jump to navigation

Iqbal dan Tardigrada* Maret 30, 2010

Posted by Iqbal in imajinasi, islam.
Tags: , , , ,
add a comment

Tardigrada. Dok: Wikipedia

Iqbal: Hey, kamu sudah sholat Isya belum?

Tardigrada: Hehe, Aku punya cara sendiri untuk beribadah

Iqbal: Oh gitu, emang gimana?

Tardigrada: Bukan urusanmu…

Iqbal: Yoweslah, yang penting jangan lupa aja

Tardigrada: Ya nggak lah, kaumku itu punya standar ketaatan yang sama, makanya nanti di yaumul hisab gak lama urusannya, rusa yang di dunia dimakan harimau, gantian memakan harimau, tinggal balas-balasan aja. Kalau golonganmu kan panjang urusannya

Iqbal: Jadi, kamu mau bilang kalau kamu beruntung dan Aku tidak?

Tardigrada: Bukan begitu juga, cuma mau mengingatkan saja, fokus ajalah ibadah, hisabanmu itu rumit, gunung yang sekokoh itu saja gak mau mengambil amanah sebesar itu, tapi golonganmu yang lemah berani… makanya, gak usah lagi ngurus urusan orang lain, agama lain, fokus ibadah aja

Iqbal: loh kok? Aku cuma penulis ingusan, emang kapan ngutak-ngatik urusan orang lain??

Tardigrada: Hoho, tenang kawan. Mungkin bukan kamu, tapi golonganmu. Tadi malam Aku nonton Agora. Begitu jahatnya satu agama sampai membunuh orang lain yang berbeda pemahaman

Iqbal: Ah, sepertinya cara tangkapmu saja yang agak berlebihan. Pertama, menurutku film itu memang agak menyimpang, ingin menyudutkan agama kristiani dan ingin mengangkat para ilmuwan. Kedua, itu suatu hal yang wajar, mengajak orang satu pemahaman dengan kita. Aku tidak berbicara hanya masalah agama, tapi semua hal, agama hanya salah satunya. Wajar donk Susno muncul terus menjelaskan apa yang dia rasa benar untuk memperbanyak koloni cara pikir yang sama. Kurang lebih begitulah. Sama juga golonganmu, selalu ingin memperbanyak koloni, ya kan!

Tardigrada: Kenapa bilang begitu?

Iqbal: Nonton Starship Troopers donk…. Golonganmu selalu ingin memperluas koloni.

Tardigrada: Oke, memang, tapi coba pelajari lagi Biologi Umum, koloni kami hanya meningkat pesat di fase pertama, tapi menurun di fase berikutnya. Ada siklusnya sendiri. Kalau manusia kan gak ada

Iqbal: Eh, kata siapa, ada juga. Dulu SDM Indonesia menang lawan Malaysia, guru-guru Malaysia belajar di Indonesia. Sekarang Indonesia yang belajar sama Malaysia. Nanti Malaysia lagi yang belajar ke Indonesia. Itu ada siklusnya juga

Tardigrada: Haha. Kok jadi ke situ ya obrolan kita?

Iqbal: Ya abis kamu, kesannya manusia tuh jelek banget

Tardigrada: Ya memang, hehe

Iqbal: Oke Aku jelek, tapi kamu bodoh. Kamu bisa hidup di Himalaya yang tingginya di atas 6000 mdpl, kamu juga bisa hidup di laut dalam sampai 4000 meter di bawah permukaan laut. Kamu bisa hidup pada suhu di bawah 0°C dan juga di atas 100°C. Tekanan rendah bisa kamu hadapi, tekanan di atas 1200 ATM juga gak mati. Dengan kehebatan semaksimal itu kamu gak bisa nguasain dunia???

Tardigrada: Jangan sombong begitu, kawan. Memang sekarang yang terlihat manusia menguasai dunia. Apa saja bisa kalian lakukan. Tapi itu gak akan bisa terjadi kalau keharmonisan alam ini gak seimbang. Sebetulnya kamu hanya bagian dari keheterogenan itu, hanya saja kamu lebih beruntung karena diletakkan oleh Yang Maha Kuasa di puncak jaringan makanan.

Iqbal: Ah, makin kusut. Sudahlah mari kita ngopi dulu

Tardigrada: Oke, tuh ada Starbucks

Iqbal: Jangan donk, J.Co aja, produk Indonesia tuh….

Tardigrada: Yoweslah, ikut….

*Termasuk makhluk bumi yang terkuat. Tahan hidup di suhu, tekanan, dan keadaan ekstrim. Ukuran panjang maksimalnya hanya 1,5 mm.

KAR Bosscha* dan Soeharto** Imajiner Bicara Indonesia Maret 8, 2010

Posted by Iqbal in imajinasi, politik.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Soeharto. Dok: Da Nes' Flickr

Bosscha: to, apa kabar Indonesia?

Soeharto: ya gitu deh, ane udah gak mimpin sejak 12 tahun yg lalu

Bosscha: dengar2, perkebunan yg dulu ane bangun gak terawat lg ya skrg?

Soeharto: ah, gak juga, masih rapi kok… program repelita yg ane bikin termasuk meng-cover kebun buatan ente, nambah lagi program Perkebunan Inti Rakyat (PIR), jadi lebih ramai malah kebunnya

Bosscha: wah, Alhamdulillah kalau begitu… karena ane dengar, banyak kebun dibakar waktu bandung lautan api, zaman jepang jg kebun ditelantarkan

Soeharto: yah, pas itu mah ane masih bocah, gak ngerti deh…

Bosscha: ya gapapa, yg penting sekarang bagus ya… jadi nama ane masih terkenal sebagai salah satu pembangun kebun Indonesia, haha

Soeharto: wahaha, terkenal sih iya, tp ente terkenal krn teropong bintang yg dulu ente bawa

Bosscha: lah kok? Itu kan cuma hobi padahal

Soeharto: yah, terkadang memang dunia mengenal kita dari apa yg kita gak pikirkan, sangat tergantung sama pengemasan media massa

Bosscha: hehe, betul betul!

Soeharto: terkadang, ane gak habis pikir, kalian kok bisa2nya ya bangun kebun di pelosok begitu… berarti dulu harus babat hutan sekian ribu hektar, padahal macan lodaya di awal abad 20 masih ganas dan banyak pula, gak takut digigit?

Bosscha: ya itulah seninya, makanya dirawat donk kebun yg ane bikin, cape tauk bikinnya… ane bukan orang miskin, tp ane mau tinggal di tengah hutan berpuluh-puluh tahun, walaupun ane dengan mudah bisa milih hidup mewah di Belanda

Soeharto: jadi obsesinya apa tuh?

Bosscha: cari duit pastinya, tp ane jg punya cita-cita membangun Hindia Belanda, negeri tercinta, itu yg bikin ane terus semangat tinggal di Malabar, selain jg mojang priangan geulis pisan euy, hehe

Soeharto: wah wah wah, main sekong nih

Bosscha: nggak, becanda, ane cuma cinta satu gadis, krn gak bs meraihnya maka ane pilih membujang sampai mati di kebun

Soeharto: wiiiih, sedaaaap…

Bosscha: Eh, to, ane baca di Koran, ente katanya jadi musuh masyarakat ya, sampai didemo besar2an gitu?

Soeharto: ah, itu media lg yg gak berimbang… coba tanya ke kampung2, enakan zaman ane apa zaman sekarang, pasti mereka ngerasa zaman ane lebih sejahtera… coba lihat waktu ane wafat, mungkin bisa masuk rekor saking banyaknya orang yg ngelayat… itu artinya mereka cinta dan rindu sama kepemimpinan ane

Bosscha: itu kan kata ente, tapi para tapol gak pernah bisa ngelupain perlakuan ente

Soeharto: pasti selalu ada korban lah, ane mau Indonesia stabil, konsekuensinya ya mereka jd korban

Bosscha: ih, enak banget ngomongnya

Soeharto: sudahlah, mana ada tujuan tanpa pengorbanan, kita hidup di dunia yang bermain zero sum game… pengorbanan kecil hanya untuk langkah kecil… ane punya langkah besar yang menuntut pengorbanan besar…

Bosscha: ah, gak juga, ane bisa buktikan kok, coba lihat berbagai tulisan tentang ane, kelihatannya gak ada yg negatif deh

Soeharto: karena ente cuma jadi pimpinan kebun, ane satu Indonesia!

Bosscha: tp ane mimpin 38 tahun! Ente cuma 32 tahun, turunnya gak terhormat lagi…

Soeharto: ah, sudahlah, jadi debat kusir, gak cocok buat orang2 hebat kyk kita

Bosscha: walaupun hebat dalam artian negatif?

Soeharto: definisi hebat menurut ane itu bisa mempertahankan prinsip yg dia rasa benar, ane menganggap hitler hebat, juga dengan golongan Ahmadiyah, mereka mau melawan mainstream hanya untuk mempertahankan pemikiran yang mereka rasa benar… menurut ane, itu jauh lebih terhormat drpd orang2 yg cuma ikut2an mainstream, cari aman tanpa ada dasar pemikiran

Bosscha: hmmm… ya, boleh jg pemikirannya

Soeharto: Coba lihat proyek mercu suar Soekarno, dulu cercaan gak ada habis2nya ttg proyek itu, tp skrg, siapa yg gak kagum dgn indahnya jalan semanggi? Orang Indonesia mana yg gak bangga punya gedung parlemen se-elegan itu?

Bosscha: hehe, iya iya…

Soeharto: pembangunan kebun yang ente bikin gak ada apa2nya dibanding itu semua

Bosscha: lah, kok gitu sih, kalau kami gak bangun perkebunan, mungkin jawa barat bagian selatan sekarang masih hutan

Soeharto: bagus donk, bisa jd paru2 dunia, bisa jualan karbon lg

Bosscha: iya bagus, tp penduduknya hidup merana, gak ada listrik, jalan hancur, mau?

Soeharto: iya deh, memang banyak hal positif yang Indonesia dapat karena dijajah Belanda, tapi ya itu tadi, zero sum game, korbannya mental orang Indonesia jadi mental terjajah, feodalisme yg kalian bawa jd merasuk kuat

Bosscha: Zero sum game, betul juga ya…

*Karel Albert Rudolf Bosscha, Administratur (pemimpin perkebunan) Malabar pertama, lebih dikenal sebagai astronomis dengan teropong bintangnya, memimpin kebun tahun 1890-1928

**Presiden kedua RI, memimpin RI tahun 1966-1998

Tags:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.