jump to navigation

Ali Khomsan Komentari Gizi Indonesia Juni 18, 2010

Posted by Iqbal in pertanian.
Tags: , , , ,
trackback

Wawancara dengan Ali Khomsan

April 2008

Di Ruang Kerjanya di Institut Pertanian Bogor

Apakah Indonesia berdaulat pangan?

Kedaulatan kita ini kan masih naik turun, belum mantap. Tahun ini tidak impor tahun depan impor lagi. Jadi, kedaulatan pangan kita masih rapuh. Kalau masih rapuh, jangan main-main dengan ekspor yang menggiurkan, bagi petani juga menggiurkan.

Apa posisinya sekarang Indonesia menjadi net importir?

Ya, betul, kita ini masih importer, sejak tahun lalu masih importer. Koran beberapa hari lalu bilang kita akan surplus, tapi itu kan angka prediksi. Angka ramalan yang belum menjadi realitas. Kalau itu dipakai kita bisa kepeleset. Itu rawan.

Jadi gimana kita mengukur kedaulatan?

Sebetulnya pemerintah sudah punya kebijakan ekspor impor. Masalah terjadi penyelundupan itu di luar. Bulog bisa mencatat ekspor impor dengan baik, di luar penyelundupan. Intinya, saat ini kedaulatan pangan sangat penting dibanding sekedar ketahanan pangan. Karena ancaman pangan ini terjadi di seluruh dunia. Bahkan, Inggris saja sudah kalang kabut. Apakah ini efek dari global warming atau penggunaan biofuel. Itu yang menyebabkan tekanan besar terhadap produk pangan.

Langkah ke kedaulatan?

Kita harus tahu keadaan pertanian Indonesia. Wilayah yang mendominasi kan Jawa. Maka ketika dulu Pak Harto ingin membuka lahan sejuta hektar, kita kan optimis kalau itu akan terjadi. Kemudian, sebagian diolah oleh transmigran di sana. Tapi Pak Harto keburu lengser, akhirnya program itu ditinggalkan gitu saja. Lahan gambut itu kan besar juga, artinya teknologi harus mampu menundukkan alam yang lain daripada yang di Jawa. Mungkin teknologi mampu, tapi kemudian kebijakan berubah sehingga itu tidak menjadi prioritas. Lumbung padi tidak hanya di Jawa, misalnya Makasar, Ambon (P.Buru). Intinya konversi lahan didengungkan terjadi. Konversi lahan untukperumahan industri banyak terjadi di Jawa sehingga menggerus lahan-lahan pertanian. Kebijakan Deptan penting untukmeluaskan lagi lahan-lahan pertanian yang bisa digarap petani. Kalau itu tidak terjadi, kita hanya bermain di lahan yang sudah dikuasai petani saja. Berbisnis pertanian itu untungnya tidak terlalu menggebirakan. Kalau petani sekarang ini mau mempertahankan diri dari kerugian keuntungan yang sangat minim, itu karena perasaan ayem (tenang). Kalau udah ada panen padi udah tenang, meskipun tenaga kerja yang dicurahkan itu luar biasa. Ketenangan itu yang membuat kita survive, tidak ada gejolak nasional yang signifikan. Sbagian mungkin tergiur, tapi yang tidak tergiur itu bertahan dengan beras.

Kalau jaman Pak Harto yang membuat kita smua makan beras itu terobosan pak?

Itu bukan kebijakan Pak Harto. Orang makan beras karena rasanya yang enak, bukan karena revolusi hijau. Kemudian, beras itu gizi proteinnya paling tinggi dibanding karbohidrat yang lain, terutama umbi-umbian. Jadi, kalau sekarang orang Jawa disuruh makan singkong dan sagu supaya tekanan terhadap beras dikurangi. Orang Jawa makan singkong sama tempe kurang gizi mereka. Tapi kalau orang Maluku kan makan sagu dan ikan. Ikan itu kan luar biasa proteinnya. Orang Jawa susah kalau disuruh makan ikan. Itu kalau tidak disertai karbohidariat berprotein tinggi seperti beras dan terigu bisa kekurangan gizi. Jadi, kalau diversifikasi pangan hanya untuk menggeser beras dengan makan umbi-umbian saja itu saya kurang setuju. Diversifikasi pangan akan terjadi dengan sendirinya terhadap orang yang sudah makmur hidupnya. Tekanan pada nasi bisa berkurang pada orang yang makmur hidupnya.

Tentang orang daerah yang dikembalikan ke pangan pokok awal dulu, mis: papua ke umbi?

Saya kira itu masih bisa dipertahankan, terutama pada suku-suku yang fanatik pada makanan pokok itu. Tapi ketika kita paksakan orang Jawa makan singkong, jagung itu ke beras. Mereka lebih mudah menggeser jagung ke beras daripada beras ke jagung karena rasa dan kebiasaan yang sudah bertahan lama. Bisa berubah tapi sangat lama. Buktinya, fastfood restaurant yang bisa bikin orang tidak suka burger jadi suka burger. Pola makan bisa diubah tapi butuh proses yang lama. Tapi dengan sosialisasi besar-besaran itu bisa.

Diversifikasi skala mikro?

Sy mengharapkan diversifikasi itu penganekaragaman menu. Bukan hanya mngganti beras. Tapi bagaimana kita bisa mengakses 4 sehat dengan cukup. Kalau bisa mengakses 4 sehat itu adalah kedaulatan pangan di tingkat rumah tangga. Tanpa susu pun sudah luar biasa. Oleh karena itu, di tingkat keluarga, kita bicara tentang diversifiksai diet. Kalau di tingkat makro baru diversifikasi pangan pokok. Dengan kesejahteraan yang meningkat, diversifikasi berjalan dengan sendirinya. Contohanyaa, Jepang makan cuma 60kg, kita 130kg. Sama-sama makan nasi. Kenapa bisa? Karena Jepang makan seafood, soy yang banyak. Itu semua memberikan substitusi terhadap beras. Jepang itu tidak pernah berdaulat pangan. Mereka mngandalkan impor. Kalau Amerika itu justru surplus beras terus. Mereka tidak pernah meninggalkan pertanian. Kalau Jepang memang karena ekologinya tidak sesuai. Lah kalau kita industri bukan, pertanian juga kembang kempis.

Kalau kawan-kawan kita di Indonesia Timur, lebih banyk makan beras atau pangan lain?

Sedikit yang mau mngonsumsi pangan nonberas. Maluku itu tidak semuanya nonberas. Sebagian pernah merasakan nikmatnya beras. Papua juga. Tapi yang pelosok masih umbi-umbian. Tapi Maluku itu sudah jauh lbih maju.

Dulu kan sering disalahkan bahwa pemerintah orba mmberikan PNS beras 1 kepala 10 kilo yang itu dianggap mmbuat orang Indonesia makin cinta beras. Keputusan itu mungkin karena kita dulu selalu surplus beras.

Rasio jumlah penduduk dengan lahan pemroduksi beras?

Masih cukup waktu itu. Kalau dihitung 1 kepala 10 kilo kemudian anaknya 5 jadi 50 kilo. Itu sudah cukup bagus. Sekarang sudah digantikan uang. Tapi saya tidak bisa menyalahkan karena kalau pegawai negeri ditanya mau beras atau uang maka jawabannya uang karena berasnya jelek. Tapi kebijakan waktu itu mewajibkan terima beras bagaimanapun kualitasnya. Mungkin dulu dibagikan beras dengan tujuan biar pegawai negri merasa aman dulu. Kalau di rumah itu sudah ada beras rasanya tenang.

Dengan kondisi Maluku dan Papua sudah menikmati bereas apa bisa disosialisasi untuk balik ke pangan yang dulu?

Bisa, sagu dan umbi-umbian sbetulnya masih dikangeni oleh mereka. Karena kalau di kota besarnya, Ambon, mereka bisa menikmati bapeda (?) yang terbuat dari sagu, dan itu benar-benar bisa dinikmati. Seperti halnya orang gn.kidul makan gaplek, tiwul. Nah, mereka itu masih bisa menikmati. Kapan? waktu kepepet. Orang gn.kidul itu mnikmati gaplek waktu musim paceklik tidak ada beras. Waktu beras lancar lagi ya balik lagi ke beras. Tapi sbetulnya mereka digiring ke gaplek mau. Tapi orang Jabar mau tidak digiring ke gaplek? tidak mau, karena tidak ada budaya. Karena tekanan yang dihadapi orang-orang kidul itu jauh lbih berat dari tekanan yang dihadapi orang-orang Jabar. Krisis pangan, iklim yang keras itu mmbuat mereka mau tidak mau terima makan nonberas. Mungkin di daerah bagian timur, nusa tenggara, mereka masih bisa menikmati jagung. Jadi, perubahan ini intinya memungkinkan bagi yang belum banyak mengalami perubahan pergeseran dan itu mereka masih punya perasaan kangen dengan makanan itu.

Sosialisasi?

Jelas perlu, lakukan sosial marketing lagi tentang pentingnya diversifikasi makanan pokok.

Apa sih makanan pokok yang gizinya paling mendekati beras?

Terigu, tapi kita kan impor, jadi bahaya, karena tekanan terhadap gandum juga besar di tingkat internasional. Tetapi, keadaannya berbeda ketika kita mendatangkan jagung dengan mendatangkan beras. Kalau mndatangkan gandum, petani tidak ada yang merasa tersaingi, tidak ada gejolak di petani. Tidak demikian dengan jugaung. Karena petani kita tidak mau bersaing dengan pasar internasional. Selain gandum ya jagung, tapi akan bersaing dengan pakan ternak atau biofuel. Pasti akan terjadi. Di kita dulu yang banyak makan jagung di Madura. Selama ini jagung cuma jadi snack food saja. Kalau singkong atau sagu itu bisa-bisa saja tapi dengan tambahan makanan yang punya protein tinggi.

Kalau makanan yang mengandung Protein tinggi tapi murah?

Tidak ada yang murah! Selama kita mengalami gejolak pangan besar, inflasi nilai uang turun, dan akhirnya daya beli rendah itu berdampak ke gizi masyarakat. Sekarang semua mahal. Solusinya ya daya belinya ditingkatkan. Dari dulu daya beli kita rendah terus. Tapi kita termasuk bangsa yang ajaib lah. Dengan gaji kurang bisa nyekolahin anak, bisa beli mobil.

Konsumsi rata-rata Indonesia?

Sangat kurang gizinya. Sbetulnya dalam sehari bisa makan sekali komplit 4 sehat itu sudah bagus. Sebetulnya tidak bisa dibilang harus makan daging brapa dalam sminggu supaya cukup gizinya. Dari aspek kesehatan kan butuh rotasi makanan, bervariasi. Protein hewani jauh lebih bagus dari protein nabati. Tugas pemerintahlah buat ngatur harga-harga itu supaya tidak terlalu mencekik leher masyarakat.

Orang bisa dinilai dari kalsium?

Kecukupan gizi butuh 800-1200mg kalsium per hari tergantung usia. Di Indonesia kecukupn kalsium tidak bisa diandalkan dari daily product. Kita tidak suka makan susu dan keju. Akhirnya diambil dari sayur-sayuran, bayem, kangkung. Jadi, kalau asupan kalsium dari hewani kurang itu juga bisa dinilai kurang sejahtera.

Zat besi?

Dampak kekurangan kalsium tidak serius-serius amat. Kalau kurang Fe itu orang jadi lemas, ngaruh ke produktivitas orang. Ibu-ibu hamil yang anemia karena kekurangan Fe di Indonesia mencapai 40%, anak2 sekolah 30-40%. Ini jadi masalah nasional karena dampaknya terhadap produktivitas akademik achievement dan sebagainya. Maka pmerintah memerangi itu dengan membagikan tablet besi gratis pada ibu-ibu hamil selama 3 bulan kehamilannya. Anak-anak sekolah tidak memperoleh treatment. Ibu-ibu hamil kan ngaruh ke anaknya jadi diprioritaskan.

Scara umum, gimana pola konsumsi masyarakat Indonesia?

Ada yang namanya skor pola pangan harapan, maksimal nilainya 100. Indonesia nilainya 70. Nilai ini didominasi dari karbohidariat. Jadi, kita banyak makan karbo dikit lauk. Skor ini sekarang di Deptan selalu menjadi analisis untuk menunjukkan keragaman pangan Indonesia. Saya tidak punya angka dari negara lain. Tapi yang jelas, konsumsi pangan-pangan hewani di Asia Tenggara, kita kalah. Dengan Filipina, Thailand, Singapura kita kalah terus. Tapi dari Vietnam menang dikit. Ini akan berpengaruh pada kualitas fisik. Kalau orang tinggi mencerminkan gizi bagus. Kenaikan tinggi badan balita itu jadi indiktor. Orang tinggi itu biasanya sehat dan cukup gizinya waktu kecil dulu.

Pola makan itu slain terpengaruh dari faktor ekonomi ada pngaruh lain?

Ada. Faktor-faktor minor di luar ekonomi banyak, sperti sosio budaya, pengetahuan, pengaruh dari orang-orang sekitar. Misalnya, ibu hamil jangan makan ikan, nanti bau anyir, padahal ikan itu sumber nutrisi yang baik untuk pembentukan otak. Mengapa timbul mitos seperti itu? mungkin karena dulu harga ikan mahal.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.