Konsumen Indonesia Januari 13, 2010
Posted by Iqbal in budaya, pertanian, politik.Tags: Hartoyo, IKK IPB, pendidikan anak, perilaku konsumen
trackback
Wawancara Hartoyo, Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB
Waktu: Juli 2008
Konsumen Indonesianesia dalam menanggapi produk Indonesia?
Ini pertanyaan yang susah. Kita sebagai konsumen sebetulnya tergantung keadaan sosial ekonominya. Konsumen Indonesia lebih suka dengan produk-produk luar negri justru. Studinya memang belum dilakukan. Tapi kalau kita lihat fenomena produk impor buah-buahan. Misalnya konsumen dihadapkan dengan produk jeruk saja. Ketika jeruk medan berhadapan dengan jeruk mandarin. Orang akan lebih suka jeruk mandarin. Problemnya memang kadang-kadang itu harganya, rasanya, mungkin juga karena gengsinya. Orang membeli produk luar itu terlihat lebih bergengsi. Kemudian fenomena lain, kalau konsumen Indonesia ingin membeli alat atau sparepart, ada pilihan lokal, Taiwan, Jepang. Kemudian orang berpikir bahwa lokal persepsinya adalah murah dan kualitasnya rendah. Sehingga orang kemudian cenderung beli yang lebih mahal dengan anggapan kualitasnya lebih bagus walopun belum tentu juga. Jadi, kadang-kadang memang banyak faktor yang membuat produk impor lebih disukai. Yang ada di benak masayaarakat harga murah kualitas rendah harga tinggi kualitas bagus, walopun blom tentu. Ini hanya persepsi konsumen. Ini terbentuk karena ada pngalaman sbelumnya, dan karna ada informasi dari masayaarakat juga.
Jadi, gimana cara kita membangun cinta produk dalam negeri?
Memang harus ada dari dua sisi. Pertama dari sisi produknya, kualitasnya harus lebih baik. Kmudian pmerintah harus menetapkan standar. Kemudian dari sisi konsumen harus ada kesadaran itu. Problemnya bagaimana membangun kesadaran tersebut. Kalau kami berpikir harus sejak dini, harus dari anak-anak. Diajari bagaimana anak-anak itu diajari bagaimana cinta produk dalam negeri. Dan itu memang relatif sulit. Karena memang orangtuanya juga secara sadar atau tidak mengajari itu. Coba kalau beli buah beli yang impor. Kalau membeli di pinggir jalan, banyak penipuan juga. Banyak orang yang gak suka di situ. Untuk beberapa hal kita kalah di kualitas, mungkin penanganannya kurang baik. Walaupun ada juga durian seperti semar dan petruk yang enak juga.
Program konkretnya?
Anak sebenarnya dalam keluarga sangat menentukan sekali dalam pembelian. Ada banyak penelitian yang mendukung pernyataan tersebut. Untuk beberapa barang, diputuskan merk pembeliannya itu oleh anak. Sehingga seharusnya anak diajari kalau dibawa sosialisasi ke supermarket, dicontohkan oleh ibunya beli yang produk dalam negeri. Misalnya kalau ada mainan cari yang produk dalam negeri, hehe, walopun susah ya kalau nyari mainan produk Indonesia, ada juga mahal. Kita memang harus senantiasa memberikan contoh. Anak memang sangat belajar dari usai dininya. Misalnya ketika waktu kecil anak diberikan makanan apa itu yang akan disukai. Ketika dia dikasih rasa manis, maka seterusnya dia akan suka manis. Dan juga kemudian ketika remaja, yang menjadi masalah adalah grupnya. Kadang bermerk itu yang dicari, dan yang bermerk itu punya luar negeri. Jadi, si anak bisa ditanamkan sejak dini melalui contoh atau cerita-cerita yang berkaitan dengan kecintaan thdp produk dalam negeri.
Kalau yang bisa diterapkan langsung sekarang?
Perlu juga ada pencantuman tulisan membeli produk dalam negeri akan meningkatkan apa gitu. Di luar negeri juga gitu. Jadi kita tingkatkan nasionalisamae sambil dibarengi dengan perbaikan kualitas. Buketikan bahwa kualitas dalam negeri ya sama baiknya dengan kualitas luar negeri. Ada satu hal lagi, yaitu ttg nasionalisamae. Dulu kan ada menciptakan nasionalisamae dengan P4, tapi karena imagenya jelek sehingga gak lagi ditanamkan di situ. Waktu saya di Amerika, sempet merasakan, memang ditanamkan itu. Jeleknya orang Amerika itu memang ya dunia ya mereka aja. Mungkin mereka juga dulu menanamkan dari anak usia dini.
Ada 9 pilar atau karakter untuk ditanamkan pada anak usia dini, salah satunya yaitu cinta dalam negeri, termasuk produk dalam negeri. Itu yang kami kembangkan. Harapannya, memang ke depan tercipta karakter manusia Indonesia yang baik. Ini sudah diaplikasikan. Yang dipromosikan juga dengan bu Ratna. Sembilan pilar ini diajarkan pada anak usia dini, yaitu 0-6 tahun, tapi kita lebih spesifik dari 3-6 tahun. Ini memang usia paling tepat untuk menanamkan karakter-karakter bangsa Indonesia. Kalau bu Ratna, Indonesian Herritage Foundation ini lewat SBB, Semai Benih Bangsa. Itu taman bermain. Sudah ada 400an di Indonesia. TK tapi community base. Ini memang upaya-upaya yang kami lakukan untuk cinta tanah air. Itu jangka panjang, kaitannya dengan moral.
Kemudian di konsumen sendiri harus ada pendidikan untuk mencintai produk dalam negeri. Kemudian di sisi yang lain, kbijakan supaya mmperkuat daya saing buah-buah dalam negeri harus ditingkatkan. Masa bisa jeruk dari luar negri itu lebih murah daripada jeruk medan. Bagaimana caranya supaya produk Indonesia bisa lebih bersaing, dari segi kualitas dan harga.
Perilaku konsumen orang Indonesia dibanding luar untuk kcintaan produk dalam negeri?
Sebetulnya saya belum pernah mndapatkan satu literatur, tapi ada satu studi yang berkaitan dengan country of origin, itu di Amerika kalau gak salah, sama di Turki apa kalau gak salah. Ternyata memang itu aspek yang ke berapa memang country of origin ini. Artinya, memang kalau mau beli mobil yang diperhatikan bukan ini mobil dari mana, tapi kemudian dari studi itu dia bilang bahwa country of origin itu ada kaitannya dari kualitas. Jadi, bukan asalnya dari mana tapi kualitasnya. Jadi, lebih rasional. Artinya, pendekatan untuk menciptakan rasa nasionalisame itu memang tidak semata-mata akan berhasil kalau tidak dibarengi dengan pertimbangan rasional itu tadi.
Masih penting nasionalisame gak sih?
Kalau saya, masih tetep harus dipertahankan. Memang di era pasar bebas borderless, tapi kan masih bisa disadarkan dari aspek konsumennya sendiri. Yang gak boleh itu melarang barang luar masuk. Cuma masalahnya tadi, konsumen rasional. Bagaimana kemudian, dalam pendidikan konsumen harus juga dibuketikan kualitas produk. Dengan harga yang murah dan kualitas yang baik itu kan konsumen diuntungkan.
Kan ada Gerakan nasional gemar produk Indonesia?
Saya baru tau tuh. Artinya, sosialisasi itu kurang efektif, karena terus terang aja saya gak tau apa yang dilakukan di situ, apa hanya slogan saja? Yang kedua, tadi sbenarnya kuncinya tidak hanya gerkan itu saja, harus juga dimunculkan kualitas. Dari hasil pnelitian, konsumen itu biasanya melihat kualitas. Kemudian yang kedua pertimbangannya harga. Tapi tidak dengan mempertimbangkan karena produk Indonesia maka dibeli. Satu lagi yang saya complain. Produk Indonesia itu gak ada standarnya. Kalau beli baju ukuran L nya itu beda-beda. Jadi, konsumen beli yang sudah branded, udah ada standar kualitasnya.
Supply create demand?
Yang saya liat begini, ada dua. Demand create supply, saya pikir gak begitu, tapi sebenarnya supply yang create demand. Artinya, kalau tidak ada produk impor itu orang Indonesia gak akan beli. Yang jadi masalah itu ada, didampingkan dengan produk dalam negeri. Nah, konsumen karna melihat bahwa tampilannya produk impor lebih baik, ketika hargany sama, dia milih produk impor. Jadi, bukan karna orang Indonesia mau produk impor trus datang produk impor. Tapi, karena ada produk impor maka ada yang beli. Ketika gak ada produk impor, atau mahal, maka gak akan beli tu konsumen. Tapi coba kita liat pnampilan jeruk medan, kan gak sebaik jeruk mandarin. Mnurut saya sih orang beli karna ada supplynya. Yang dijual di Indonesia itu kan kelebihannya sehingga ketika biaya produksi mereka sudah tertutupi, dijual brapapun gak masalah, daripd dia masukin lagi ke pasar dalam negerinya, bisa menurunkan harga dan image, lebih baik diekspor. Tapi saya gak ahli di dalam situ.
Karena pmerintah orientasi konsumen?
Kalaupun itu benar, apa salahnya. Kalau peemerintah mau menyediakan produk-produk murah dengan barang-barang impor sehingga produk-produk ada, sebetulnya konsumen diuntungkan di situ. Tapi kemudian itu mematikan produsen lokal. Sebetulnya konsumen juga punya hak mndapatkan produk yang berkualitas. Sehingga, kalau pmerintah membolehkan impor itu gak masalah dari satu sisi, tapi dari sisi lain, memang kalau tidak ada kebijakan yang komprehensif bisa mematikan produsen lokal. Kan bisa juga disisipi di dalam kemasan produk dalam negeri bahwa kalau membeli produk dalam negeri akan menghidupkan produsen dalam negeri, seperti di kemasan-kemasan rokok itu. Itu bisa juga jadi satu terobosan. Sehingga slogan mencintai produk dalam negeri tidak hanya sekedar slogan. Mungkin akan selalu diingat, ada manfaatnya, sambil kita tunjukkan kalau itu kualitasnya baik.
Ada satu perilaku universal, ketika kita makin makmur, orang akan mencari suatu yang lebih berkualitas, lebih prestisius, gengsi. Artinya, kita harus meningkatkan kualitas. Kampanye memang harus dilakukan juga, kampanyenya harus terstruktur. Misalnya dari anak, supaya cinta produk dalam negeri, kemudian promosi terhadap kualitas juga. Mudah-mudahan masyarakat dengan begitu akan cinta produk dalam negeri.
Yang menjadi masalah adalah ketika produk kita lebih murah dari produk impor dengan kualitas yang sama, tapi konsumen kita memilih produk impor. Konsumen kita ada kecendariungan melihat apa yang dibeli si kaya. Itu alasan kenapa di kita muncul produk-produk bermerk yang palsu.

yup,setuju!!
kita harus bisa realistis,mendapatkan barang yang bermutu,tapi tidak mematikan produk lokal.
Akan tetapi, bgmn caranya?
apalagi pengaruh iklan televisi yang memberikan doktrin bahwa iklan menggambarkan mutu seseorang.