Sunset Policy untuk Koruptor April 13, 2010
Posted by Iqbal in imajinasi, politik.Tags: korupsi, kpk, pajak
add a comment
Jakarta, 2069
Negara Indonesia masih ada. Pulau-pulaunya masih komplit, walaupun pulau-pulau kecil di sekitar Nias makin banyak yang dibeli orang Singapura. Namun, ada yang lebih disayangkan. Korupsi masih tetap merajalela. Di satu kedai kopi, dua orang kakek berbincang sambil baca koran dan menyeruput kopi.
Kakek 1: Ahhh, Indonesia tidak kreatif sekali, masa’ masalahnya itu-ituuuuu aja, korupsi lagi korupsi lagi…
Kakek2: Hahaa… dasar kamu kakek-kakek, ngomong doang tanpa solusi
Kakek1: Eit, jangan salah. Aku dulu punya ide hebat untuk basmi gejala hama tikus itu
Kakek2: Ahh… bohong
Kakek1: Enam puluh tahun yang lalu, orang-orang pajak sangat kreatif, dia bikin pemutihan buat orang-orang yang suka lari dari pajak, dia buat sunset policy, jadi kesalahan kaburnya dia dari pajak sebelum itu diampuni, tanpa denda, tujuannya ya bisa dibilang untuk jebak orang-orang biar terikat
Kakek2: Terus, hubungannya sama korupsi?
Kakek1: Nah, setahun setelah itu kan rame tuh, semua orang mau berantas korupsi, mau berantas mafia peradilan. Kenapa gak coba ngikutin caranya orang-orang pajak aja? Walau ada kisruh pengemplang pajak dari orang pajak sendiri, tapi tetap ada hal positif yang bisa diambil dari mereka
Kakek2: Maksudnya?
Kakek1: Ya dibikin sunset policy juga buat koruptor. Kesalahan-kesalahan sebelumnya diampuni negara, korupsi yang telah dilakukan sebelumnya diampuni, tapi dia harus lapor tiap tahunnya
Kakek2: Hahaha, menarik..menarik… terus?
Kakek1: Ya dia lapor ke KPK tiap tahun. Setahun kemarin dia korupsi apa nggak. Kalau ngaku korupsi gak perlu dipetimatikan seperti di Cina, tapi cukup dimintakan pajak dari hasil korupsian itu tapi dia tetap harus balikin duit negara
Kakek2: Kalau gak ngaku?
Kakek1: Investigasi donk, kan sekarang banyak detektif swasta yang latar belakangnya wartawan, mereka biasa mengungkap sesuatu yang belum terungkap. Kalau dia gak korupsi yowes, tapi kalau terbukti korupsi dia kena denda senilai uang yang dia korupsi
Kakek2: Lah, gak dipenjara?
Kakek1: Gak perlu. Memang penjara buat apa sih? Memberikan efek jera, kan? Kita bikin efek jeranya dengan denda aja, segala sesuatu yang melanggar hukum didenda. Kita gak perlu penjara lagi
Kakek2: Kan pelanggaran hukum gak cuma korupsi…
Kakek1: Betul, kita pakai hukum islam aja. Walau bukan negara islam tapi boleh kan kita adopsi beberapa hukumnya. Mencuri dipotong tangannya, membunuh dibunuh atau didenda. Jadi intinya kita gak perlu penjara, kita cuma perlu pengadilan yang bersih
Kakek2: Hehe, gila kamu…
Kakek1: Bukannya itu yang diperlukan untuk perubahan besar? Kegilaan…
Kakek2: Terserahlah, tapi sunset policy untuk koruptor yang kamu ceritakan menarik juga… mungkin gak ya?
Kakek1: You are what you think. Allah bersama prasangka hambanya. Kenapa gak mungkin?
Kakek2: Yee… Cuma nanya aja, jangan bawa-bawa agama donk…
Kakek1: Gak bisa, Aku bukan seorang sekuler jadi agama ya kehidupan
Kakek2: Yowes.. yowes.. Trims ya ngobrol-ngobrolnya
Kakek1: Sama-sama…=) Eh, ini Aku ada oleh-oleh kopi Gayo, Indonesia punya, dijamin organik, enak loh…
Kakek2: Waaah…thanks berat
Iqbal dan Tardigrada* Maret 30, 2010
Posted by Iqbal in imajinasi, islam.Tags: Biologi, J.Co, Malaysia, starbucks, tardigrada
add a comment
Iqbal: Hey, kamu sudah sholat Isya belum?
Tardigrada: Hehe, Aku punya cara sendiri untuk beribadah
Iqbal: Oh gitu, emang gimana?
Tardigrada: Bukan urusanmu…
Iqbal: Yoweslah, yang penting jangan lupa aja
Tardigrada: Ya nggak lah, kaumku itu punya standar ketaatan yang sama, makanya nanti di yaumul hisab gak lama urusannya, rusa yang di dunia dimakan harimau, gantian memakan harimau, tinggal balas-balasan aja. Kalau golonganmu kan panjang urusannya
Iqbal: Jadi, kamu mau bilang kalau kamu beruntung dan Aku tidak?
Tardigrada: Bukan begitu juga, cuma mau mengingatkan saja, fokus ajalah ibadah, hisabanmu itu rumit, gunung yang sekokoh itu saja gak mau mengambil amanah sebesar itu, tapi golonganmu yang lemah berani… makanya, gak usah lagi ngurus urusan orang lain, agama lain, fokus ibadah aja
Iqbal: loh kok? Aku cuma penulis ingusan, emang kapan ngutak-ngatik urusan orang lain??
Tardigrada: Hoho, tenang kawan. Mungkin bukan kamu, tapi golonganmu. Tadi malam Aku nonton Agora. Begitu jahatnya satu agama sampai membunuh orang lain yang berbeda pemahaman
Iqbal: Ah, sepertinya cara tangkapmu saja yang agak berlebihan. Pertama, menurutku film itu memang agak menyimpang, ingin menyudutkan agama kristiani dan ingin mengangkat para ilmuwan. Kedua, itu suatu hal yang wajar, mengajak orang satu pemahaman dengan kita. Aku tidak berbicara hanya masalah agama, tapi semua hal, agama hanya salah satunya. Wajar donk Susno muncul terus menjelaskan apa yang dia rasa benar untuk memperbanyak koloni cara pikir yang sama. Kurang lebih begitulah. Sama juga golonganmu, selalu ingin memperbanyak koloni, ya kan!
Tardigrada: Kenapa bilang begitu?
Iqbal: Nonton Starship Troopers donk…. Golonganmu selalu ingin memperluas koloni.
Tardigrada: Oke, memang, tapi coba pelajari lagi Biologi Umum, koloni kami hanya meningkat pesat di fase pertama, tapi menurun di fase berikutnya. Ada siklusnya sendiri. Kalau manusia kan gak ada
Iqbal: Eh, kata siapa, ada juga. Dulu SDM Indonesia menang lawan Malaysia, guru-guru Malaysia belajar di Indonesia. Sekarang Indonesia yang belajar sama Malaysia. Nanti Malaysia lagi yang belajar ke Indonesia. Itu ada siklusnya juga
Tardigrada: Haha. Kok jadi ke situ ya obrolan kita?
Iqbal: Ya abis kamu, kesannya manusia tuh jelek banget
Tardigrada: Ya memang, hehe
Iqbal: Oke Aku jelek, tapi kamu bodoh. Kamu bisa hidup di Himalaya yang tingginya di atas 6000 mdpl, kamu juga bisa hidup di laut dalam sampai 4000 meter di bawah permukaan laut. Kamu bisa hidup pada suhu di bawah 0°C dan juga di atas 100°C. Tekanan rendah bisa kamu hadapi, tekanan di atas 1200 ATM juga gak mati. Dengan kehebatan semaksimal itu kamu gak bisa nguasain dunia???
Tardigrada: Jangan sombong begitu, kawan. Memang sekarang yang terlihat manusia menguasai dunia. Apa saja bisa kalian lakukan. Tapi itu gak akan bisa terjadi kalau keharmonisan alam ini gak seimbang. Sebetulnya kamu hanya bagian dari keheterogenan itu, hanya saja kamu lebih beruntung karena diletakkan oleh Yang Maha Kuasa di puncak jaringan makanan.
Iqbal: Ah, makin kusut. Sudahlah mari kita ngopi dulu
Tardigrada: Oke, tuh ada Starbucks
Iqbal: Jangan donk, J.Co aja, produk Indonesia tuh….
Tardigrada: Yoweslah, ikut….
*Termasuk makhluk bumi yang terkuat. Tahan hidup di suhu, tekanan, dan keadaan ekstrim. Ukuran panjang maksimalnya hanya 1,5 mm.
Obrol Jean Sarkozy* Imajiner November 11, 2009
Posted by Iqbal in budaya, imajinasi, politik.Tags: jean sarkozy, perancis
add a comment
Iqbal: Kamu aneh….
Jean Imajiner: Kok gitu?
Iqbal: Ya iyalah, mundur dari jabatan yang basah banget gitu…
Jean Imajiner: Hmmmm…
Iqbal: Emang kenapa sih kamu mundur? Jangan-jangan disuruh istrimu yaaa…. Dan kamu takut sama istrimu??? Atau itu strategi politik aja, pengorbanan kecil untuk sesuatu yang jauh lebih besar ???
Jean Imajiner: Kok mau tahu banget sih urusan orang, itu urusan pribadiku !
Iqbal: Hehee… insting orang Indonesia, maaf. Pliiiiis, kasih tau donk kenapa ? Mungkin bisa jadi pembelajaran buatku, atau paling tidak bisa jadi bahan obrolan. Maklum, orang-orang di negaraku suka sekali ngobrolin urusan orang.
Jean Imajiner: Huuuu…. Sebetulnya simple, karena aku merasa belum patut aja…
Iqbal: Belum patut kenapa ? Kan kamu dapat suara terbanyak, berarti masyarakat menganggap kamu yang paling tepat buat mimpin EPAD…. Apa jangan-jangan karena usiamu yang baru 23 tahun jadi mau senang-senang menikmati masa muda dulu ya ?
Jean Imajiner: Hehe… Kamu Indonesia banget sih, komentarnya penuh asumsi…
Iqbal: Tapi bener, kan ?
Jean Imajiner: Sekali lagi, bukan urusanmu…
Iqbal: Yoweslah kalau memang gak mau jawab. Aku mau memberikan dua jempolku untukmu. Jarang-jarang loh orang mau meletakkan jabatannya cuma karena merasa gak patut. Wong yang udah jelas-jelas salah aja gak mau turun dari jabatannya, apalagi di negaraku.
Jean Imajiner: Wah, berarti kamu dan masyarakatmu harus sering-sering nonton “The Last Samurai” biar tahu gimana orang-orang Jepang sebegitu merasa bersalahnya kalau mereka berkhianat atau merugikan masyarakatnya.
Iqbal: Itu mah udah sering banget diputar di Bioskop Trans TV. Pasti udah banyak yang nonton.
Jean Imajiner: Terus kok gak tergerak ?
Iqbal: Susah karena udah mendarah daging, sikap memperbaiki image jauh lebih diutamakan daripada memperbaiki kesalahan, balung sumsum kata orang Jawa.
Jean Imajiner: Wah, itu justru masalah terbesar masyarakatmu, gak mau memperbaiki diri.
Iqbal: Bukannya gak mau memperbaiki diri, mau sih mau, tapi imagenya harus bagus dulu, baru deh memperbaiki diri dan lingkungan. Itupun jangan sama ratakan semua orang Indonesia begitu loh ya… Masih ada yang gak ikut-ikutan mainstream sikap itu, walaupun dikit…
Jean Imajiner: Hahhh…. Ya sudahlah, semoga berhasil memperbaiki sikap itu. Semoga berhasil juga buat bikin regional ASEAN jadi 1 kesatuan. Kalau memang jadi, Aku akan ngata2in: week, ngikutin uni Eropa week… Hehe… kidding…
Iqbal: Hehee… Salam ya buat Zidane.
Jean Imajiner: Insya Allah
*Putra kedua Nicholas Sarkozy (presiden Perancis). Oktober 2009 kemarin, dia mundur dari jabatannya sebagai ketua EPAD (Etablissement Public pour l’Amenagementde la region de la Defense), lembaga publik yang mengatur tata wilayah di distrik bisnis La Defense (pusat komersial terbesar dan terpenting di Perancis), mungkin mirip Kadis Perdagangan Provinsi Jakarta kali ya (Perdagangan ada dinasnya, kan?)
Wawancara Imajiner dengan Yolanda* November 6, 2009
Posted by Iqbal in imajinasi, islam.Tags: gempa padang, yolanda
add a comment

back to Q !
(ditulis sehari setelah gempa Padang)
Iqbal Imajiner: Sebelumnya, Aku turut berbelasungkawa sebesar-besarnya atas kejadian kemarin sore
Yolan Imajiner: Ya, terima kasih
Iqbal Imajiner: Berkali-kali jantungku semakin kencang ketika melihat Ibumu menangis di depan kamera tvTwo
Yolan Imajiner: Aku rindu sekali dengan Ibuku, terakhir Aku bertemu kemarin sebelum masuk kelas di tempat kursusku di Gama
Iqbal Imajiner: Ya..ya…persis seperti yang Ibumu katakan. Kamu cium tangannya lalu kamu pergi ke kelas. Ya kan?! Kamu harus tahu bahwa Ibumu betul-betul depresi melihat keadaanmu, ia seperti orang yang kehilangan arah sejak tadi malam. Andai kamu tidak masuk ke ruangan itu kemarin, andai kamu bolos kursus sehariiii saja.
Yolan Imajiner: Sudahlah, tidak usah berandai-andai, Tuhan telah menggariskan apa yang terjadi hari ini, kemarin, dan besok. Kalau memang di Lauhil Mahfudz yang agung itu Aku ditakdirkan mati hari ini, maka Aku akan mati hari ini, di manapun itu, Aku pasti akan mati.
Iqbal Imajiner: Ya, tapi tetap saja, bagi Ibumu, itu tidak semudah yang kau ucapkan. Kamu sangat dicintainya. Mungkin kamu yang paling dicintainya.
Yolan Imajiner: Hey, tidak boleh itu. Kita harus mencintai Tuhan mengalahkan siapapun atau apapun. Ketika kamu dibangkitkan nanti dengan air penghidupan selama 40 hari 40 malam, kamu akan tidak peduli bahkan dengan anakmu sendiri, semua sibuk memikirkan amalannya masing-masing. Lagipula, apa kamu pernah merasakan letih yang sangat dicampur rasa lapar yang membuncah dan suasana gelap yang bahkan kamu tidak bisa melihat tanganmu sendiri? Di saat itu, yang paling kamu ingat adalah Tuhan! Tidak ada yang bisa kamu harapkan kecuali Tuhan. Sayangnya, kebanyakan dari kita hanya mengingat Tuhan hanya ketika darurat saja.
Iqbal Imajiner: Lalu dengan Ibumu?
Yolan Imajiner: Aku mengerti maksudmu. Bukan berarti dengan pernyataanku sebelumnya aku mengecilkan makna Ibu. Tiga kali Aku harus berterima kasih pada Ibu, baru yang ke-empat pada Ayahku. Kalau Aku diberi kesempatan bertemu dengannya kembali, Aku akan memeluknya dengan sangat erat sambil meyakinkannya bahwa Aku juga mencintainya, mungkin melebihi semua manusia bumi. Di saat itu, air mataku akan mengucur jauh lebih deras dari biasanya. Tapi tetap, kamu harus mendahulukan agamamu di atas segalanya, termasuk di atas duniamu. Berkali-kali Tuhan mengingatkan bahwa harta, istri, dan anak adalah kesenangan dunia yang menipu. Apa bukan bodoh namanya kalau sudah diingatkan berkali-kali tapi tetap saja melanggar? Apalagi yang mengingatkan adalah Tuhan, raja segala raja.
Iqbal Imajiner: Umurmu baru 13 tahun, tapi omonganmu seperti ustadz yang kulihat di TV
Yolan Imajiner: Saat sakratul maut, kamu akan berubah dengan drastic. Tenang saja, kamu akan merasakannya juga, begitu pula dengan mereka yang memakan harta riba, mereka yang mempunyai nafsu besar pada harta dunia, dan mereka yang banyak tertawanya dan sedikit syukurnya.
Iqbal Imajiner: ……..
*Korban gempa di padang yang sampai malam ini masih berada di bawah puing gedung Gama yang rubuh, entah dalam keadaan bernapas atau tidak. Sampai sore tadi, korban yang telah ditemukan di bawah gedung itu sudah 21 orang, 4 di antaranya masih hidup, sisanya sudah tak bernyawa. Ada puluhan lagi yang masih belum dievakuasi, termasuk Yolanda.
Bincang dengan Bruce Wayne* Imajiner November 5, 2009
Posted by Iqbal in imajinasi, politik.Tags: batman, bibit chandra, bruce wayne, kpk, media, polri
add a comment
Iqbal: Wah, di Gotham sih enak, jelas musuhnya, yang baik keliatan baik, yang jelek keliatan jelek. Kalo emang mau membela orang baik, gak akan sia-sia karena jelas dia baik…
Bruce imajiner: Lah, emang di Jakarta gimana ?
Iqbal: Beh, susah bedain hitam putih Bruce, yang putih keliatan putih yang hitam juga keliatan putih, malah yang hitam bisa jadi keliatan lebih putih daripada yang putih… nah loh, bingung kan ?!
Bruce imajiner: Loh kok bisa gitu ?
Iqbal: Kita kan Cuma dapat info dari media aja. Opini kita jadi tergantung media. Padahal, kualitas media sekarang lebih cupu dibanding jaman dulu, ditambah lagi gak ada sortiran kalo mau jadi wartawan, semua orang bisa jadi wartawan, jadi ya gitu deh kualitasnya… judgement di mana-mana, keliatan gak berimbang banget deh…
Bruce imajiner: Hmmm… keadaannya mirip waktu ane ngelawan penguin dulu, judgement di mana2… Suap-menyuap udah jadi satu hal yang biasa, nonton film ane yang batman begins kan ?! Di situ juga jelas banget si gendut musuh ane tuh nyogok semua orang…
Iqbal: Ya itu tadi yang ane bilang, di Gotham jelas siapa yang gak bener… Juga jelas siapa yang bener, dalam film itu kan yang bener ada ente, wartawan idealis yang ente suka, sama polisi baik itu… Lah kalo di sini abu-abu banget…
Bruce imajiner: Emang lagi ada kasus apa sih di Jakarta ? Udah lama juga ni gak buka okezone
Iqbal: Ada isu penggembosan KPK, semacam lembaga antikorupsi, coba googling Bibit Chandra deh…
Bruce imajiner: hah??? Bibit Chandra udah bosen main bulutangkis ?
Iqbal: Yee… itu Sigit Chandra oon…
Bruce imajiner: Hmmm… oiya banyak banget tulisan baru tentang mereka… kyknya seru nih, apa perlu ane ke Jakarta buat ngebela Bibit ?! Tapi belum bikin kapal selam nih, gampang deh, nanti bs minta tolong james bond… Oke, ane siap ngebantu, bal !
Iqbal: Tuh kan… emang berdasar apa ente berani ngejudge mereka bener, sampe2 mau ngebela gitu ?
Bruce imajiner: Lah itu tulisan-tulisan internet…
Iqbal: Ya itulah titik dasar yang ane kritik, coba baca baik-baik semua pemberitaan dan coba analisis… berimbang gak tulisannya ?
Bruce imajiner: Dari tulisannya jelas kok Bibit bener…
Iqbal: Itu dia, media sekarang mirip Tunggul Ametung jaman dulu, semua yang keluar dari mulutnya udah dianggap benar sama masyarakat, dianggap valid, gak perlu disortir lagi…
Bruce imajiner: Ya abis dari mana lagi sumber informasi kalo bukan dari media ?
Iqbal: Ya dari media, maksud ane jadi pembaca yang kritis gitu loh, gak plek-plekan dimasukin otak. Memang masyarakat negara ane udah cukup kritis sama keadaan politik, tapi sayangnya justru kurang kritis sama media.
Bruce imajiner: Hehe… mungkin ane perlu bikin “Batman Watch” di Jakarta seperti yang ane lakukan di Gotham, masyarakat terpilih kirim surat ke ane lewat pipa-pipa rahasia tentang suatu kejahatan, langsung deh ane klarifikasi, langsung gibas !
Iqbal: Waduuuh, bikin jalan yang meng-cover semua desa aja susah, apalagi mau bikin pipa rahasia… Apa mau nyumbangin warisan perusahaan dari Bapak ente buat bikin infrastruktur Indonesia ?
Bruce imajiner: Yaaa… jangan donk, ane juga butuh dana, to save Gotham yang ane banggakan… hahha…
Iqbal: Wah, ribet.. ribet.. Ane bingung mau ngebela siapa jadinya, walaupun pembelaannya kecil juga sih, Cuma dalam bentuk tulisan paling, hehe
Bruce imajiner: Dari pendapat ente sebelumnya, kyknya ente nggak suka sama Bibit ya ?
Iqbal: Tuh kan salah lagi, ane gak ngebela siapa-siapa, justru ane bingung mau ngebela siapa…
Bruce imajiner: Ya bela Bibit donk…
Iqbal: Hmmm… gak dulu deh, kalo Bibit itu kakek ane yg ane kenal baik dan tahu tingkah lakunya gak macem-macem, ya ane pasti bela dia, tapi ane belum jelas betul tentang kepribadiannya, mending jadi penyimak yang baik aja dulu…
Bruce imajiner: Bal, sorry nih, ada surat lagi masuk, lain kali kita lanjutin ya…
Iqbal: Yowes, hati-hati di jalan ya, banyak copet.
Bruce imajiner: Loh, ane justru mau nyari copet.
Iqbal: Oiya, hehe.
*Nama paginya Batman


