jump to navigation

Syarifudin Baharsyah: Data Pertanian Membingungkan Januari 28, 2010

Posted by Iqbal in pertanian, politik.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Wawancara Syarifudin Baharsyah, mantan Menteri Pertanian periode Orba

Februari 2009

Di Kediamannya di Pondok Indah

Kata Pak Bungaran, saat ini keadaannya excess demand sehingga petani dapat harga yang lebih baik, paling tidak dibanding tahun 80an?

Apa betul? Haha. Karena bagi saya tahun 2008 ini adalah tahun yang cukup membingungkan. Di TV kita lihat bahwa selalu ada laporan-laporan, pernyataan produksi yang meningkat yang luar biasa juga ini ya kalau produksi pangan terutama beras dari tahun ke tahun meningkat dengan peningkatan tinggi, 4-6 tahun, dari tahun ke tahun ya, buat saya itu luar biasa.

Bapak percaya data itu gak?

Pada waktu saya Mentan mengusahakan itu sangat sulit mencapai kenaikan-kenaikan yang tinggi berturut-turut setiap tahun. Saya capai kenaikan yang tinggi itu setelah tahun kering, setelah terjadinya el nino, karena pada saat el nino tingkat kenaikannya turun. Tapi untuk mempertahankan produksi ini terus menerus tinggi saya kagum gitu. Sementara saya belum melihat ada perbaikan-perbaikan dalam penyaluran pupuk. Ada kejadian truk-truk yang ngangkut pupuk distop sama petani untuk dibeli, untuk dibeli bukan dirampok. Saya juga dapat info dari para petani yang tergabung dalam katena (?), stok pupuk di gudang-gudang itu juga banyak. Jadi gambarannya adalah pupuk banyak di gudang, lalu lintas pupuk ramai tapi petani gak kebagian pupuk untuk musim tanam. Tapi produksi naik terus. Kagum juga saya ini. Sementara itu pengetahuan juga ini, lahan kita untuk pertanian makin lama makin surut, begitu juga sarana irigasi, kalau betul-betul yang dapat berfungsi hanya 40%, kemudian teknologi yang masih memakai teknologi lama, ada memang kejutan-kejutan teknologi yang betul ada juga kejutan yang tidak betul. Tapi bisa dibilang teknologi yang dipakai petani saat ini 80% masih teknologi IRRI tapi tidak ditunjang dengan pupuk yang cukup, irigasi yang baik.

Saya menangkap dari omongan bapak sepertinya bapak curiga dengan data yang ada?

Haha. Kan sudah waktunya kita meninjau kembali sistem pelaporan data kita. Saya ingat waktu itu sekitar tahun 75 itu kita memperbaiki sistem pelaporan data pertanian. Waktu itu ada 3 jenis pelaporan, yaitu dari deptan, BPS, dan fakultas-fakultas pertanian. Lalu yang mana yang betul, akhirnya ditunjuk satu sajalah, data BPS itulah. Nah ini yang perlu dilihat kembali. Ada beberapa perbaikan yang saya rasa harus diperbaiki, pertama, yang melaporkan tidak perlu bertanggung jwb terhadap apa yang dilaporkan. Yang melaporkan jangan dihukum kalau (data) yang dilaporkannya itu kurang baik. Yang kedua, yang terutama adalah, mungkin ada cara-cara pengambilan data di lapangan yang harus juga diperbaiki. Kalau data produktivitas, sejauh itu masih ada pembinaan-pembinaan yang dapat dipertanggungjwbkan, itu masih bagus datanya. Yang sulit itu adalah luasan-luasan, seperti luas tanah, luas panen. Ini yang sulit. Padahal seharusnya kita sudah berani menggunakan teknologi-teknologi yang canggih, teknologi pengindariaan jauh yang katanya dua titik dari jarak beberapa meter saja bisa dihitung.

Mungkin terlalu mahal Pak, kita subsidi pupuk saja sulit?

Haha. Sistem itu juga yang skarang berjalan, ada noda-noda yang memungkinkan terjadinya interfensi-intervensi. Dari dulu intervensi ini juga banyak. Ada peluang intervensi. Yang teknologi itu saya rasa sudah saatnya kita beralih ke yang lebih canggih, saya rasa tidak terlal mahal. Jadi, Anda mancing terus saya percaya apa nggak. Haha. Buat saya itu ajaib aja, keadaannya kenaikan baik dari tahun ke tahun, dibandingkan prestasi saya jelek betul. Haha. Saya bersyukur saja kalau data itu betulbetul tercapai.

Tapi NTP katanya naik terus tuh pak?

Kita ini dalam keadaan krisis, sebelum itupun, saya dapat info dari Mentan, ada pujian lah ya dari FAO bahwa kita bisa menstabilkan harga beras. Seberapa jauh itu berarti kenaikan dari NTP. Kalau sementara itu harga bahan bakar, pupuk, dan obat-obatan, keperluan yang lain-lain ini tetap naik. Harus diyakinkan betul ke saya kalau nilai tukar petani ini naik (karena keadaannya kontras). Hehe. 2008 buat saya agak membingungkan juga. Termasuk yang dikatakan bulog bahwa cadangan kita lebih dari 3 juta ton, cakep betul itu. Petani ini sampai sekarang masalahanyaa di situ, di pupuk. Kalau kita lihat pertanian yang lebih luas dari itu, maka tentu belakangan ini keprihatinan terhadap turunnya harga ekspor produk-produk pertanian seperti kelapa sawit terutama. Karena tadinya berkibar sekali kan.

Gula belakangan ini tetap saja masih diricuhkan dengan impor gula rafinasi. Kasihan. Kasihannya sistem memadukan kerja sama dengan petani tebu dan industri gula, sedang bagus-bagusnya Jatim itu. Bagus sekali. Karena sejak pada waktu kita merubah sistem sewa dengan sisem intensifikasi bersama dengan petani, itu merupakan jadi suatu kekompakan yang bagus antara petani tebu dan industri gula. Bahkan sekarang ada masalah gula rafinasi.

Tapi sudah diblok pak oleh pemerintah?

Iya diblok tapi belakangan sekali. Haha.

Dibandingkan dengan zaman Bapak dulu, posisi pertanian Indonesia di mata internasional saat ini meningkat atau menurun?

Saya mengalami keadaan dimana posisi pertanian kita terhormat. Kalau pas saya di tahun 98, ketika saya hampir selesai sebagai Mentan, saya terpilih mjadi ketua (….) di FAO. Ini bukan karena pribadi saya tapi karena martabat pertanian Indonesia sedang terpandang sekali.

Faktor apa saja yang buat kita terpandang waktu itu?

Swasembada beras. Kemudian walaupun ekonomi waktu itu sedang dipacu ke industri tapi kita mencoba mempertahankan tidak terlalu jeleklah prestasi dari pertanian. Walaupun kita waktu itu bisa berpikir dengan lebih relaks tentang swasembada pangan, ketahanan pangan, apabila diperlukan tidak ada salahanyaa kita mengimpor. Tapi yang jelas waktu itu kita terpandang sekali. Ya mungkin belakangan bahwa dikatakan gejolak pangan di Negara kita tidak terlalu berat, di saat Negara lain bergejolak. Jadi, saya angkat topilah. Cuma kebingungan saya ini ya faktor-faktor yang seharusnya mendukung saya belum melihat perubahan. Mungkin juga ada 1 faktor lain, yaitu hubungan pusat dan daerah. Otonomi daerah itu tidak selalu memudahkan pelaksanaan kebijakan yang diarahkan dari pusat. Kalau dulu sudah hampir seperti komando aja kan.

Melihat ke depan, saya tetap merasa bahwa ada hal-hal yang masih potensial yang masih memerlukan penanganan yang khusus, selain daripada perbaikan yang tadi yah. Lahan kering dan lahan marjinal seperti pasang surut mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan. Ini masalahanyaa kan seperti yang tadi, subsidi pupuk, pupuk cukup atau tidak, infrastruktur. Itu sayang sekali. Kalau ibu ditanya maka ibu selalu akan mengarah ke keberagaman pangan. Saya kira juga yang harus mjadi perhatian. Bukan hanya dikatakan tapi juga diprogramkan.

Ada dua hal lagi yang perlu menjadi perhatian. Pertama adalah teknologi revolusi hijau yang sekarang kita pakai masih skitar 80%, harus ada teknologi baru. Ada dua teknologi besar yang bisa dikembangkan, yaitu hibridisasi dan rekayasa genetik. Dari dulu kita menentang genetic, GMO  itu. Saya rasa tidak bisa tidak, arahanyaa harus ke situ. Kita lihat bahwa, bagi saya dua-duanya itu sangat penting. Hibridisasi itu masih memberikan peluang kenaikan yang cukup baik. Memang agak sulit padi yang tropis itu menghasilkan hybrid, tapi bukan mustahil. Barangkali memang, kita harus memberikan penghargaan yang baik untuk para peneliti. Karena penelitian hybrid itu jauh lebih kompleks. Memerlukan upaya yang perlu didukung dengan baik sekali. Kalu yang dimodifikasi genetic itu jugan terlalu takutlah. Kita kan sudah barangkali 10 tahun memakan kedelai hasil genetic itu, kita gak ada masalah tuh. Tapi kalau kita bicara benih itu harus ada protkol yang perlu dipatuhi untuk menyalurkan GMO itu yah sehingga meminimalkan efek ke ekologi. Dua-duanya nantinya akan mensyaratkan sistem perbenihan nasional yang ditingkatkan. Jadi kalau misalnya nanti suatu saat para peneliti kita dapat menghasilkan benih hybrid yang cukup itu memerlukan suatu sistem penyalura benih yang agak lain. Begitu juga kalau penelitian dari bioteknologi kita mengasilkan genetic. Karen risikonya bukan main. Kalau kita bicara teknologi ada disiplin di situ. Jugan terlalu cepat disebarkan. Teknologi itu tidak ada jalan pintasnya.

Nah yang keetiga, saat ini ada suatu perkembangan investasi di Merauke untuk pertanian. Daerah itu memang mengandung potesi yang bagus. Walaupun barangkali para investor yang melirik ke sana tidak melihat ke pangan, tapi ke kelapa sawit bahkan beberapa waktu yang lalu ke biofuel. Boleh saja ini. Tapi di pangan ada hal yang sangat penting. Lahan yang sangat luas itu kalau mau dikerjakan, ikut sertakanlah petaninya, jugan mjadi suatu coorporat besar yang menguasai. Saya kira masih bisa diatur, sehingga manfaatnya masih bisa dirasakan petani, baik petani setempat maupun yang didatangkan ke sana.

Perkebunan. Saya pikr tidak perlu kita terlalu bersedihlah melihat harga saat ini. Kita lihat ada peningkatan dari industri hilirnya, biofuel. Itu harus dipertahankan. Sejauh biofuel itu baik dalam bentuk produknya maupun penggunaannya, tidak membahayakan ketahanan pangan kita. Mengapa tidak kita majukan. Kalau jagung itu harus berpikir betul, kita juga masih pas-pasan. Ubi kayu berpotensi. Mengapa kita hanya sepintas saja pada jarak. India sangat bersungguh-sungguh mengembangkan jarak. Kita selalu mendapat kritik dengan jarak karena kita tidak punya varietas yang baik, produktivitas yang tinggi. Tetapi mengapa tidak kita cari? Begitu banyak varietas jarak kita, seleksi saja mana yang baik. Jangan dikira masalah minyak bumi itu akan selesai, inilah waktunya. Negara lain investasinya ke biofuel sangat besar. Tebu, hati-hatilah kita. Bukan mustahil kita menggunakan side product-nya digunakan sebagai biofuel seperti yang dilakukan Brazil, kalau residunya yang kita gunakan kan tidak bertentangan. Ubi kayu kita punya potensi yang sangat besar untuk biofuel. Masyarakat kita kan tidak asing dengan ubi kayu. Coba kita lihat ubi kayu, lebih banyak produk hilirnya dari beras. Dulu kan ada gaplek, ada aci, kenapa tidak biofuel dari situ. Tidak bertabrakan dengan kebiasaan kita. Produktivitasnya memang masih rendah, tapi justru itu pertanda kita tidak sungguh-sungguh.

Yang Bapak lihat dari efek krisis global?

Pasti ada, perkebunan jelas terlihat. Pertanian pangan kita harus bersyukur karena tercukupi dengan baik, walaupun saya bingung dari mana itu, haha. Kalau sekarang kan tidak ada gejolak yang besar. Kita harus berterima kasih pada petani kita karena pencapaian tersebut.

Excess demand, Bapak setuju?

Kita harus lihat apa yang di belakangnya juga. Jelas ada penambahan konsumen. Demand itu kan bukan hanya keinginan tapi sudah ada kemampuan. Berarti excess demand pertanda kemampuan konsumen bertambah.  Ada benarnya ini baik karena petani juga kan konsumen. Yang peru dilihat juga bahwa pendapatan petani itu hanya sebagian saja yang didapat dari onfarm. Porsi pendapatan di luar pertanian itu lebih besar. Bisa kita lihat besarnya skala produksi petani kita kan kecil. Untuk menutupinya dia harus bekerja diluar, baik kerja bangunan, dagang, itulah offfarm. Kalau kemampuan naik, itu naiknya kenapa. Kalau sementara itu lapangan kerja tidak terbuka maka offfarm itu sedikit sekali menyumbang pada pendapatan petani.

Bukannya itu bagus buat petani kita karena mendapatkan harga lebih baik?

Itu yang skarang saya senang, kalau betul bulog mengatakan itu berarti bulog membeli tidak terpaku pada harga yang dipatok. Petani kan tidak mau menjual kalau harga terlalu rendah. Kalau itu mencerminkan harga-harga yang diterima petani maka itu bagus sekali. Dan bulog kan tidak perlu BPS, kita lihat saja gudang yang dia punya, jadi bulog bisa kita percayalah.

Saya curiga satu hal. Kalau kita perhatikan luasan kebun kelapa sawit. Luasan badan usaha di bawah PTP itu kan sedikit, luasan dari swasta sangat ……, tapi jugan dikecilkan pengembangan kelapa sawit dari rakyat, in besar sekali. Sementara itu saya baca dan dengar dari teman-teman, bahwa harus sudah ada perbaikan dari pupuk sriwijaya dan sebagainya.

Satu hal yang bagus sekali, pupuk organik, itu baik sekali. Pupuk organik memang tidak bisa menggantkan pupuk anorganik. Kandungan hara organik tidak sepadat pada anorganik. Kalau kita lihat yah pemupukan yang dianjurkan litbang kita, di dalamnya ada pupuk organik dan anorganik. Itu bagus sekali. Tidak pernah saya dengar Litbang menganjurkan hanya memakai pupuk organik.

Oh ada teknologi yang baik, SRI, itu sama saja seperti PTP yang dikembangkan oleh Litbang. Mereka tidak sama sekali menutup dari pupuk anorganik. Tapi SRI itu ada beberapa hal yang khas, pertanamannya hanya 1 bibit saja dalam satu lubang, dengan harapan bahwa anakannya akan banyak, dan memang betul. Pengairan juga harus diatur dengan baik, jugan digenang terus-terusan. Begitu bagus, tapi tidak semua tempat bisa dipakai. Karena pupuk organik tidak bisa didapat di semua tempat. Pengaturan irigasinya juga hrs besar, tidak bisa dilakukan satu petak saja. Claim produktivitasnya sampai 14-15 ton per Ha. Itu claim-nya. Dan itu katanya hasil di Madagaskar. Tapi kalau sudah nyampe 5-6 ton saja itu sudah bagus. Cuma jangan dipertentangkan dengan yang dilakukan dengan Litbang pertanian kita, sama saja sebetulnya. Ini juga sangat mudah. Saya senang Pak Menteri juga melihatnya bagus, tapi harus sangat diwaspadai di mana bisa dilakukan. SRI itu mengandung hal-hal yang sangat baik.

Komentar»

1. h0404055 - April 4, 2010

makasih informasinya
silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
terdapat artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar. Terima kasih.

2. Riawanti W. - Maret 31, 2012

Thanks artikelnya. Saya akan wawancara Prof. Syarifudin 2 April 2012 tentang kebijakan impor beras. Tulisan ini sangat membantu.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.