jump to navigation

Industri Kerajinan: Desain Nomor Satu! Juni 16, 2011

Posted by Iqbal in lingkungan, pertanian, politik.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Tri reni Budiarti

Direktur Kerajinan, IKM, Depperin

November 2008

Existing condition kerajinan kita bagaimana?

Kerajinan kita sudah maju. Sentranya sudah banyak sekali, terutama anyaman. Hampir seluruh bahan tanaman bisa dianyam, bisa dibuat menjadi sebuah produk. Contohnya pandan, eceng gondok, kemudian bambu di Bali. Kemudian khas dari NTB, anyamannya dari getak (??). Setiap daerah punya kekhasan sendiri. Ada lidi dari kelapa di Lampung. Jadi seluruh Indonesia itu punya anyaman. Tinggal tingkat kemajuan dari daerah masing2. Tasik dan Bali itu sudah maju.

Kemudian gerabah, ada Kasongan, ada Plered, ada di daerah Lombok barat juga. Kemarin saya habis ke Pulutan, 2 jam dari Manado, itu juga bagus. Kemudian ada takalar(??), ada dinoyo (??) di Malang.

Kemudian kayu, ini ada di mana2, tapi yang paling maju adalah di bali. Bali kan pematung2nya sudah banyak sekali.

Kemudian perhiasan kita juga sudah baik, terutama batu mulia, ada di Pacitan, saya bisa ngurutin dari Sumatra Barat.

Faktor yang mempengaruhi kemajuan daerah?

Kalau Jogja sama Bali itu karena pasarnya aja ya. Pusat pariwisata juga. Barang yang di Bali juga barangnya ada yang bukan dari Bali. Maju atau tidaknya itu, poin pertamanya dari desain. Tergantung mereka bisa menangkap tren desain atau tidak. Contohnya Kasongan. Di sana banyak orang pintar2. Mereka bisa melihat tren warna. Mereka banyak lihat di internet. Selain itu, seniman2 di kasongan juga banyak. Kan banyak yang pengrajin bikin itu2 aja.

Akses ke tempat terpencil sulit, bukannya jaringan nomor satu?

Desain nomor satu! Itu yang paling mempengaruhi. Baru yang kedua masalah pasar. Kalau untuk pasar lebih baik ke luar negeri. Kita kayaknya masih menengah ke atas saja yang senang dengan craft.

Untuk promosi kita di luar dan di dalam. Ikut yang pameran jewelery di Hongkong dsb. Jadi kombinasi saja tergantung kemampuan anggaran.

Apa kita kesulitan dapetin bahan baku?

Yang sedikit bermasalah kayu. Anyaman kadang2 ada. Di Tasik agak kesulitan mencari pandan karena di Tasik itu kan sentranya besar sekali, jadi dia ngambil dari daerah mana2. Tapi tetap jalan. Kayu yang secara nasional sulit karena ada aturan memperketat kayu. Kalau rotan saya kurang tahu karena itu bukan bagian kerajinan, kulit juga bukan.

Selama ini pembinaannya gimana?

Ada pelatihan teknis, pelatihan desain, dsb. Kita yang lebih fokus sebetulnya pada sentra. Kita sedang mulai mengadop konsep OVOP, ada 15 provinsi yang sedang mulai.

Permasalahan?

Desain sama pasar. Namanya kerajinan itu sesuatu yang dibuat dari tangan. Jadi kerapihan itu penting, kadang itu yang di-complaint sama buyer. Tapi kalau buyer yang sudah ngerti, mereka tahu craft itu kan dibuat dari tangan jadi produknya tidak bisa standar sama semua. Kerapihannya sama bentuknya gak bisa sama terus.

Pasar paling potensial?

Amerika. Krisis ini sangat berpengaruh. Di Kasongan itu yang saya liat berpengaruh, ya 50% lah pengaruhnya. Kemudian perhiasan di eropa potensinya besar.

Saingan kita banyak. Thailand udah maju banget. Selain itu ada juga India, Filipina, Vietnam. Saingan kita di kawasan Asia ini.

Saya beli tas dari Thailand, itu dia rapi sekali. Belah2 bambunya pakai tangan loh, bukan pakai alat. Bisa dibelah kecil sekali. Itu org2 tua yang melakukan. Senang kalau ngeliatnya.

Pasar lokal kan kurang berkembang?

Ya kan kita gak bisa paksakan juga. Di kita ini kan bukan barang primer ya. Kita ke perut dulu. Tapi sekarang setelah melihat pameran2 craft, ya Inacraft dsb itu kan selalu penuh. Lihat saja nanti. Inacraft itu seperti pasar, kita sulit bergerak di dalam. Tahun depan banyak pameran.

Perkembangan setiap tahunnya?

Sudah cukup bagus. Industri kreatif kan ada 14. Salah satunya kerajinan. Peranan kerajinan dalam industri kreatif itu cukup bagus. Kalau perkembangan tiap tahun tergantung produknya, ada yang naik ada yang gitu2 saja.

Kalau krisis AS ini belum terlihat efeknya di BPS, tapi di bbrp pengrajin sudah merasakan. Untuk memperkecil kerugian seperti ini, klasik sih memang, tapi kita coba buka pasar baru. Itu memungkinkan. Bisa ke daerah Afrika Selatan.

Pemain terbesar?

Tergantung daerah tergantung jenis juga. Kalau di kasongan itu Pak Timbul. Di Tasik ada Bu Santi, Pak Asep. Mereka terbesar di produk tertentu.

Paling Gampang Keruk PAD dari Alam Maret 6, 2011

Posted by Iqbal in budaya, lingkungan, politik.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Suryo Hadi Wibowo (bagian 1)

Dosen IPB

Maret 2009 di Bogor

Partai mana yang paling melek dengan isu lingkungan?

Paling PKB yang mengclaim dia partai hijau tapi dia sendiri tidak tahu apa itu partai hijau, kan gimana.. Esensi dari partai hijau itu apa yang dia belum ketahui, tapi dia mengclaim dirinya partai hijau.

Jadi, dari sekian partai itu tidak ada yang serius?

Tidak ada. Soalnya jangan kamu bayangkan lingkungan hidup itu pencemaran dan kualitas air. Itu salah satunya saja. Justru esensinya adalah kemiskinan akibat dari sumber daya alam. Kemiskinan karena kebijakan akan sumber2 alam. Air, hutan, sungai, besi, kebijakan2 partai itu kan tidak ada, yang ada kan kebijakan2 partai yang sudah jadi menteri, gubernur, bupati.

Di metro itu saya bilang waktu penutupan, 10 tahun lebih yang lalu, orang pergerakan lingkungan semua bersatu untuk kemudian bersama2 mengganti rezimnya orde baru biar lebih demokratik dan tidak sentralistik. Artinya disinggung supaya pengelolaan lingkungan supaya menjadi lebih baik.

Karena waktu itu pandangannya, kalau ada rezim yang lebih demokratik sudah desentralisasi. Itu yang diperjuangkan dulu. Ternyata tidak. Sekarang sudah sepenuhny desentralisasi. Tapi kenapa kerusakan semakin besar? Karena kebijakan politiknya yang kalau untuk memenuhi kantong2 pendapatan asli daerah atau juga dalam rangka dengan partai yang mengusung dia. Yang paling gampang untuk menutupi pundi2nya ya dari sumber alam.

Nah sumber alam mah sudah tersedia, gusti Allah sudah menyediakan, tinggal kasih lisensi saja. Itu yang membuat, setelah diteliti dari 300 perda, saya teliti, dari seluruh pulau jawa cenderung untuk eksploitasi.

Tentunya bapak sudah menyuarakan itu kan?

Itu kan dari menko perekonomian, mencabut perda2 atau memberi peringatan kpada kabupaten2. Saya tidak tahu itu dilakukan atau tidak. Mestinya harus menjadi tindakan politik kan. Menko perekonomian mungkin lebih sibuk mengatasi krisis finansial sekarang ini.

Jadi kesimpulan saya, menjelang pemilu ini sumber daya alam makin banyak rusak. Dari mana dia dapat uang? Mungkin dibayarnya setelah pemilu dalam bentuk lisensi atau apa gitu. Maka urusan pengurusan sumber daya alam itu urusan politik, bukan urusan teknis.

Jadi nasib lingkungan hidup ke depan?

Akan lebih parah lagi, akan makin banyak kerusakan. Pulau jawa apalagi, lebih banyak kerusakan. Lah iya, kebijakannya tidak banyak berubah. Kita harus bikin daftar negatif proyek di pulau jawa.

Pada akhir proyek, bisa tidak menko perekonomian mengumumkan daftar negatif projek. Artinya, proyek2 yang tidak boleh didirikan di pulau jawa karena akan mendorong kerusakan sumber alam lebih lanjut. Pembangunan jalan tol misalnya. Kenapa bukan jalan kereta api, kenapa jalan tol? Sekarang sudah dibagi2 kan kavling jalan tol yang sampai banyuwangi kan sudah.

Sama saja kan dengan jalan kereta api?

Oh lain. Tidak akan membuat wilayah2 di sepanjang kanan kiri jalan. Beda sekali. Dia tidak akan membangkitkan pemukiman2 sepanjang jalan. Paling di titik2 di mana stasiun kereta. Mereka tahu bahwa ini sudah keputusan politik. Keputusan politik kan sudah dibuat.

Jadi jangan dikira climate change bukan keputusan politik, itu keputusan politik. Itu kepentingan global dengan para pengusaha yang bergerak di carbon trade. Ratifikasi protocol Kyoto, itu persoalan politik dan ekonomi. Jadi, politik, ekonomi, dan lingkungan sudah tidak bisa dipisahin.

Jadi, butuh keberpihakan?

Ya, keberpihakan kepada masyarakat dan juga lingkungan. Ambil keputusan stratejik yang bisa membuat ini semua bergerak sampai ke mata rantai pertanian. Semuanya harus berpihak donk, mau berpihak pada perusahaan besar atau rakyat kecil, kan gitu.

Sasi itu tatanan adat di Indonesia timur, di mana orang bisa ambil ikan menurut tatanan adat. Sasi tutup orang tidak boleh ambil. Kapal motor tidak boleh masuk. Kemudian sasi dibuka, orang boleh ambil sesukanya, lalu tutup lagi. Itu bentuk kearifan lokal yang luar biasa. Tiba2 kemudian itu lisensinya dikasih oleh pemda. Nah pemda kan cuma lihat ekonomi.

Kalau di Sumsel itu ada yang namanya lebak lebung. Rawa2 ketika kering di cekungan, ikan berkumpul di situ semua. Nah itu dilelang oleh warga. Sekarang hancur sudah tidak ada karena sudah ditarik pemda, pemda yang melelang. Ini persoalan2 politik, mau tidak menyerahkan itu kepada rakyat?

Yang saya dan teman2 teriakkan itu jangan berhenti pada desentralisasi tapi devolusi. Desentralisasi itu mentransfer kekuasaan mengatur urusan2 berpemerintah dan bernegara dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah tapi kalau devolusi mentransfer kedaulatan dari pemerintah ke rakyat

Caranya konkretnya?

Oo sudah banyak. Contohnya di hutan. Hanya satu yang diberikan devolusi oleh dephut selama dephut berdiri, di penghujung akhirnya zaman Suharto. Hutan damar di Krui, Lampung Barat. Itu diserahkan pengelolaannya kepada mereka. Mereka yang mengelola. Kawasannya mereka yang mengelola. Dan hutannya lebih bagus daripada yang negara punya.

Tapi tentu masyarakatnya jangan yang tidak punya ikatan sosial yang kuat. Kalau tidak punya ikatan sosial yang kuat ya dialihkan ke orang lain kan. Ada contoh beberapa Taman Nasioal. Kepala TN itu berani memberikan akses kepada masyarakat desa yang dari dulu sudah punya tataran akses ke dalam hutan karena adat. Tapi jadi tidak boleh karena ada TN. Padahal aturan tata ruangnya mirip dengan TN, cuma istilahnya saja beda.

Di sini zona inti di sana wana kiki, tapi esensinya sama. Di sini zona rimba di sana wana. Dia punya kekuasaan untuk mengatur area. Dia punya polisi adat sendiri yang jauh lebih banyak daripada kalau kawasan itu dijaga polhut. Masyarakat ikut menikmati. Begitu ngasih seperti itu, harus hati2, karena bisa bertentangan dengan UU no5 tahun 90, si kepala taman nasional ini. Itu kan soal politik devolusi.

Negara ini kan berdiri karena tadinya satuan2 kecil dari masyarakat. Karena kita mau bikin negara RI, percaya sama sukarno, diserahkanlah semua sama sukarno. Itu yang mjadi penting. Pengelolaan lingkungan hidup, tidak semata soal kualitas udara, air, tapi juga soal kehidupan yang menunjang hidup manusia.

Sehingga kalau pengelolaan lingkungan tidak menyertakan lingkungan itu benar2, bagaimana bisa dibilang mengetahui lingkungan. Pengelolaan lingkungan itu harus bersama rakyat. Ketika partai dikasih kesempatan presentasi sebentar, kalian semua ini elitis saya bilang, di mana rakyatnya kok tidak ada. Dia bilang karena waktunya terbatas. Mana bisa sampah dikelola dengan teknologi. Seolah diselesaikannya hanya dengan teknologi, tidak bisa.

Rakyat yang harus diajarin. Inilah sampah, buanglah sampah, dengan penindakan hokum. Itu butuh waktu 10-20 tahun supaya tertib buang sampah, nanti diangkut dalam frekuensi tertentu. Nanti di ujung yang sampah anoranganik sudah ada pabrik2 kecil yang mengolah kemudian yang sampah oranganik bisa jadi macam2, tidak usah kita bicara. Sehingga sampah jadi manfaat, bukan malapetaka. Sekarang, sampah menggunung di bantar gebang. Sudah malapetaka itu, semua ditumpuk jadi satu. Jadi kita cuma mindahin sampah itu. Dari rumah ke TPS, TPS ke TPA.

Itu salah?

O salah donk, itu kan harus dipilah dulu.

Tapi sosialisasi untuk ke situ kan sudah?

Tidak ada sebagai gerakan. Makanya frustasi orang2 pemda cerita, gimana donk pak kita sudah kasih penyuluhan besok gt lagi. Seharusnya kasih contoh kasih penindakan hukum. Cina saja yang masyarakatnya banyak kok bisa untuk tidak buang ludah sembarangan. Tapi panjang waktunya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.