo sudah hamper 20 tahun, apa saja yang sudah dilakukan?

Terbentuknya direktorat tanaman hias. Itu salah satu bentuk yang diusulkan Asbindo pada Megawati pada tahun 2004. Terbentuknya direktorat itu kalau tidak salah tahun 2005.

Wah masuk ranah politik juga?

Iya donk harus. Kalau tidak nanti kita tidak bisa mengubah. Selain itu, ada juga kita buat pelatihan-pelatihan untuk semua yang membutuhkan. Terutama kita memberikan pelatihan Pemda karena belum ada tempat atau lembaga yang memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ingin mengembangkan industri florikultura. Seperti Pemda Tomohon, Sulut, itu mitra kita yang dulu kita bina sehingga menjadikan dia kota bunga.

Asbindo punya cabang di setiap provinsi?

Ada, tapi tidak di tiap provinsi, hanya di tempat yang punya industri florikultura dan yang mempunyai minta untuk membesarkan itu. Kami punya di Jayapura, Bali, Batam, Tomohon, Kalteng, dan masih banyak lagi.

Anggotanya produsen bunga atau gabung dengan pemerintah?

Hanya produsen saja. Biaya untuk pergerakannya dari dana sendiri. Walaupun kita menjadi mitra yang memberikan masukan dan usulan tapi kita tetap pembiayaan asosiasi dari kita sendiri.

Jangan-jangan alasan kenapa Dit Tanaman Hias belum berkembang karena orang2 di dalamnya kurang paham tanaman hias?

Ya, saya rasa karena ini baru, semua masih belajar. Tapi apa yang mereka lakukan dari Dit Tanaman Hias ini kan sudah luar biasa. Kita bisa mengacungkan jempol.

Tren bunga sekarang apa ?

Jangan mempopulerkan  yang dipopulerkan orang lain. Karena kalau kita bilang tren itu kan yang dibuat manusia. Yang membuat tren itu adalah mereka yang punya produk siap, yaitu Thailand. Jadi sekarang ini yang sedang tren adalah produk Thailand. Makanya saya paling tidak suka bicara tren, kita yang harus membuat tren sendiri. Kalau yang layak diangkat Begonia.

Jadi tren itu dibuat?

Nothing yang muncul dari bawah. Orang Indonesia bikin satu, kemudian dijual ke Thailand atau yang lainnya, mereka memperbanyak, terus balik lagi ke sini.

Tanpa awareness dari orang Indonesia sendiri, bukannya produk mereka akan tetap tidak laku?

Kalau semuanya ikut dipromosikan oleh media ya tetap laku. Orang semua Cuma percaya pada satu media itu. Tren itu dibentuk. Kita jangan jadi korban tren. Seperti orang Wonogiri atau Wonosari itu, bupatinya suruh nanam Anthurium yang sedang tren. Begitu penjualnya sudah selesai menjual ya bukan tren lagi. Banyak contoh kasus.

Hanya satu kekuatan Asbindo, kita punya nasionalisme dan idealisme. Kita bukan pedagang. Kita mendidik orang juga.

Bincang dengan Hartono tentang Komoditas Telur Januari 14, 2010

Posted by Iqbal in pertanian.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Wawancara dengan Hartono, ketua PINSAR (Asosiasi Peternak Unggas se-Indonesia)

Tempat: Kafe Alibaba, Bogor

Waktu: February 2009

Coba Bapak ceritakan sejarah komoditas telur ayam di Indonesia ?

Basic telur, yang pertama sebagai sumber makanan. Saya bicara gizinya dulu deh, baru prospek perkembangannya. Dulu konsumsi telur itu kan secara alamiah. Kita makan telur dari ayam kampung yang dijinakkan dari ayam liar. Di keluarga di belakang rumah dipelihara. Diambil telurnya, mungkin seminggu, atau dua minggu dia hanya bertulir 5-6 butir. Setelah sebulan betelur dia berenti betelur lalu mengeram. Sebagian dimakan keluarga, sebagian lagi ditetaskan sebagai bibit berikutnya. Kalau kita lihat sejarah ayam komersil yang dibudidayakan secara profesional itu pertama kali memang ada beberapa peternak ayam kampung. Mereka itu kumpulin ayam kampung trus diternakin semi intensif, ada kandangnya tapi ada tempat kumpul umbarnya, mereka pagari. Di situ mungkin mereka mulai dengan lebih dari 10 ekor, ssudah agak banyak. Tapi produktivitasnya masih sgt rendah u/telurnya. Karena sebulan dia Cuma dapat sekitar 12-15 butir. Kemudian ayamnya punya sifat mengeram sehingga belum kita domestikasi secara intensif. Di tahap ini blm ada hitungan ekonomis, masih sampingan. Asal ada income tambahan saja.

Nah, tahun 50an masuklah ayam ras/negeri. Dia merupakan belastaran. Macam-macam strain lah datang dari Amerika dan Eropa. Mereka galurnya memang galur petelur sehingga produktivitasnya juga bisa tinggi. Waktu pertama masuk sekitar 75%. Artinya kalau kita melihara 1000 ekor sehari bisa dapat 750 butir. Ini sesudah ada hitungan ekonomisnya.

Seorang pedagang telur di pasar tradisional sedang menyusun dagangannya. Dok: Iqbal

Seiring berjalannya waktu, peternakan memperbanyak jumlah ayamnya sampai ratusan ribu ekor. Itu sekitar tahun 55. Kemudian berkembanglah. Orang banyak yang gak suka kok telur warnanya putih. Masyarakat kita kurang suka cangkang yang putih. Sudah putih gede lagi, kalau ayam kampung kan putih tapi kecil. Dari situ peternak ngubah strainnya jadi ayam petelur yang menghasilkan warna coklat. Dulu pertama kali orang gak suka juga, wah ini telur ayam komersil telur apa ini. nah, setelah pembelajaran massa umum jadi tau jadi gak dimasalahin lagi.

Sekarang telur konsumsi nasionalnya kita bisa statement lebih dari 90% ayam ras. Bukannya kita tidak cinta produk negeri sendiri, yaitu ayam kampung, tapi strain ayam kampung itu sesudah dikembangkan di Negara asalnya sebagai strain dengan produktivitas skala ekonomi. Otomatis di sini, di Indonesia, kita gak pernah merunut galur murni yang bisa u/petelur. Nah inilah bedanya institusi riset kita yang di sini dan di sana. Jadi, bukan masalah tidak nasionalis. Kita bicara satu produk ini bisa efisien tidak secara ekonomi sehingga bagi pngusaha bisa berinvestasi dan bisa membayar kembali investasi, bunga bank dsb. Ini berkembang sampai sekarang. Kalau kita lihat dari sisi gizinya, telur ini.

Tahun 50-70an, harga telur itu masih relatif tinggi kalau kita bandingkan dengan harga ikan maupun dengan daging sapi. Kalau sekarang kita lihat kecenderungannya harga telur semakin murah kalau dibandingkan dengan harga ikan atau daging. Hari ini saja sekarang. Harga telur itu 25%nya harga daging, kalau dulu masih 50%nya harga daging. Itu kira-kira tahun 70an. Artinya, telur ini makin efisien produksinya, peternaknya makin pintar memelihara, sehingga kita pantas memberikan penghargaan pada peternak karena mampu menyediakan sumber pangan berkualitas tinggi yang terjangkau bagi masyarakat. Sehingga telur ini semakin diminati. Apalagi masyarakat kita ini memilih makanan yang halal, otomatis telur yang tidak ditentang dari semua agama dan suku mjadi primadona. Selain itu, telur ini seperti semacam kapsul gizi, karena coba bayangkan telur ini sumber kehidupan. Itu poin yang mjadi sumber modal jual telur. Sehingga bisa kita lihat hampir di semua kulkas masyarakat ada telur. Mungkin lebih dari 80% punya simpanan telur. Dengan 1000 kita bisa dapat telur. Dibadning sumber makanan lain, kita susah loh dapetin yang setara gizinya sama telur dengan harga yang sama. Telur masuk sembako karena dari sisi gizi, distribusi, dsb ini mjadi primadona. Sekarang kita tahu, sorry bukannya mau menjudge pemerintah lagi, secara umum rata-rata dengan penduduk 230juta ini, berapa orang yang miskin. Untuk mengurangi jumlahh ini, kita harus bikin masyarakat kita mjadi cerdas dulu. Kemudian kita bikin wajib belsajar. Tapi paling nggak, genetiknya ini diperbaiki dulu, dengan cara konsumsi protein hewani sebagai zat utama pembentuk otak. Ini poin utama. Terkadang pemerintah ni lupa, jangan sekedar ngsajarin. Sorry, kalau gak punya bakat, gizinya kurang ya susah. Paling murah ya makan telur ini lebih banyak.

Untuk dapetin keadaan yang mencukupi itu makanlah telur 2-4 butir per hari. Itu akan mencukupi kebutuhan gizi. Tapi keadaannya sekarang, konsumsi masyarakat Indonesia masih 80 butir per kapita pertahun. Artinya, 4 hari sekali kita baru makan 1 butir telur. Jadi, kalau kita lihat dari data itu, konsumsi telur kita masih bisa naik sampe 16 kali untuk dapetin ideal tadi. Produksi nasional saat ini skitar 900 ribu ton/tahun. Kalau kita mau ideal, perlu dikali 16 jadi 14,4jt ton. Ada investasi besar. Kalau 100 juta kali 125 jadi 12,5triliun yah. Kalau dikalikan 16nya lagi brati sekitar 200 triliun investasi. Berapa banyak lapangan kerja yang tercipta. Dengan 900 ribu ton saja tercipta 240 ribu lapangan pekerjaan yang langsung di bidang peternakan. Brarti akan nambah sekitar 4 juta lapangan pekerjaan lagi. Belum lagi yang related, jagung. Butuh 20 juta ton jagung. Kita butuh kira-kira hampir 5 juta lapangan pekerjaan lagi. Jadi total ada 9 juta lapangan pekerjaan lagi yang akan ada. Kalau programnya jelas, bisa jadi gak ada yang nganggur lagi di bumi tercinta.

Kan gak bisa ningkatin seenaknya saja 16 kali lipat?

Kita harus munculkan dulu, hey ini ada produk bagus, mari kita konsumsi lebih banyak. Tapi di sini kita harus punya target. Target 20 tahun kemudian kita berharap generasi kita lebih baik. Income perkapita ningkat terus sehingga konsumsinya bisa tercapai. Tentunya gak langsung jadi. Harapan kami, 16 kali lipat itu bisa terjadi dlm 40 tahun lagi.

Jadi, perubahan besar di ind petelur ini ada 2, pertama prubahan dari ayam kampung ke ras, trus perubahan dari skala kecil ke industri besar. Sampe sekarang blm ada perubahan lain, paling peningkatan produktivitas saja. Sekarang rata-rata sudah bisa di atas 85%. Pada titik tertentu bisa mencapai 97%, tapi kan kita bicara rata-rata. Itu tergantung umur. Kan kita gak bisa melihara ayam muda terus. Kalau tua produktivitasnya menurun. Puncaknya di 97%, kalau di bawah 60% sudah nombok dia. BEPunyaa skitar 63% lah, tergantung harga pakan juga.

Penyakit?

Ada saja, tapi relatif bisa dikendalikan samaua, termasuk flu burung. Gampang ngendaliinnya. Cegah dong jangan sampe kena.

Mungkin gak balik lagi ke ayam kampung?

Mungkin, tapi kan kita punya skala. Bisa saja penelitian focus ningkatin produkstivitas ayam kampung.

Segi gizi ayam kampung dengan ras?

Gak ada bedanya, psikologis saja orang bilang telur ayam kampung bikin sehat.

Bisnis ayam petelur ini murah?

Gak, mahal! Risikonya memang relatif lebih kecil. Di sini skala kecil bisa seperti di blitar. 300-1000 ekor masih banyak. Tapi kan semakin besar kita bisa semakin efisien. Jadi, segala segmen bisa sebetulnya.

Pasar, selain untuk konsumsi langsung?

Konsumsi rumah tangga sekitar 90%, sisanya masuk ke industri bakery. Tapi memang sekarang kita sedang bertarung dengan tepung telur impor. Jangan sampe itu menggerogoti pasar kita. Makanya saya senang kemarin Fahmi Idris sama Marie Elka bilang produksi dalam negeri diutamakan terkait dengan krisis global ini. Bayangkan kalau kita impor, bisa ngabisin devisa, lapangan kerja juga tergerus. Bukan berarti petani ini minta dikasihani terus, tidak, tapi kita bicara perang yang setara. Jangan sampe seperti Haiti, Ghana. Haiti jadi net importer. Ghana sekarang harus impor ayam dari Brazil dan Amerika. Itu karena mereka buka keran impor sehingga ind ayam mereka mati. Mungkin awalnya bisa dapet murah karena harga dumping, tapi kalau sudah bergantung harga bisa dimainin. Nah ketahanan nasional ini yang harus kita jaga. Bahkan, kami selalu komplein kenceng kalau bilang impor itu jalan keluar. Ini brati gak punya visi misi yang jelas, mau gampangnya saja.

Kendala?

Impor itu. Kita sangat kuatir sekali dengan dumping dari malaysia. Di sana aturan mainnya tegas dan jelas. Contoh sederhana. misalkan di sana produksi harian 500 ton, misalkan. Nah pasar di sana bisa menyerap 495 ton. sisanya 5 ton kalau dimasukion ke pasar dia kan harganya akan jatuh. Jadi, 5 ton ini dia akan buang ke Indonesia. Kalau di Indonesia harga jualnya 13 ribu, dia akan jual 12 ribu. Kalau harga kita 11 ribu dia jual 10 ribu. Dia tidak lihat cost produksinya lagi karena dia brusaha mmpertahankan harga mereka di sana stabil. Itu sering sekali terjadi.

Untunglah setahun terakhir ini kita menjaga ketatnya perbatasan kita sehingga mjadikan ini menjadi masalah politis sampai teman-teman kita samaua ngancam mau demo ke kedutaan Malaysia. Karena kalau dumping seperti gini petani kita yang sekian juta itu akan terkena imbas. Tanggung jawab siapa nih. Dumping ini ilegal, tapi di batam itu legal loh. Makanya kami berusaha mati-matian bahwa keistimewaan batam itu seharusnya dihapus untuk produk-produk tertentu. Pasar batam bisa direbut sama mereka. Memang eksesnya hanya 5juta, jauh sekali dibanding produksi kita yang 900jt, tapi jangan salah, ini produk pertanian. Ada ekses sedikit bisa ngubah harga.

Nah, kedua memang, masyarakatarakat kita ini gak mau cape ngurusin organisasi. Ya biarlah yang cape segelintir orang saja, kita jadi penumpang gelap. Ini juga mmbuat kendala, menjadi harga tidak stabil. Dengan adanya Pinsar itu kita berusaha menyatukan peternak se Indonesia.

Kita flash back ke sekitar tahun 78, sekali mereka dapet duit banyak tapi skali lagi mereka kehilangan  duit banyak, jadi usaha mereka gak maju2 terus, segitu saja, sehingga mereka gak punya daya untuk promosi. Memang di jaman orba petani jangan dibiarkan bersatu, semua dikontrol, kan gitu. Sekarang saatnya petani bertreriak membela diri. Mngapa tidak ada perkumpulan asosiasi paddi, yang ada HKTTI. Jadi tujuannya tidak fokus. Coba bikin asosiasi padi.

Produksi, kendalanya apa?

Secara umum gak ada. Begini, setiap hari peternak ayam sesudah ditraining dari pengalamannya setiap hari. Tapi memang untuk teknologi baru kita training secara berkelanjutan, ada seminar berkelanjutan, dari grup-grup kecil mereka saling mengajarkan, itu sudah jalan. Apalagi sekarang kan kami sudah ada perhimpunan dokter hewan perunggasan, kebetulan saya dewan pakarnya. Di sini kan juga terus dikembangkan untuk mengobati penyakit, memperbaiki sanitasi, dst. Itu sudah berjalan dan ada mekanisamaenya.

Telur tahan berapa lama dalam penyimpanan seperti apa?

Kalau penyimpanan baik bisa 1.5 bulan itu kalau di kulkas. Kalau di udara terbuka kita sarankan tidak lebih dari 2 minggu. Di agen kan ada FIFO, first in first out. Terus juga ada manajemen telur pecah. Karena kalau pecah, telur itu akan gampang mengalir keluar dan gampang busuk. Ini proteinnya tinggi sehingga gampang busuk.

Apa sudah mencapai pemerataan ketersiadaan?

Memang kendalanya, peternakan telur di Indonesia timur masih sedikit, banyaknya di jawa dan sumatra. Itu karena faktor dari makanannya yang diimpor lewat pelabuhan utama, yaitu Jakarta, Medan, dan Surabaya. Tapi dengan perkembangan bidang lain, pelabuhan mkasar akan tumbuh, itu akan bergeser. Memang tidak bisa instan. Kedua, penduduknya di sana kan sedikit sehingga konsumsinya juga sedikit. Mereka akan lebih efisien dari skala produksi kalau ngirim dari jawa. Itu pertimbangan masalah ekonomi saja, bukan diskriminaatif.

Teknologi Industri kita?

Kita tidak kalah dengan negara lain. Memang ada  sebagian yang kita tiru dari mereka tapi bisa kita aplikasikan di Indonesia. Kita bisa lihat bisa bikin close farm dengan baik. Kita bisa bikin modifikasi tertentu sesuai dengan iklim di Indonesia. Peternak kita rata-rata sudah mahir.

Selain daging dari ayam yang sudah tua bisa dijual, apa lagi yang bisa dijual?

Pupuknya, dari kotoran ayam ini sangat berkualitas tinggi karena masih mengandung 8% protein. Ini bagus karena nitrogennya tinggi. makanya di beberapa tmpat sperti Pengalengan dan Cisarua, petani sayur dan buah banyak minta kotoran ayam sebagai pupuk kandang. Di Lampung harganya lebih tinggi lagi, mereka pake kotoran ayam di perkebunan jagung, perkebunan ketela, dsb. Karena ini relatif murah. Kalau urea sekilo bisa sekilo tapi kalau dari kotoran ayam ini sekarung sekitar 25 kg itu harganya Cuma 10 ribu. Jadi perkilo kurang dari 500. pupuk ini juga alami jadi membuat tanah subur. Kalau pupuk kimia membuat tanah menjadi keras sehingga kualitas tanah terdegradasi. Sekarang kita sudah ada jalurnya masing untuk menyalurkan sampai ke petani. kebanyakan mereka ssudah melakukannya. Sebenarnya peternakan ayam ini zero waste, sangat ramah lingkungan.

Konsumen Indonesia Januari 13, 2010

Posted by Iqbal in budaya, pertanian, politik.
Tags: , , ,
1 comment so far

Wawancara Hartoyo, Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB

Waktu: Juli 2008

Hanya pasar tradisional yang menerima produk lokal dengan mudah. Dok: Iqbal

Konsumen Indonesianesia dalam menanggapi produk Indonesia?

Ini pertanyaan yang susah. Kita sebagai konsumen sebetulnya tergantung keadaan sosial ekonominya. Konsumen Indonesia lebih suka dengan produk-produk luar negri justru. Studinya memang belum dilakukan. Tapi kalau kita lihat fenomena produk impor buah-buahan. Misalnya konsumen dihadapkan dengan produk jeruk saja. Ketika jeruk medan berhadapan dengan jeruk mandarin. Orang akan lebih suka jeruk mandarin. Problemnya memang kadang-kadang itu harganya, rasanya, mungkin juga karena gengsinya. Orang membeli produk luar itu terlihat lebih bergengsi. Kemudian fenomena lain, kalau konsumen Indonesia ingin membeli alat atau sparepart, ada pilihan lokal, Taiwan, Jepang. Kemudian orang berpikir bahwa lokal persepsinya adalah murah dan kualitasnya rendah. Sehingga orang kemudian cenderung beli yang lebih mahal dengan anggapan kualitasnya lebih bagus walopun belum tentu juga. Jadi, kadang-kadang memang banyak faktor yang membuat produk impor lebih disukai. Yang ada di benak masayaarakat harga murah kualitas rendah harga tinggi kualitas bagus, walopun blom tentu. Ini hanya persepsi konsumen. Ini terbentuk karena ada pngalaman sbelumnya, dan karna ada informasi dari masayaarakat juga.

Jadi, gimana cara kita membangun cinta produk dalam negeri?

Memang harus ada dari dua sisi. Pertama dari sisi produknya, kualitasnya harus lebih baik. Kmudian pmerintah harus menetapkan standar. Kemudian dari sisi konsumen harus ada kesadaran itu. Problemnya bagaimana membangun kesadaran tersebut. Kalau kami berpikir harus sejak dini, harus dari anak-anak. Diajari bagaimana anak-anak itu diajari bagaimana cinta produk dalam negeri. Dan itu memang relatif sulit. Karena memang orangtuanya juga secara sadar atau tidak mengajari itu. Coba kalau beli buah beli yang impor. Kalau membeli di pinggir jalan, banyak penipuan juga. Banyak orang yang gak suka di situ. Untuk beberapa hal kita kalah di kualitas, mungkin penanganannya kurang baik. Walaupun ada juga durian seperti semar dan petruk yang enak juga.

Program konkretnya?

Anak sebenarnya dalam keluarga sangat menentukan sekali dalam pembelian. Ada banyak penelitian yang mendukung pernyataan tersebut. Untuk beberapa barang, diputuskan merk pembeliannya itu oleh anak. Sehingga seharusnya anak diajari kalau dibawa sosialisasi ke supermarket, dicontohkan oleh ibunya beli yang produk dalam negeri. Misalnya kalau ada mainan cari yang produk dalam negeri, hehe, walopun susah ya kalau nyari mainan produk Indonesia, ada juga mahal. Kita memang harus senantiasa memberikan contoh. Anak memang sangat belajar dari usai dininya. Misalnya ketika waktu kecil anak diberikan makanan apa itu yang akan disukai. Ketika dia dikasih rasa manis, maka seterusnya dia akan suka manis. Dan juga kemudian ketika remaja, yang menjadi masalah adalah grupnya. Kadang bermerk itu yang dicari, dan yang bermerk itu punya luar negeri. Jadi, si anak bisa ditanamkan sejak dini melalui contoh atau cerita-cerita yang berkaitan dengan kecintaan thdp produk dalam negeri.

Kalau yang bisa diterapkan langsung sekarang?

Perlu juga ada pencantuman tulisan membeli produk dalam negeri akan meningkatkan apa gitu. Di luar negeri juga gitu. Jadi kita tingkatkan nasionalisamae sambil dibarengi dengan perbaikan kualitas. Buketikan bahwa kualitas dalam negeri ya sama baiknya dengan kualitas luar negeri. Ada satu hal lagi, yaitu ttg nasionalisamae. Dulu kan ada menciptakan nasionalisamae dengan P4, tapi karena imagenya jelek sehingga gak lagi ditanamkan di situ. Waktu saya di Amerika, sempet merasakan, memang ditanamkan itu. Jeleknya orang Amerika itu memang ya dunia ya mereka aja. Mungkin mereka juga dulu menanamkan dari anak usia dini.

Ada 9 pilar atau karakter untuk ditanamkan pada anak usia dini, salah satunya yaitu cinta dalam negeri, termasuk produk dalam negeri. Itu yang kami kembangkan. Harapannya, memang ke depan tercipta karakter manusia Indonesia yang baik. Ini sudah diaplikasikan. Yang dipromosikan juga dengan bu Ratna. Sembilan pilar ini diajarkan pada anak usia dini, yaitu 0-6 tahun, tapi kita lebih spesifik dari 3-6 tahun. Ini memang usia paling tepat untuk menanamkan karakter-karakter bangsa Indonesia. Kalau bu Ratna, Indonesian Herritage Foundation ini lewat SBB, Semai Benih Bangsa. Itu taman bermain. Sudah ada 400an di Indonesia. TK tapi community base. Ini memang upaya-upaya yang kami lakukan untuk cinta tanah air. Itu jangka panjang, kaitannya dengan moral.

Kemudian di konsumen sendiri harus ada pendidikan untuk mencintai produk dalam negeri. Kemudian di sisi yang lain, kbijakan supaya mmperkuat daya saing buah-buah dalam negeri harus ditingkatkan. Masa bisa jeruk dari luar negri itu lebih murah daripada jeruk medan. Bagaimana caranya supaya produk Indonesia bisa lebih bersaing, dari segi kualitas dan harga.

Perilaku konsumen orang Indonesia dibanding luar untuk kcintaan produk dalam negeri?

Sebetulnya saya belum pernah mndapatkan satu literatur, tapi ada satu studi yang berkaitan dengan country of origin, itu di Amerika kalau gak salah, sama di Turki apa kalau gak salah. Ternyata memang itu aspek yang ke berapa memang country of origin ini. Artinya, memang kalau mau beli mobil yang diperhatikan bukan ini mobil dari mana, tapi kemudian dari studi itu dia bilang bahwa country of origin itu ada kaitannya dari kualitas. Jadi, bukan asalnya dari mana tapi kualitasnya. Jadi, lebih rasional. Artinya, pendekatan untuk menciptakan rasa nasionalisame itu memang tidak semata-mata akan berhasil kalau tidak dibarengi dengan pertimbangan rasional itu tadi.

Masih penting nasionalisame gak sih?

Kalau saya, masih tetep harus dipertahankan. Memang di era pasar bebas borderless, tapi kan masih bisa disadarkan dari aspek konsumennya sendiri. Yang gak boleh itu melarang barang luar masuk. Cuma masalahnya tadi, konsumen rasional. Bagaimana kemudian, dalam pendidikan konsumen harus juga dibuketikan kualitas produk. Dengan harga yang murah dan kualitas yang baik itu kan konsumen diuntungkan.

Kan ada Gerakan nasional gemar produk Indonesia?

Saya baru tau tuh. Artinya, sosialisasi itu kurang efektif, karena terus terang aja saya gak tau apa yang dilakukan di situ, apa hanya slogan saja? Yang kedua, tadi sbenarnya kuncinya tidak hanya gerkan itu saja, harus juga dimunculkan kualitas. Dari hasil pnelitian, konsumen itu biasanya melihat kualitas. Kemudian yang kedua pertimbangannya harga. Tapi tidak dengan mempertimbangkan karena produk Indonesia maka dibeli. Satu lagi yang saya complain. Produk Indonesia itu gak ada standarnya. Kalau beli baju ukuran L nya itu beda-beda. Jadi, konsumen beli yang sudah branded, udah ada standar kualitasnya.

Supply create demand?

Yang saya liat begini, ada dua. Demand create supply, saya pikir gak begitu, tapi sebenarnya supply yang create demand. Artinya, kalau tidak ada produk impor itu orang Indonesia gak akan beli. Yang jadi masalah itu ada, didampingkan dengan produk dalam negeri. Nah, konsumen karna melihat bahwa tampilannya produk impor lebih baik, ketika hargany sama, dia milih produk impor. Jadi, bukan karna orang Indonesia mau produk impor trus datang produk impor. Tapi, karena ada produk impor maka ada yang beli. Ketika gak ada produk impor, atau mahal, maka gak akan beli tu konsumen. Tapi coba kita liat pnampilan jeruk medan, kan gak sebaik jeruk mandarin. Mnurut saya sih orang beli karna ada supplynya. Yang dijual di Indonesia itu kan kelebihannya sehingga ketika biaya produksi mereka sudah tertutupi, dijual brapapun gak masalah, daripd dia masukin lagi ke pasar dalam negerinya, bisa menurunkan harga dan image, lebih baik diekspor. Tapi saya gak ahli di dalam situ.

Karena pmerintah orientasi konsumen?

Kalaupun itu benar, apa salahnya. Kalau peemerintah mau menyediakan produk-produk murah dengan barang-barang impor sehingga produk-produk ada, sebetulnya konsumen diuntungkan di situ. Tapi kemudian itu mematikan produsen lokal. Sebetulnya konsumen juga punya hak mndapatkan produk yang berkualitas. Sehingga, kalau pmerintah membolehkan impor itu gak masalah dari satu sisi, tapi dari sisi lain, memang kalau tidak ada kebijakan yang komprehensif bisa mematikan produsen lokal. Kan bisa juga disisipi di dalam kemasan produk dalam negeri bahwa kalau membeli produk dalam negeri akan menghidupkan produsen dalam negeri, seperti di kemasan-kemasan rokok itu. Itu bisa juga jadi satu terobosan. Sehingga slogan mencintai produk dalam negeri tidak hanya sekedar slogan. Mungkin akan selalu diingat, ada manfaatnya, sambil kita tunjukkan kalau itu kualitasnya baik.

Ada satu perilaku universal, ketika kita makin makmur, orang akan mencari suatu yang lebih berkualitas, lebih prestisius, gengsi. Artinya, kita harus meningkatkan kualitas. Kampanye memang harus dilakukan juga, kampanyenya harus terstruktur. Misalnya dari anak, supaya cinta produk dalam negeri, kemudian promosi terhadap kualitas juga. Mudah-mudahan masyarakat dengan begitu akan cinta produk dalam negeri.

Yang menjadi masalah adalah ketika produk kita lebih murah dari produk impor dengan kualitas yang sama, tapi konsumen kita memilih produk impor. Konsumen kita ada kecendariungan melihat apa yang dibeli si kaya. Itu alasan kenapa di kita muncul produk-produk bermerk yang palsu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.