jump to navigation

Paling Gampang Keruk PAD dari Alam Maret 6, 2011

Posted by Iqbal in budaya, lingkungan, politik.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Suryo Hadi Wibowo (bagian 1)

Dosen IPB

Maret 2009 di Bogor

Partai mana yang paling melek dengan isu lingkungan?

Paling PKB yang mengclaim dia partai hijau tapi dia sendiri tidak tahu apa itu partai hijau, kan gimana.. Esensi dari partai hijau itu apa yang dia belum ketahui, tapi dia mengclaim dirinya partai hijau.

Jadi, dari sekian partai itu tidak ada yang serius?

Tidak ada. Soalnya jangan kamu bayangkan lingkungan hidup itu pencemaran dan kualitas air. Itu salah satunya saja. Justru esensinya adalah kemiskinan akibat dari sumber daya alam. Kemiskinan karena kebijakan akan sumber2 alam. Air, hutan, sungai, besi, kebijakan2 partai itu kan tidak ada, yang ada kan kebijakan2 partai yang sudah jadi menteri, gubernur, bupati.

Di metro itu saya bilang waktu penutupan, 10 tahun lebih yang lalu, orang pergerakan lingkungan semua bersatu untuk kemudian bersama2 mengganti rezimnya orde baru biar lebih demokratik dan tidak sentralistik. Artinya disinggung supaya pengelolaan lingkungan supaya menjadi lebih baik.

Karena waktu itu pandangannya, kalau ada rezim yang lebih demokratik sudah desentralisasi. Itu yang diperjuangkan dulu. Ternyata tidak. Sekarang sudah sepenuhny desentralisasi. Tapi kenapa kerusakan semakin besar? Karena kebijakan politiknya yang kalau untuk memenuhi kantong2 pendapatan asli daerah atau juga dalam rangka dengan partai yang mengusung dia. Yang paling gampang untuk menutupi pundi2nya ya dari sumber alam.

Nah sumber alam mah sudah tersedia, gusti Allah sudah menyediakan, tinggal kasih lisensi saja. Itu yang membuat, setelah diteliti dari 300 perda, saya teliti, dari seluruh pulau jawa cenderung untuk eksploitasi.

Tentunya bapak sudah menyuarakan itu kan?

Itu kan dari menko perekonomian, mencabut perda2 atau memberi peringatan kpada kabupaten2. Saya tidak tahu itu dilakukan atau tidak. Mestinya harus menjadi tindakan politik kan. Menko perekonomian mungkin lebih sibuk mengatasi krisis finansial sekarang ini.

Jadi kesimpulan saya, menjelang pemilu ini sumber daya alam makin banyak rusak. Dari mana dia dapat uang? Mungkin dibayarnya setelah pemilu dalam bentuk lisensi atau apa gitu. Maka urusan pengurusan sumber daya alam itu urusan politik, bukan urusan teknis.

Jadi nasib lingkungan hidup ke depan?

Akan lebih parah lagi, akan makin banyak kerusakan. Pulau jawa apalagi, lebih banyak kerusakan. Lah iya, kebijakannya tidak banyak berubah. Kita harus bikin daftar negatif proyek di pulau jawa.

Pada akhir proyek, bisa tidak menko perekonomian mengumumkan daftar negatif projek. Artinya, proyek2 yang tidak boleh didirikan di pulau jawa karena akan mendorong kerusakan sumber alam lebih lanjut. Pembangunan jalan tol misalnya. Kenapa bukan jalan kereta api, kenapa jalan tol? Sekarang sudah dibagi2 kan kavling jalan tol yang sampai banyuwangi kan sudah.

Sama saja kan dengan jalan kereta api?

Oh lain. Tidak akan membuat wilayah2 di sepanjang kanan kiri jalan. Beda sekali. Dia tidak akan membangkitkan pemukiman2 sepanjang jalan. Paling di titik2 di mana stasiun kereta. Mereka tahu bahwa ini sudah keputusan politik. Keputusan politik kan sudah dibuat.

Jadi jangan dikira climate change bukan keputusan politik, itu keputusan politik. Itu kepentingan global dengan para pengusaha yang bergerak di carbon trade. Ratifikasi protocol Kyoto, itu persoalan politik dan ekonomi. Jadi, politik, ekonomi, dan lingkungan sudah tidak bisa dipisahin.

Jadi, butuh keberpihakan?

Ya, keberpihakan kepada masyarakat dan juga lingkungan. Ambil keputusan stratejik yang bisa membuat ini semua bergerak sampai ke mata rantai pertanian. Semuanya harus berpihak donk, mau berpihak pada perusahaan besar atau rakyat kecil, kan gitu.

Sasi itu tatanan adat di Indonesia timur, di mana orang bisa ambil ikan menurut tatanan adat. Sasi tutup orang tidak boleh ambil. Kapal motor tidak boleh masuk. Kemudian sasi dibuka, orang boleh ambil sesukanya, lalu tutup lagi. Itu bentuk kearifan lokal yang luar biasa. Tiba2 kemudian itu lisensinya dikasih oleh pemda. Nah pemda kan cuma lihat ekonomi.

Kalau di Sumsel itu ada yang namanya lebak lebung. Rawa2 ketika kering di cekungan, ikan berkumpul di situ semua. Nah itu dilelang oleh warga. Sekarang hancur sudah tidak ada karena sudah ditarik pemda, pemda yang melelang. Ini persoalan2 politik, mau tidak menyerahkan itu kepada rakyat?

Yang saya dan teman2 teriakkan itu jangan berhenti pada desentralisasi tapi devolusi. Desentralisasi itu mentransfer kekuasaan mengatur urusan2 berpemerintah dan bernegara dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah tapi kalau devolusi mentransfer kedaulatan dari pemerintah ke rakyat

Caranya konkretnya?

Oo sudah banyak. Contohnya di hutan. Hanya satu yang diberikan devolusi oleh dephut selama dephut berdiri, di penghujung akhirnya zaman Suharto. Hutan damar di Krui, Lampung Barat. Itu diserahkan pengelolaannya kepada mereka. Mereka yang mengelola. Kawasannya mereka yang mengelola. Dan hutannya lebih bagus daripada yang negara punya.

Tapi tentu masyarakatnya jangan yang tidak punya ikatan sosial yang kuat. Kalau tidak punya ikatan sosial yang kuat ya dialihkan ke orang lain kan. Ada contoh beberapa Taman Nasioal. Kepala TN itu berani memberikan akses kepada masyarakat desa yang dari dulu sudah punya tataran akses ke dalam hutan karena adat. Tapi jadi tidak boleh karena ada TN. Padahal aturan tata ruangnya mirip dengan TN, cuma istilahnya saja beda.

Di sini zona inti di sana wana kiki, tapi esensinya sama. Di sini zona rimba di sana wana. Dia punya kekuasaan untuk mengatur area. Dia punya polisi adat sendiri yang jauh lebih banyak daripada kalau kawasan itu dijaga polhut. Masyarakat ikut menikmati. Begitu ngasih seperti itu, harus hati2, karena bisa bertentangan dengan UU no5 tahun 90, si kepala taman nasional ini. Itu kan soal politik devolusi.

Negara ini kan berdiri karena tadinya satuan2 kecil dari masyarakat. Karena kita mau bikin negara RI, percaya sama sukarno, diserahkanlah semua sama sukarno. Itu yang mjadi penting. Pengelolaan lingkungan hidup, tidak semata soal kualitas udara, air, tapi juga soal kehidupan yang menunjang hidup manusia.

Sehingga kalau pengelolaan lingkungan tidak menyertakan lingkungan itu benar2, bagaimana bisa dibilang mengetahui lingkungan. Pengelolaan lingkungan itu harus bersama rakyat. Ketika partai dikasih kesempatan presentasi sebentar, kalian semua ini elitis saya bilang, di mana rakyatnya kok tidak ada. Dia bilang karena waktunya terbatas. Mana bisa sampah dikelola dengan teknologi. Seolah diselesaikannya hanya dengan teknologi, tidak bisa.

Rakyat yang harus diajarin. Inilah sampah, buanglah sampah, dengan penindakan hokum. Itu butuh waktu 10-20 tahun supaya tertib buang sampah, nanti diangkut dalam frekuensi tertentu. Nanti di ujung yang sampah anoranganik sudah ada pabrik2 kecil yang mengolah kemudian yang sampah oranganik bisa jadi macam2, tidak usah kita bicara. Sehingga sampah jadi manfaat, bukan malapetaka. Sekarang, sampah menggunung di bantar gebang. Sudah malapetaka itu, semua ditumpuk jadi satu. Jadi kita cuma mindahin sampah itu. Dari rumah ke TPS, TPS ke TPA.

Itu salah?

O salah donk, itu kan harus dipilah dulu.

Tapi sosialisasi untuk ke situ kan sudah?

Tidak ada sebagai gerakan. Makanya frustasi orang2 pemda cerita, gimana donk pak kita sudah kasih penyuluhan besok gt lagi. Seharusnya kasih contoh kasih penindakan hukum. Cina saja yang masyarakatnya banyak kok bisa untuk tidak buang ludah sembarangan. Tapi panjang waktunya.

Harus Ada yang Mengawal Produk Lokal September 15, 2010

Posted by Iqbal in budaya, pertanian.
Tags: , , ,
add a comment

Husna Zahir, Ketua YLKI

Juli 2008

Konsumen Indonesia cinta gak sih sama produk Indonesia?

Indonesia ini masih negara brkembang, masih maju, jadi kecendrungan untukngelihat produk luar tu lebih mnarik, lebih baik, lebih bergengsi itu masih ada, masih sangat kuat. Lihat dari gaya hidup saja deh, anak kecil sekarang kalau ngerayain ulang tahun di fastfood. Apalagi dengan prekonomian yang lebih maju itu dari kelompok-kelompok tertentu lebih cenderung lihat ke produk-produk luar.

Tapi ada juga kelompok masyarakat yang gak punya pilihan, pilihan dia mengonsumsi apa yang mampu dia beli. Celakanya adalah kalau kecendrungan mlihat produk luar lebih baik itu kemudian disalahgunakan, ada yang produknya mndekati kadaluarsa atau ilegal, tapi kemudian bisa ditemukan di pasar dengan murah, itu yang berisiko bagi masyarakat kita. Kita gak bilang itu pasti jelek, tapi kalau dia ilegal, tidak teregistrasi, mungkin gak bahaya, tapi kalau kenapa-kenapa jaminan perlindungan konsumennya itu gak ada.

Konsumen Indonesia lebih logis?

Range-nya sangat luas. Kalau kita berbicara konsumen Indonesia sangat lebar. Gak bisa digeneralisir. Kalau digeneralisir mungkin bisa dilihat dari sisi kota. Di sisi kota memang gitu. Mningkat gak sih pngetahuan konsumen tentang pangan olahan? Saya merasa minimal dari sisi mlihat kadaluarsa sudah meningkat, saya mrasa itu sudah ada kmajuan, di warung pun orang bisa melihat kadaluarsa. Tapi knyataannya, beberapa waktu yang lalu, orang tetap beli produk kadaluarsa, dengan asumsi dimakan gak masalah, dia beli dengan harga lebih murah. Jadi, logiknya itu bukan di sisi kualitas, tapi di harga. Kalau dianggap tidak berdampak langsung bagi dia itu dia tidak permasalhkan. Jadi, masih lemah konsumennya.

Kampanye yang tepat ke konsumen?

Bukan hal yang mudah. Kalau dari YLKI melihat tentang keberlanjutan. Keberlanjutan suatu produk. Itu yang bisa didorong. Tidak bisa jaminan bahwa produk luar itu lebih baik. Sekarang masalahnya kan apakah produk Indonesia bisa memberi kepercayaan kepada masyarakat. Sudah ada image produk Indonesia itu kualitasnya lebih rendah. Itu yang harus diralat. Saya pikir kalau dari sisi YLKI itu tidak mudah. Produk impor itu akan menjadi masalah di masa yang akan datang. Yang kedua persoalan kalau terjadi sesuatu. Claim ke produk impor itu tidak mudah. Walaupun ada importir tapi itu bukan produsennya. Mungkin itu satu hal yang bisa kita sampaikan bahwa produk Indonesia lebih terjamin. Sekarang tinggal si industrinya gimana menunjukkan bahwa produk mreka memang bisa terjamin.

Kecendrungan konsumen, food, fashion, film?

Tergantung daya beli. Gak bisa digeneralisir. Kalau untuk orang kota mungkin ketiganya penting. Untuk golongan sosial ekonomi mnengah ke atas, ketiganya masih diperlukan. Sekarang kan bagaimana kita mngedukasi masyarakat berpikir rasional.

Kalau dari sisi industrinya, bagaimana mengkampanyekan. Dilawan dengan iklan itu tidak murah. Mengcounter rokok itu sulit karena mereka punya budget yang besar.

Bangunnya dari komunitas. Jadi, salah satu bentuk kampanye yang coba kita lakukan itu dari kelompok-kelompok masyarakat, kelompok-kelompok komunitas. Memang itu sulit dilihat hasilnya. Yang dibangun itu kan sebetulnya kesadaran kritis. Jadi dia kalau belanja apa yang harus dipertimbangkan. Itu dari pngalaman kita walaupun kecil, komunitas, tapi itu berjalan.

Produk impor murah bahaya bagi konsumen logis?

Makanya kita melihat dari sisi keberlanjutan. Itu kan tidak hanya di sisi  konsumen, di sisi pemerintah sebetulnya. Knapa kita bisa 10 tahun produksi kedelai turun sekian. Itu kan karna dipikir ah itu gampang, tidak didorong ke petaninya untukmningkatkan produksi. Jadi, dari sisi kebijakan itu juga penting, tidak bisa hanya cuma di sisi konsumen. Konsumen kan hanya sederhana. Itu juga tidak bisa disampaikan ke samua level. Kita cuma bisa bilang itu ke orang yang knowledge-nya bagus. Kalau untukkampanye itu td kita ngomongin keberlanjutan lebih kena ke orang menengah ke atas. Orangnya lebih educated. Tapi kalau ke masyarakat komunitas itu lebih ke kesadaran kritis saja.

Produk impor banyak karena apa?

Saya tidak yakin. Tapi barang impor itu kan gak murah-murah amat ya. Tapi yang saya lihat, orang lebih memilih jeruk impor yang harganya lebih tinggi dari jeruk medan. Itu kan menunjukkan pencitraan yang terbentuk itu yang jelek. Persoalan satu lagi, untuk maintain kualitas produk lokal. Kenapa Thailand bisa maju demikian? Karena dalam soal penanganan pascapanen itu mereka seriusin. Semua kita punya kenapa harus ngambil dari impor. Itu bukan dari sisi konsumen saja, tapi kbijakan itu juga penting. Bagaimana dari sisi pmerintah itu bisa membuat kbijakan yang bisa memicu petani-petani kita.

Kampanye gemar produk dalam negeri?

Gak ada. Sebagai satu kesadaran kolektif belum, tapi dari individu-individu itu sudah.

YLKI memandang kampanye gemar produk dalam negeri?

Yang menarik yang ingin saya sampaikan, sejarah berdirinya YLKI itu dari kampanye cinta produk dalam negeri. Orang kecendrungan dulu beli produk-produk impor. Ibu-ibu pendiri YLKI dulu mengkampanyekan gemar produk dalam negeri. Tapi kemudian siapa yang menjamin produk lokal bagus? Nah, di situlah akirnya dibentuk YLKI.

Programnya kan juga gitu, selain menerima pengaduan, kita juga mengedukasi masyarakat, bagaimana mngenali produk. Jadi, sejarahnya itu untuk kampanye produk dalam negeri sebetulnya. Tapi kita gak bisa menutup mata dari globalisasi. Tetap apapun, kampanye itu penting, tapi tetap harus ada yang mengawal membuat produk-produk kita itu kualitasnya baik. Kualitas juga harus dibangun. Harus sejalan. Satu hal yang bisa dilaksanakan, tanggung jawab dari pihak produsen, mungkin dengan menampilkan nomor layanan konsumen. Itu satu hal yang kita dorong. Kalau dia berani mncantumkan berarti dia berani juga menjamin produknya.

Cita Rasa Kepemimpinan di Pedesaan NAD Mei 12, 2010

Posted by Iqbal in budaya, politik.
Tags: , , ,
add a comment

Backpackin’ kali ini menyelami kehidupan warga Cot Seurani, sebuah desa di Nangroe Aceh Darussalam. Biarlah kalah di kualitas pantai yang dimilikinya, namun Cot Seurani punya budaya yang unik. Sistem pemerintahan di dalamnya sangat berbeda dengan desa-desa lain di Indonesia. pemimpin desa (setara lurah) disebut Geuchik. Ada juga pemimpin agama di desa yang sama, dikenal dengan sebutan Imam Meunasah. Meunasah berbentuk dan berfungsi sebagai masjid kecil.

Diterima dengan baik, Backpackin’ langsung berbincang dengan Yusni Yusuf, Geuchik Cot Seurani, di kediamannya yang kebetulan berada tepat di pinggir jalur lintas barat Sumatera. Berikut rangkuman perbincangan kami tentang manajemen desa dan sedikit kebiasaan orang Aceh:

Yusni Yusuf di rumahnya. Dok: Iqbal

Backpackin’ (BP): Ada berapa KK ini desa?

Yusni Yusuf (YY): Total 580 KK. Total penduduknya dua ribu sekian. Antar tetangga itu kenal semua. Anaknya siapa, keluarganya siapa. Kalau di kota kan gak kenal. Kalau ada orang lewat dia kenal ini orang sini atau bukan. Kadang orang desa kenal satu kecamatan.

BP: Sebetulnya, apa arti kata Geuchik itu sendiri?

(YY): Chik itu tua, Geuchik itu dituakan. Model Geuchik ni cuma di Aceh. Jadi Geuchik ini perpanjangan tangan dari pemerintah, tapi datangya dari masyarakat sendiri. Dulu gak ada gaji. Kalau sekarang ada gajinya 600 ribu sebulan. Masa jabatannya dulu 8 tahun, sekarang enam tahun.

Geuchik dipilih masyarakat. Ada coblos-coblos macam tu. Tapi dulu itu ditunjuk oleh orang kampung atau beberapa orang tua. Beberapa tahun ini saja, ada beberapa orang dicalonkan kemudian dipilih masyarakat dengan voting. Itulah bedanya dengan lurah. Kalau lurah itu kan pegawai negeri, bukan masyarakat yang pilih, bukan pula dengan musyawarah.

Di desa ada juga Tuha Peut (Bahasa Aceh; Tuha = tua, peut = empat)ada Tuha Lapan (lapan = delapan). Tiap empat orang itu ada bidang keahliannya masing-masing: keagamaan, pertanian, adat istiadat. Ada bantu 8 orang lagi di Tuha Lapan. Bidang-bidangnya sama juga, bedanya Tuha Peut lebih menguasai empat bidang keduniaan. Kalau dulu bidang agama: ahli fiqih ahli ini itu, ada empat lah.

BP: Tuha Peut dibayar?

YY: Dulu nggak. Tapi sudah tiga tahun ini ada dibayar 100 ribu sebulan. Imam Meunasah juga, 100 ribu sebulan. Uang pemerintah. Tapi tujuan mereka bukan untuk mencari itu.

BP: Di Jawa, di bawah lurah ada RT RW, di Aceh?

YY: Di bawah Geuchik ada kepala dusun, di bawahnya gak ada lagi.

BP: Cot Seurani ini kan berbatasan dengan laut juga, ada pengaturan khusus?

YY: Di kalangan nelayan ada yang disebut Panglima Laut. Itu bukan di bawah Geuchik, dia berdiri sendiri. Tiap kecamatan ada Panglima Laut. Dia yang buat aturan-aturan dalam laut. Nelayan nurut. Ada aturan, Jumat gak boleh melaut. Contoh aturan lain, kalau ada nelayan melihat gerombolan ikan, nelayan lain gak boleh ikut memanennya. Kalau ada perselisihan di laut, panglima laut turun.

BP: Kalau di darat sendiri, penduduk desa ini seberapa sering Bapak kumpulkan?

YY: Kumpul sebulan sekali satu desa, itu awalnya. Sekarang kalau ada masalah yang perlu dimusyawarahkan saja. Contoh masalahnya itu misalnya penentuan jadwal kapan turun ke sawah.

BP: Kenapa harus dikasih jadwal begitu?

YY: Harus ada, karena sumber irigasi kita satu. Jadi kalau gak ada jadwal ini, airnya gak cukup. Ada ilmunya, kalau bulan sekian gak ditanam, bulan sekian datang hama. Kalau itu tidak diatur, dimakan tikus nanti. Tikus memang selalu ada di sawah, tapi ada musimnya tikus itu makan padi. Itu semua diatur di musyawarah. Kalau sudah diatur, semua gak kena itu. Masyarakat nurut semua itu. Mereka merasakan manfaatnya.

BP: Apa gak enaknya jadi Geuchik?

YY: Banyak urusan. Pokoknya 24 jam tu dinas Geuchik. Kapan ada perlu masalah warga, ya bereskan. Malam ada masalah, ya bangun.

BP: Haha. Jadi Bapak merasa dikambinghitamkan?

YY: Merasa dikambinghitamkan oleh pemerintah. Haha. Jadi lurah itu gak ada lagi, pemerintah memanfaatkan Geuchik. Pemerintah gak perlu boros-boros ngurus kelurahan.

BP: Nah, itu gak enaknya, kalau enaknya?

YY: Kayaknya gak ada enaknya. Karena itu amanat saja. Kita dinas 24 jam.

BP: Banyak yang bilang, orang Aceh pemalas, betul Pak?

YY: Betul. Kadang kita mikir juga, kok bisa begini. Kadang kita merepet (kesal yang dilampiaskan dengan ucapan-red) juga. Itulah yang jadi masalah. Jadi orang sini nanam di kedai kopi, bertani di kedai kopi. Tapi sekarang setelah konflik ini, ada perubahan. Lebih bagus sedikit lah ya. Di mana ada tanah kosong ada yang menggarap.

BP: Gatal ya orang aceh kalau gak minum kopi?

YY: Iya. Ada yang sampai 10 gelas sehari. Perbandingannya 3:1. Tiap 3 toko, ada 1 kedai kopi. Kopinya lokal, numbuk sendiri, bukan pakai kopi macam Kapal Api atau Torabika.

Di sela2 wawancara, seorang warga datang dengan membawa beberapa lembar kertas. Ia meminta Geuchik menandatangani semuanya. Langsung saja dengan sigap Geuchik menandatangani semuanya. Ia menuliskan kolom nomor surat yang tadinya kosong dengan fasih. Geuchik juga meralat si pembuat surat karena ada sedikit kesalahan dalam pengetikan, tapi surat tetap ditandatangan, tidak dipersulit. Di menit itu juga, surat dicap. Lalu wawancara dilanjutkan kembali….

BP: Jadi akrab ya Geuchik dengan warga?

(Orang yang meminta tanda tangan menyela wawancara kami): Oh, akrab sekali. Kadang di jalan kami panggil bisa langsung tanda tangan, dia layani rakyat. Asal jelas, cepat beres. Di jalan, ‘Pak Geuchik sini sebentar’, datang dia. Makanya aman di sini.

YY: Itulah yang saya bilang 24 jam. Saya mau ke pasar pakai mobil, di-stop di jalan, ‘Pak Geuchik ini tolong sebentar’, naa langsung saja dilayani.

BP: Bukannya harus ada catatan nomor?

YY: Nomor itu saya sudah hapal. Tinggal urut-urut saja. Tadi teken (tanda tangan-red) nomor 28, nanti jumpa orang 29.

Masih dengan mengenakan sarungnya, selepas wawancara, Geuchik mengantar Backpackin’ ke depan halaman, masih dengan senyumnya yang tak lekang. Semoga banyak orang yang turun ke pedalaman dan mengadopsi banyak hal bagus tentang kepemimpinan, demi Indonesia yang lebih baik.

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Backpackin’ edisi 3 yang bisa diunduh di sini.

Konsumen Indonesia Januari 13, 2010

Posted by Iqbal in budaya, pertanian, politik.
Tags: , , ,
1 comment so far

Wawancara Hartoyo, Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB

Waktu: Juli 2008

Hanya pasar tradisional yang menerima produk lokal dengan mudah. Dok: Iqbal

Konsumen Indonesianesia dalam menanggapi produk Indonesia?

Ini pertanyaan yang susah. Kita sebagai konsumen sebetulnya tergantung keadaan sosial ekonominya. Konsumen Indonesia lebih suka dengan produk-produk luar negri justru. Studinya memang belum dilakukan. Tapi kalau kita lihat fenomena produk impor buah-buahan. Misalnya konsumen dihadapkan dengan produk jeruk saja. Ketika jeruk medan berhadapan dengan jeruk mandarin. Orang akan lebih suka jeruk mandarin. Problemnya memang kadang-kadang itu harganya, rasanya, mungkin juga karena gengsinya. Orang membeli produk luar itu terlihat lebih bergengsi. Kemudian fenomena lain, kalau konsumen Indonesia ingin membeli alat atau sparepart, ada pilihan lokal, Taiwan, Jepang. Kemudian orang berpikir bahwa lokal persepsinya adalah murah dan kualitasnya rendah. Sehingga orang kemudian cenderung beli yang lebih mahal dengan anggapan kualitasnya lebih bagus walopun belum tentu juga. Jadi, kadang-kadang memang banyak faktor yang membuat produk impor lebih disukai. Yang ada di benak masayaarakat harga murah kualitas rendah harga tinggi kualitas bagus, walopun blom tentu. Ini hanya persepsi konsumen. Ini terbentuk karena ada pngalaman sbelumnya, dan karna ada informasi dari masayaarakat juga.

Jadi, gimana cara kita membangun cinta produk dalam negeri?

Memang harus ada dari dua sisi. Pertama dari sisi produknya, kualitasnya harus lebih baik. Kmudian pmerintah harus menetapkan standar. Kemudian dari sisi konsumen harus ada kesadaran itu. Problemnya bagaimana membangun kesadaran tersebut. Kalau kami berpikir harus sejak dini, harus dari anak-anak. Diajari bagaimana anak-anak itu diajari bagaimana cinta produk dalam negeri. Dan itu memang relatif sulit. Karena memang orangtuanya juga secara sadar atau tidak mengajari itu. Coba kalau beli buah beli yang impor. Kalau membeli di pinggir jalan, banyak penipuan juga. Banyak orang yang gak suka di situ. Untuk beberapa hal kita kalah di kualitas, mungkin penanganannya kurang baik. Walaupun ada juga durian seperti semar dan petruk yang enak juga.

Program konkretnya?

Anak sebenarnya dalam keluarga sangat menentukan sekali dalam pembelian. Ada banyak penelitian yang mendukung pernyataan tersebut. Untuk beberapa barang, diputuskan merk pembeliannya itu oleh anak. Sehingga seharusnya anak diajari kalau dibawa sosialisasi ke supermarket, dicontohkan oleh ibunya beli yang produk dalam negeri. Misalnya kalau ada mainan cari yang produk dalam negeri, hehe, walopun susah ya kalau nyari mainan produk Indonesia, ada juga mahal. Kita memang harus senantiasa memberikan contoh. Anak memang sangat belajar dari usai dininya. Misalnya ketika waktu kecil anak diberikan makanan apa itu yang akan disukai. Ketika dia dikasih rasa manis, maka seterusnya dia akan suka manis. Dan juga kemudian ketika remaja, yang menjadi masalah adalah grupnya. Kadang bermerk itu yang dicari, dan yang bermerk itu punya luar negeri. Jadi, si anak bisa ditanamkan sejak dini melalui contoh atau cerita-cerita yang berkaitan dengan kecintaan thdp produk dalam negeri.

Kalau yang bisa diterapkan langsung sekarang?

Perlu juga ada pencantuman tulisan membeli produk dalam negeri akan meningkatkan apa gitu. Di luar negeri juga gitu. Jadi kita tingkatkan nasionalisamae sambil dibarengi dengan perbaikan kualitas. Buketikan bahwa kualitas dalam negeri ya sama baiknya dengan kualitas luar negeri. Ada satu hal lagi, yaitu ttg nasionalisamae. Dulu kan ada menciptakan nasionalisamae dengan P4, tapi karena imagenya jelek sehingga gak lagi ditanamkan di situ. Waktu saya di Amerika, sempet merasakan, memang ditanamkan itu. Jeleknya orang Amerika itu memang ya dunia ya mereka aja. Mungkin mereka juga dulu menanamkan dari anak usia dini.

Ada 9 pilar atau karakter untuk ditanamkan pada anak usia dini, salah satunya yaitu cinta dalam negeri, termasuk produk dalam negeri. Itu yang kami kembangkan. Harapannya, memang ke depan tercipta karakter manusia Indonesia yang baik. Ini sudah diaplikasikan. Yang dipromosikan juga dengan bu Ratna. Sembilan pilar ini diajarkan pada anak usia dini, yaitu 0-6 tahun, tapi kita lebih spesifik dari 3-6 tahun. Ini memang usia paling tepat untuk menanamkan karakter-karakter bangsa Indonesia. Kalau bu Ratna, Indonesian Herritage Foundation ini lewat SBB, Semai Benih Bangsa. Itu taman bermain. Sudah ada 400an di Indonesia. TK tapi community base. Ini memang upaya-upaya yang kami lakukan untuk cinta tanah air. Itu jangka panjang, kaitannya dengan moral.

Kemudian di konsumen sendiri harus ada pendidikan untuk mencintai produk dalam negeri. Kemudian di sisi yang lain, kbijakan supaya mmperkuat daya saing buah-buah dalam negeri harus ditingkatkan. Masa bisa jeruk dari luar negri itu lebih murah daripada jeruk medan. Bagaimana caranya supaya produk Indonesia bisa lebih bersaing, dari segi kualitas dan harga.

Perilaku konsumen orang Indonesia dibanding luar untuk kcintaan produk dalam negeri?

Sebetulnya saya belum pernah mndapatkan satu literatur, tapi ada satu studi yang berkaitan dengan country of origin, itu di Amerika kalau gak salah, sama di Turki apa kalau gak salah. Ternyata memang itu aspek yang ke berapa memang country of origin ini. Artinya, memang kalau mau beli mobil yang diperhatikan bukan ini mobil dari mana, tapi kemudian dari studi itu dia bilang bahwa country of origin itu ada kaitannya dari kualitas. Jadi, bukan asalnya dari mana tapi kualitasnya. Jadi, lebih rasional. Artinya, pendekatan untuk menciptakan rasa nasionalisame itu memang tidak semata-mata akan berhasil kalau tidak dibarengi dengan pertimbangan rasional itu tadi.

Masih penting nasionalisame gak sih?

Kalau saya, masih tetep harus dipertahankan. Memang di era pasar bebas borderless, tapi kan masih bisa disadarkan dari aspek konsumennya sendiri. Yang gak boleh itu melarang barang luar masuk. Cuma masalahnya tadi, konsumen rasional. Bagaimana kemudian, dalam pendidikan konsumen harus juga dibuketikan kualitas produk. Dengan harga yang murah dan kualitas yang baik itu kan konsumen diuntungkan.

Kan ada Gerakan nasional gemar produk Indonesia?

Saya baru tau tuh. Artinya, sosialisasi itu kurang efektif, karena terus terang aja saya gak tau apa yang dilakukan di situ, apa hanya slogan saja? Yang kedua, tadi sbenarnya kuncinya tidak hanya gerkan itu saja, harus juga dimunculkan kualitas. Dari hasil pnelitian, konsumen itu biasanya melihat kualitas. Kemudian yang kedua pertimbangannya harga. Tapi tidak dengan mempertimbangkan karena produk Indonesia maka dibeli. Satu lagi yang saya complain. Produk Indonesia itu gak ada standarnya. Kalau beli baju ukuran L nya itu beda-beda. Jadi, konsumen beli yang sudah branded, udah ada standar kualitasnya.

Supply create demand?

Yang saya liat begini, ada dua. Demand create supply, saya pikir gak begitu, tapi sebenarnya supply yang create demand. Artinya, kalau tidak ada produk impor itu orang Indonesia gak akan beli. Yang jadi masalah itu ada, didampingkan dengan produk dalam negeri. Nah, konsumen karna melihat bahwa tampilannya produk impor lebih baik, ketika hargany sama, dia milih produk impor. Jadi, bukan karna orang Indonesia mau produk impor trus datang produk impor. Tapi, karena ada produk impor maka ada yang beli. Ketika gak ada produk impor, atau mahal, maka gak akan beli tu konsumen. Tapi coba kita liat pnampilan jeruk medan, kan gak sebaik jeruk mandarin. Mnurut saya sih orang beli karna ada supplynya. Yang dijual di Indonesia itu kan kelebihannya sehingga ketika biaya produksi mereka sudah tertutupi, dijual brapapun gak masalah, daripd dia masukin lagi ke pasar dalam negerinya, bisa menurunkan harga dan image, lebih baik diekspor. Tapi saya gak ahli di dalam situ.

Karena pmerintah orientasi konsumen?

Kalaupun itu benar, apa salahnya. Kalau peemerintah mau menyediakan produk-produk murah dengan barang-barang impor sehingga produk-produk ada, sebetulnya konsumen diuntungkan di situ. Tapi kemudian itu mematikan produsen lokal. Sebetulnya konsumen juga punya hak mndapatkan produk yang berkualitas. Sehingga, kalau pmerintah membolehkan impor itu gak masalah dari satu sisi, tapi dari sisi lain, memang kalau tidak ada kebijakan yang komprehensif bisa mematikan produsen lokal. Kan bisa juga disisipi di dalam kemasan produk dalam negeri bahwa kalau membeli produk dalam negeri akan menghidupkan produsen dalam negeri, seperti di kemasan-kemasan rokok itu. Itu bisa juga jadi satu terobosan. Sehingga slogan mencintai produk dalam negeri tidak hanya sekedar slogan. Mungkin akan selalu diingat, ada manfaatnya, sambil kita tunjukkan kalau itu kualitasnya baik.

Ada satu perilaku universal, ketika kita makin makmur, orang akan mencari suatu yang lebih berkualitas, lebih prestisius, gengsi. Artinya, kita harus meningkatkan kualitas. Kampanye memang harus dilakukan juga, kampanyenya harus terstruktur. Misalnya dari anak, supaya cinta produk dalam negeri, kemudian promosi terhadap kualitas juga. Mudah-mudahan masyarakat dengan begitu akan cinta produk dalam negeri.

Yang menjadi masalah adalah ketika produk kita lebih murah dari produk impor dengan kualitas yang sama, tapi konsumen kita memilih produk impor. Konsumen kita ada kecendariungan melihat apa yang dibeli si kaya. Itu alasan kenapa di kita muncul produk-produk bermerk yang palsu.

Gelora Cita KawaKibi Desember 3, 2009

Posted by Iqbal in budaya, cita cita.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Gelar sarjana sedikit lagi mereka raih. Mereka dua insan yang betul-betul Aku temui dan Aku kagumi dalam hidupku. Mereka tidak saling kenal, tapi Aku coba utarakan isi kepala mereka dalam obrolan imajiner berikut, lokasi imajiner, logat imajiner, dan nama asli imajiner. Namun dengan isi kepala yang nyata.

Kawa: Banyak orang yang mengkritik orang lain, mengkritik institusi lain, bahkan mengkritik bangsanya sendiri, mungkin termasuk kamu. Tapi sedikit sekali yang bertindak konkret. Memang mudah menjadi komentator…

Kibi: Bukannya mengkritik itu bagus. Daripada dia diam saja. Atau lebih baik daripada orang yang bercuap hanya untuk memperbanyak tertawanya yang tidak manfaat.

Kawa: Iya betul. Tapi kan akan lebih elegan dan lebih bermakna kalau dia melakukan sesuatu yang konkret juga untuk bangsanya. Tidak hanya bicara.

Kibi: Oke, kalau begitu apa yang bisa kamu persembahkan untuk bangsamu?

Kawa: Aku rasa permasalahan besar kita di pendidikan. Bukan akses pendidikan loh, itu masalah yang lain lagi. Menurutku pendidikan yang ada sekarang ini tidak menjadikan mental yang baik buat anak, itu yang menurutku menyebabkan korupsi merajalela. Itu juga yang menyebabkan kalau ada teman kita yang sudah kerja di satu perusahaan, pertanyaan pertamanya adalah, “Berapa gajinya?”

Kibi: Solusimu?

Kawa: Yang aku pahami, hal yang demikian itu akan bisa diubah ketika umur anak belum mencapai 6 tahun. Pembentukan karakter terjadi pada usia emas itu. Kalau saja para guru lulusan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) mau mengorbankan waktunya tidak hanya untuk anak orang kaya, maka pasti akan lebih banyak karakter bagus pengisi Bangsa.

Kibi: Halah, kamu juga nanti kalau sudah S2 beres menuntut kesejahteraan yang tinggi.

Kawa: *tersenyum* Aku punya cita-cita mendirikan PAUD di Manokwari, kotaku. Di sana belum ada satupun PAUD.

Kibi: What??? Kamu serius? S1 mu kan Statistika?

Kawa: Btul, Aku akan ambil S2 PAUD di UNJ. Selalu ada jalan bagi orang yang tidak pernah putus asa. Selalu ada asa bagi orang yang bersemangat. Selalu ada semangat bagi orang yang punya cita-cita besar.

Kibi: Kawan, itu sama sekali tidak mudah!

Kawa: Aku tahu. Sudah Aku pikirkan sejak lama. Semakin lama, Aku semakin yakin untuk cita itu. Lagipula, seperti kata orang tua Batman, “Kita jatuh bukan untuk mengeluh, tapi kita jatuh untuk belajar cara bangkit lagi.” Kamu tahu, Aku sudah sering jatuh mental, bahkan sebelum saat ini, sebelum Aku berani bicara citaku ini pada orang lain, sebelum aku memulainya sama sekali.

Kibi: Ck…ck…ck… Orang-orang seperti kamu lah yang secara tidak kamu sadari, ikut menancapkan mimpiku lebih dalam, setelah banyak orang yang mencoba mencabutnya.

Kawa: Oke, selanjutnya kamu yang cerita tentang mimpimu.

Kibi: Ah, tentunya tidak ada apa-apa dibanding kamu.

Kawa: Ceritakan kawan, Aku mau dengar.

Kibi: Aku juga sepakat denganmu tentang mental kita yang jeblok. Orientasi gaji menjadi hal biasa di lingkungan kita. Akibatnya, kita menjadi tidak produktif. Bukan passion yang ditonjolkan untuk mendapat kerja, tapi berapa bayarannya, digibas sudah, tidak peduli kalau pekerjaan itu mengharuskan kita berbohong, mengharuskan kita menerima gaji riba, dsb. Padahal sudah jelas diingatkan, “Jangan tukar agamamu dengan harga yang sedikit.”

Kawa: Kamu mau usaha sendiri?

Kibi: Tepat. Aku ingin kaya tapi dengan jalanku, passion yang aku sangat menikmatinya. Berbisnis.

Kawa: Then, setelah kaya, kamu mau apa?

Kibi: Tentunya bukan untuk shopping di Pacific Place, bukan pula untuk hal-hal menyenangkan tipuan dunia yang memperbanyak Aku tertawa sehingga hatiku keras. Aku mau membangun rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah untuk golongan yang terpinggirkan. Akan aku bangun kotaku, Depok.

Kawa: Ide lama, tapi, hmm… sedikit sekali yang berani mengemukakan ide itu.

Kibi: Aku berani.

Kawa: Aku tahu. Dengan kapabilitasmu yang Aku perhatikan di organisasi yang kita geluti bersama, Aku yakin kamu akan lebih mudah meraih cita-citamu dibanding orang lain.

Kibi: Terima kasih.

Kawa: Tapi sekolahmu nanti harus menyediakan kelas PAUD untuk aku isi ya?

Kibi: Hehe. Itu bisa diatur, kawan. Itu kan langkah kita jauh ke depan. Untuk jangka pendek, gimana kalau kita isi otak kita dengan fakta-fakta tentang lingkungan dan kerusakannya.

Kawa: Boleh, kamu mau mengajakku ke mana?

Kibi: Green Festival di senayan, 5-6 Desember ini.

Kawa: Ikut.

Obrol Jean Sarkozy* Imajiner November 11, 2009

Posted by Iqbal in budaya, imajinasi, politik.
Tags: ,
add a comment

Iqbal: Kamu aneh….

Jean Imajiner: Kok gitu?

Iqbal: Ya iyalah, mundur dari jabatan yang basah banget gitu…

Jean Imajiner: Hmmmm…

Iqbal: Emang kenapa sih kamu mundur? Jangan-jangan disuruh istrimu yaaa…. Dan kamu takut sama istrimu??? Atau itu strategi politik aja, pengorbanan kecil untuk sesuatu yang jauh lebih besar ???

Jean Imajiner: Kok mau tahu banget sih urusan orang, itu urusan pribadiku !

Iqbal: Hehee… insting orang Indonesia, maaf. Pliiiiis, kasih tau donk kenapa ? Mungkin bisa jadi pembelajaran buatku, atau paling tidak bisa jadi bahan obrolan. Maklum, orang-orang di negaraku suka sekali ngobrolin urusan orang.

Jean Imajiner: Huuuu…. Sebetulnya simple, karena aku merasa belum patut aja…

Iqbal: Belum patut kenapa ? Kan kamu dapat suara terbanyak, berarti masyarakat menganggap kamu yang paling tepat buat mimpin EPAD…. Apa jangan-jangan karena usiamu yang baru 23 tahun jadi mau senang-senang menikmati masa muda dulu ya ?

Jean Imajiner: Hehe… Kamu Indonesia banget sih, komentarnya penuh asumsi…

Iqbal: Tapi bener, kan ?

Jean Imajiner: Sekali lagi, bukan urusanmu…

Iqbal: Yoweslah kalau memang gak mau jawab. Aku mau memberikan dua jempolku untukmu. Jarang-jarang loh orang mau meletakkan jabatannya cuma karena merasa gak patut. Wong yang udah jelas-jelas salah aja gak mau turun dari jabatannya, apalagi di negaraku.

Jean Imajiner: Wah, berarti kamu dan masyarakatmu harus sering-sering nonton “The Last Samurai” biar tahu gimana orang-orang Jepang sebegitu merasa bersalahnya kalau mereka berkhianat atau merugikan masyarakatnya.

Iqbal: Itu mah udah sering banget diputar di Bioskop Trans TV. Pasti udah banyak yang nonton.

Jean Imajiner: Terus kok gak tergerak ?

Iqbal: Susah karena udah mendarah daging, sikap memperbaiki image jauh lebih diutamakan daripada memperbaiki kesalahan, balung sumsum kata orang Jawa.

Jean Imajiner: Wah, itu justru masalah terbesar masyarakatmu, gak mau memperbaiki diri.

Iqbal: Bukannya gak mau memperbaiki diri, mau sih mau, tapi imagenya harus bagus dulu, baru deh memperbaiki diri dan lingkungan. Itupun jangan sama ratakan semua orang Indonesia begitu loh ya… Masih ada yang gak ikut-ikutan mainstream sikap itu, walaupun dikit…

Jean Imajiner: Hahhh…. Ya sudahlah, semoga berhasil memperbaiki sikap itu. Semoga berhasil juga buat bikin regional ASEAN jadi 1 kesatuan. Kalau memang jadi, Aku akan ngata2in: week, ngikutin uni Eropa week… Hehe… kidding…

Iqbal: Hehee… Salam ya buat Zidane.

Jean Imajiner: Insya Allah

 

*Putra kedua Nicholas Sarkozy (presiden Perancis). Oktober 2009 kemarin, dia mundur dari jabatannya sebagai ketua EPAD (Etablissement Public pour l’Amenagementde la region de la Defense), lembaga publik yang mengatur tata wilayah di distrik bisnis La Defense (pusat komersial terbesar dan terpenting di Perancis), mungkin mirip Kadis Perdagangan Provinsi Jakarta kali ya (Perdagangan ada dinasnya, kan?)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.