jump to navigation

Janji Soekarno pada Daud Beureueh April 17, 2012

Posted by Iqbal in islam, politik.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

Saya baca cuplikan tulisan berikut pada buku berjudul Api Sejarah 2 karya Ahmad Mansur Suryanegara hal 344. Dialog di bawah ini terjadi sebelum DI TII Aceh meledak.

***********

Dalam dialognya dapat kita ikuti keterangan M Nur El-Ibrahimy dan Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai berikut:

Presiden: Saya minta bantuan Kakak Daud Beureueh agar rakyat Aceh turut mengambil bagian perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Daud Beureueh: Sdr. Presiden. Kami Rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa Perang Sabil atau Perang Fi Sabilillah, perang untuk menegakkan Agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.

Presiden: Kakak, memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Tengku Tjhik di Tiro, dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan “Merdeka atau Syahid”.

Daud Beureueh: Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Sdr. Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Sdr. Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syarit Islam di dalam daerahnya.

Presiden: Mengenai hal itu, Kakak tak usah khawatir. Sebab 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam.

Daud Beureueh: Maafkan saya Sdr. Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu tidak menjamin bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Sdr. Presiden.

Presiden: Kalau demikian baiklah, saya menyetujui permintaan Kakak itu.

Daud Beureueh: Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Sdr. Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada Presiden) sudi kiranya Sdr. Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.

Melihat permohonan Daud Beureueh itu, Presiden menangis terisak-isak. Dan berkata: Kakak, kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya?

Daud Beureueh menjawab: Bukan kami tidak percaya Sdr. Presiden. Akan tetapi hanya sekadar menjadi tanda untuk berperang.

Presiden sambil menyeka air matanya berkata: Wallah, Billah, kepada Daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Wallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?

Daud Beureueh: Saya tidak ragu-ragu lagi Sdr. Presiden. Sekali lagi, saya atas nama rakyat Aceh mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Sdr. Presiden.

Iklan

Bedah Martabak Kubang September 11, 2011

Posted by Iqbal in kuliner.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Elvi Agus

Penggiat Martabak Kubang

2008

Awalnya gimana pak, kok bisa bikin resto ini?

Awal masuk ke jawa itu tahun 88. Pak Darwis ini dulu dia merantau, dia memang dari keluarga yang dagang nasi. Dari kecil merantau ke daerah riau, bengkalis, namanya sinaboy. Dia orang padang asli, orang payakumbuh. Di riau itu ada namanya martabak keling. Mungkin karena banyak ngeliat gini-ginian, hatinya tergerak.

Dia coba-coba di Payakumbuh. Dia pakai bumbu rendang di dagingnya, tapi bumbunya lebih keras. Inilah perbedaannya. Selain itu, kuahnya dipakai kuah kecap, itu skitar awal-awal tahun 77 Pak Hayuda ini mulai di kampung-kampung. Jual martabak ini, soto padang, nasi goreng, mi goreng, mi rebus. Nah, trus mulai pindah ke kota padang, mulai jualan martabak manis.

Tahun 71 baru mulai di depan bioskop kota padang. Waktu itu betul-betul dari pakai gerobak, dari nol, tidur saja di gerobak. Kemudian baru ada nempel di kios orang, di simpang kandang, terkenal sekali itu simpang kandang. Di situlah mulainya sampai tahun 75. itu blm ada nama. Di situlah baru mulai punya kios sendiri di jalan yamin. Nah di situ baru buat nama Restoran Kubang. Di padang ini namanya martabak mesir. Mulailah tumbuh dan berkembang. Satu restoran gini. Kubang diambil dari nama desa.

Terus, kok bisa ada di Jakarta?

Itu sekitar tahun 86, saya lagi jalan-jalan di Jakarta. Waktu itu saya lihat ada lahan di sahardjo. Saya coba diskusikan di dengan saudara-saudara saya di padang. Akhirnya sepakat pada mau bikin restoran martabak mesir. Itu tahun 88, yang pertama di saharjo. Ubah namanya tahun 2002 jadi martabak kubang. Tapi yang di padang tidak ngubah nama. Ngapain juga kita bawa bawa nama mesir?hehe. Dulu kan banyak juga martabak mesir, semenjak saya ubah nama jadi martabak kubang pada ngubah nama juga jadinya. Memang orang-orang yang bikin kecil-kecil itu saudara juga.

Gimana kesempatan belajar bagi karyawan?

Sangat luas. Kita berkomitmen untuk tidak menghendaki karyawan itu kerja terus di kita, kita tidak pernah punya niat untuk tidak membagikan ilmu ke karyawan. Di sini malah dianjurkan untuk belajar. Itu komitmen dari pertama. Tapi kalau bikin sendiri harus pakai logo sendiri. Jadi, intinya di sini tidak ada istilah menyembunyikan.

Ada cabang yang akan dbuka lagi?

Belum. Yang sudah ada itu di kalimalang, sahardjo, margonda, serpong. Yang paling baru di serpong. Kalau di padang ada dua. Kita msh bingung menentukan lokasi untuk buka cabang lagi. Lokasi tu sangat menentukan sekali.

Perbedaan dengan martabak lain?

martabak kubang. Dok: http://martabakkubang.com

Bumbunya pakai bumbu padang untuk yang daging gilingnya. Trus daging martabak kita tebal. Kami tidak menggorang, kita tidak pakai minyak, tapi mentega. Di kuali yang datar itu kita pakaikan mentega. Kalau harga, tidak jauh beda dari martabak lain. Dapur kita di depan, memang sengaja. Supaya orang-orang tahu cara masak makanan yang mereka akan makan. Orang bisa tahu sebersih apa kita masak.

Menu andalan?

Yang pertama ya martabak, ada yang standar, spesial, super, bedanya Cuma di porsi saja. Teh telor juga unik. Telurnya sangat terasa tapi rasa amisnya tidak ada. Tidak ada resep khusus, hanya ketepatan mencampur saja. Teh telur ini orang kuat begadang. Ada juga mie rebus yang warna kuahnya putih, ini dari telor, tidak pakai santan. Cara membuatnya ini yang harus hati-hati. Cara masukin telur dan waktu yang tepat sangat berpengaruh. Mi rebus ini Cuma ada di martabak kubang saja. Ini hasil utak atik sendiri. Ada juga roti cane. Kita tambahin toping di atasnya, ada duren, srikaya, keju. Banyak orang yang mesen ini.

Bumbunya pakai rempah apa saja?

Seperti bumbu padang pada umumnya lah, ada kapulaga, kayu manis, isi buah pala, jahe, cengkeh, dan lada. Ada juga ketumbar. Pokoknya sama seperti bumbu padang, Cuma lebih keras. Kalau di kuah tidak pakai rempah, tapi pakai bawang bombay. Rasa kuah ini yang cukup berpengaruh.

Jadi gimana bumbu kuahnya?

Dari padang, bukannya karena tidak bisa dibuat di sini, tapi karena kondisi cabe rawit di sini beda sama di padang. Benar-benar diproses di sana. Setiap 2 minggu sekali dkirim dari padang, kelapa juga dari padang.

Segmentasi pasar?

Sebetulnya bebas-bebas saja, tapi mungkin kalau ngeliat harga ya menengah ke atas.

Penjualannya?

Senin pasti sedikit sekali, weekend ramai. Rata-rata lebih dari 1000 martabak per hari untuk empat cabang di Jakarta.

Karyawan?

Total 80 dari 4 cabang. Karyawan saya terdiri dari jawa, sunda, padang. Padang justru sedikit.

Terigunya pakai apa?

Biasa saja, bogasari. Abis 4-6 karung sehari untuk4 cabang. Telur biasa saja, dari sini. stiap hari ada yang nganterin telur bebek, ada juga telur ayam kampung.

Yang banyak orang pesen? Sbetulnya saya mau ngorbitin teh telur itu. Ini the real cappucino from west sumatra. Teh telur ini Cuma ada di restoran padang besar.

Pengunjung Martabak Kubang ini siapa?

70% orang padang.

Ini kan usaha keluarga, ada manajemennya gak?

Ada. Bahkan ini jadi restoran yang ada pembukuannya dengan rapi, saya pakai cost code. Seperti proyek saja. Setiap hari saya bisa lihat profit harian, catatan lengkap banget.

Olah Ubi Juli 6, 2011

Posted by Iqbal in pertanian.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Sutrisno, Dosen IPB, tahun 2008

Penggunaan Ubi selain konsumsi langsung?

Variaetas Aramoya saki ditanam di daerah Kuningan, setelah dipanen, dikupas, dibentuk tertentu, kadang2 dibekukan (freezer) kemudian dipack. Di Jepang ini sudah jadi makanan sehat, teman minum teh. Mungkin karena keterbatasan tanah sedangkan kebutuhan mereka tinggi, jadinya ditanam di Indonesia.

Ini seperti paradoks. Di Indonesia kan dianggap inferior. Di Jepang dan Cina itu sebagai makanan fungsional si ubi jalar itu. Di cina juga sebagai tepung.

Gimana Keadaan Produksi kita?

Rata2 nasional 10 ton/ha, potensinya di Indonesia 40 ton. Itu dengan teknologi yang sekarang. Kita pernah nyoba ke petani di cibungbulang bisa sampai 15. literatur mngatakan max 80 ton. Kalau ubi kayu (singkong) itu mungkin saja bisa sampai 200ton/ha, dengan teknik disambung dll.

Produksi ubi terbesar?

Di jawa banyak. Di irian juga, bahkan kan jadi konsumsi mereka. Di Indonesia juga banyak varietasnya. Bahkan di irian itu sampai hampir seribu varietas. Itu sudah dikumpulkan juga plasma nutfahnya oleh departemen terkait. Misalnya balitbio sudah mendata hampir seribu jenis. Sebagian besar bisa dikonsumsi. Di Indonesia bisa mencapai ratusan, hampir seribu.

Luar negeri?

Amerika tengah, itupun tidak sebanyak Indonesia.

Potato flags?

Sudah ada industrinya tapi belum jalan dengan baik. Memang kita lagi mencari juga investasi ke sini. Rasanya ada khas ubinya.

Mie ubi?

Ini juga pernah dibuat. Sebetulnya bisa dibikin dari 100% ubi asal mindset kita jugan dibandingkan dengan terigu. Selama ini kan kalau produknya terigu ya dibandingkan dengan terigu. Padhal ya apa adanya. Seprti mie ramen itu ya sprti itu, memang dari ubi jalar. Jadi kita tidak harus mbandingkan dengan mie dari terigu. Selama ini ya gitu, sebetulnya kita bisa bikin roti dari ubi jalar. Ya itulah hasilnya. Tidak usah dbanding2kan. Kita terlalu lama dberi bahan tepung2an beribasis terigu. Tidak hanya orang awam, tapi peneliti juga ada yang gitu. Jadi, mindset perlu diubah.

Ubi sebagai kuliner?

Ada juga yang berani, seperti bapau telo, nasi selo (seloboga). Ubi ya gitu, tidak usah dibandingkan.

Keunggulan ubi?

Sebagai makanan sehat. Kalau dari warna, yang kuning dan oranye itu beta karotennya tinggi, sebagai provitamin A. Kemudian yang ungu itu antosianin, untuk antikanker.

Proteinnya?

Memang rendah. Ada beberapa produk yang dikembangkan untuk itu, namanya composit flour. Di luar negeri itu salah satu komoditas yang segitu banyak penggunaannya di industri. Mis: tepung ubi kan kurang dalam protein, dicampurlah dengan kacang2an.

Budaya makan beras diganti ubi?

Sulit, kecuali sudah biasa. Paling bisa ya jadi makanan sarapan aja.

Gizi ubi bisa mnggantikan beras?

Masih kurang jauh dari beras di protein. Ubi itu kan kandungan proteinnya di bawah 3%, beras bisa 7%.

Jenis yang paling utama dikembangkan?

Secara tradisional itu sudah dkumpulkan juga varietas2. Saya kurang tau tentang hulu, tapi ada beberapa seperti untuk tepung. Ubi itu kan ada yang patinya tinggi ada yang gulanya tinggi. Untuk tepung kita cari yang patinya tinggi gulanya tidak terlalu tinggi. Kalau gulanya tinggi untuk tepung susah. Yang patinya tinggi itu bisa sukuh, bisa juga yang dari Jepang itu aramuya saki.

Ada juga ceret yang patinya tinggi, yang warnanya merah. Ceret itu sebutan petani aja. Ada juga yang ungu. Itu di balitkabi (Balai Penelitian Kacang2an dan Umbi2an), mereka punya var ungu yang baru dlepas sebagai varietas. Kalau sudah dilepas begini berarti sudah stabil, karakteristiknya tidak berlaku lokal saja.

Proses pengolahan tepung dari ubi?

Kita punya unit pengolahannya di cibungbulang. Kita bisa mngolah 1 ton ubi basah per hari. Jadinya kira2 20-30% tepung. Setelah jadi tepung ini bisa jadi macem2, mie basah, mie instan. Tapi mie instan itu atidak sulit teksturnya, butuh modifikasi sedikit.

Mocal?

Tepung dari ubi kayu (singkong). Tapi sebelum jadi tepung difermentasi dulu 3 hari sehingga ada prubahan pati. Patinya brubah. Hasilnya ini ya disebut mocal.

Klemahan mocal itu, karena produksi masyarakat banyak, jadi ada perbedaan mutu hasil ubi. Perlu ada SOP supaya hasilnya tidak beda2.

Ubi cilembu?

Kemungkinan tempat penanaman di sana beda. Kyk singkong aja. Kalau nanam di sawah lebih empuk daripada di tegalan.

Harga ubi jalar di pasaran?

Kalau di daerah bogor agustus-maret itu harganya rendah, maret-agustus tinggi. Sekarang ini bisa 1500. kalau habis puasa itu bisa 600. ini karena supply  demand aja.

Panen?

Empat bulan sudah panen. Stelah panen biasanya petani menyisakan dari daunnya untuk distek lagi.

Faktor produktivitas?

Pemupukan, pemilihan bibit, jarak tanam. Yang paling penting ya pupuk itu.

Cibungbulang?

IPB bertindak sebagai pendamping aja. Mereka membentuk koperasi arum jaya. Semua petani dari 4 kecamatan yang bentuk koperasi itu. Mereka bikin ubi jadi tepung juga. Mereka jual ke lokal aja. Kami yang dari IPB ini yang bantu masarin. Satu kg tepung ubi djual 7000. Kita milih ubi yang tidak terlalu bagus, yang bagus dijual ke pasar. Selama 5 bulan waktu harganya lagi tinggi, kan alat pengeringnya itu bisa dipakai buat pengeringan yang lain. Kalau pas harga ubi lagi mahal memang jadi tidak ekonomis. Alat pengeringnya bisa dipakai buat yang lain, misal jagung, singkong. Mereka belum lama terbentuk, baru 2 bulanan. Badan hukumnya masih proses juga.

Proses penepungan lain?

Kalau yang untuk kebutuhan sendiri sih banyak, seperti di malang. Dulu di bogasari juga sempat masarin tepung ubi, ada yang ungu, putih, dan kuning. Harganya sama seperti terigu. Tapi sekarang karena restrukturisasi bogasari jadi ditunda mungkin. Memang penepungan selain beras masih jarang.

Kita bisa ganti 10% untuk mie aja itu sudah luar biasa. Kita akan kesulitan nyari bahan baku. Sekarang terigu itu bisa 4 juta ton/thn di Indonesia. Kalau 10% aja bisa diganti. Pdhal 10% itu suatu hal yang mudah untuk masukin ubi. Bahkan sampai 50% pernah dcoba. Sampai 100%pun bisa asal jangan roti karena roti kan butuh pengembangan. Seperti biskuit, cookies itu tidak masalah. Kalau 10% itu sudah 400 ribu ton diperluin tepung ubi. Berarti butuh 2 juta ton ubi segar.

Itu kan pasar baru, tidak mnghilangkan pasar yang sudah ada. Karena pada saat murah, ubi itu dipakai buat produksi bukan konsumsi sperti saus2 yang murah itu. Kalau secara kualitas diganti 10% itu tidak banyak berubah. Trus kalau di pasar ada, masyarakat akan mencoba. Rasanya juga tidak jauh beda.

Industri Kerajinan: Desain Nomor Satu! Juni 16, 2011

Posted by Iqbal in lingkungan, pertanian, politik.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Tri reni Budiarti

Direktur Kerajinan, IKM, Depperin

November 2008

Existing condition kerajinan kita bagaimana?

Kerajinan kita sudah maju. Sentranya sudah banyak sekali, terutama anyaman. Hampir seluruh bahan tanaman bisa dianyam, bisa dibuat menjadi sebuah produk. Contohnya pandan, eceng gondok, kemudian bambu di Bali. Kemudian khas dari NTB, anyamannya dari getak (??). Setiap daerah punya kekhasan sendiri. Ada lidi dari kelapa di Lampung. Jadi seluruh Indonesia itu punya anyaman. Tinggal tingkat kemajuan dari daerah masing2. Tasik dan Bali itu sudah maju.

Kemudian gerabah, ada Kasongan, ada Plered, ada di daerah Lombok barat juga. Kemarin saya habis ke Pulutan, 2 jam dari Manado, itu juga bagus. Kemudian ada takalar(??), ada dinoyo (??) di Malang.

Kemudian kayu, ini ada di mana2, tapi yang paling maju adalah di bali. Bali kan pematung2nya sudah banyak sekali.

Kemudian perhiasan kita juga sudah baik, terutama batu mulia, ada di Pacitan, saya bisa ngurutin dari Sumatra Barat.

Faktor yang mempengaruhi kemajuan daerah?

Kalau Jogja sama Bali itu karena pasarnya aja ya. Pusat pariwisata juga. Barang yang di Bali juga barangnya ada yang bukan dari Bali. Maju atau tidaknya itu, poin pertamanya dari desain. Tergantung mereka bisa menangkap tren desain atau tidak. Contohnya Kasongan. Di sana banyak orang pintar2. Mereka bisa melihat tren warna. Mereka banyak lihat di internet. Selain itu, seniman2 di kasongan juga banyak. Kan banyak yang pengrajin bikin itu2 aja.

Akses ke tempat terpencil sulit, bukannya jaringan nomor satu?

Desain nomor satu! Itu yang paling mempengaruhi. Baru yang kedua masalah pasar. Kalau untuk pasar lebih baik ke luar negeri. Kita kayaknya masih menengah ke atas saja yang senang dengan craft.

Untuk promosi kita di luar dan di dalam. Ikut yang pameran jewelery di Hongkong dsb. Jadi kombinasi saja tergantung kemampuan anggaran.

Apa kita kesulitan dapetin bahan baku?

Yang sedikit bermasalah kayu. Anyaman kadang2 ada. Di Tasik agak kesulitan mencari pandan karena di Tasik itu kan sentranya besar sekali, jadi dia ngambil dari daerah mana2. Tapi tetap jalan. Kayu yang secara nasional sulit karena ada aturan memperketat kayu. Kalau rotan saya kurang tahu karena itu bukan bagian kerajinan, kulit juga bukan.

Selama ini pembinaannya gimana?

Ada pelatihan teknis, pelatihan desain, dsb. Kita yang lebih fokus sebetulnya pada sentra. Kita sedang mulai mengadop konsep OVOP, ada 15 provinsi yang sedang mulai.

Permasalahan?

Desain sama pasar. Namanya kerajinan itu sesuatu yang dibuat dari tangan. Jadi kerapihan itu penting, kadang itu yang di-complaint sama buyer. Tapi kalau buyer yang sudah ngerti, mereka tahu craft itu kan dibuat dari tangan jadi produknya tidak bisa standar sama semua. Kerapihannya sama bentuknya gak bisa sama terus.

Pasar paling potensial?

Amerika. Krisis ini sangat berpengaruh. Di Kasongan itu yang saya liat berpengaruh, ya 50% lah pengaruhnya. Kemudian perhiasan di eropa potensinya besar.

Saingan kita banyak. Thailand udah maju banget. Selain itu ada juga India, Filipina, Vietnam. Saingan kita di kawasan Asia ini.

Saya beli tas dari Thailand, itu dia rapi sekali. Belah2 bambunya pakai tangan loh, bukan pakai alat. Bisa dibelah kecil sekali. Itu org2 tua yang melakukan. Senang kalau ngeliatnya.

Pasar lokal kan kurang berkembang?

Ya kan kita gak bisa paksakan juga. Di kita ini kan bukan barang primer ya. Kita ke perut dulu. Tapi sekarang setelah melihat pameran2 craft, ya Inacraft dsb itu kan selalu penuh. Lihat saja nanti. Inacraft itu seperti pasar, kita sulit bergerak di dalam. Tahun depan banyak pameran.

Perkembangan setiap tahunnya?

Sudah cukup bagus. Industri kreatif kan ada 14. Salah satunya kerajinan. Peranan kerajinan dalam industri kreatif itu cukup bagus. Kalau perkembangan tiap tahun tergantung produknya, ada yang naik ada yang gitu2 saja.

Kalau krisis AS ini belum terlihat efeknya di BPS, tapi di bbrp pengrajin sudah merasakan. Untuk memperkecil kerugian seperti ini, klasik sih memang, tapi kita coba buka pasar baru. Itu memungkinkan. Bisa ke daerah Afrika Selatan.

Pemain terbesar?

Tergantung daerah tergantung jenis juga. Kalau di kasongan itu Pak Timbul. Di Tasik ada Bu Santi, Pak Asep. Mereka terbesar di produk tertentu.

Paling Gampang Keruk PAD dari Alam Maret 6, 2011

Posted by Iqbal in budaya, lingkungan, politik.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Suryo Hadi Wibowo (bagian 1)

Dosen IPB

Maret 2009 di Bogor

Partai mana yang paling melek dengan isu lingkungan?

Paling PKB yang mengclaim dia partai hijau tapi dia sendiri tidak tahu apa itu partai hijau, kan gimana.. Esensi dari partai hijau itu apa yang dia belum ketahui, tapi dia mengclaim dirinya partai hijau.

Jadi, dari sekian partai itu tidak ada yang serius?

Tidak ada. Soalnya jangan kamu bayangkan lingkungan hidup itu pencemaran dan kualitas air. Itu salah satunya saja. Justru esensinya adalah kemiskinan akibat dari sumber daya alam. Kemiskinan karena kebijakan akan sumber2 alam. Air, hutan, sungai, besi, kebijakan2 partai itu kan tidak ada, yang ada kan kebijakan2 partai yang sudah jadi menteri, gubernur, bupati.

Di metro itu saya bilang waktu penutupan, 10 tahun lebih yang lalu, orang pergerakan lingkungan semua bersatu untuk kemudian bersama2 mengganti rezimnya orde baru biar lebih demokratik dan tidak sentralistik. Artinya disinggung supaya pengelolaan lingkungan supaya menjadi lebih baik.

Karena waktu itu pandangannya, kalau ada rezim yang lebih demokratik sudah desentralisasi. Itu yang diperjuangkan dulu. Ternyata tidak. Sekarang sudah sepenuhny desentralisasi. Tapi kenapa kerusakan semakin besar? Karena kebijakan politiknya yang kalau untuk memenuhi kantong2 pendapatan asli daerah atau juga dalam rangka dengan partai yang mengusung dia. Yang paling gampang untuk menutupi pundi2nya ya dari sumber alam.

Nah sumber alam mah sudah tersedia, gusti Allah sudah menyediakan, tinggal kasih lisensi saja. Itu yang membuat, setelah diteliti dari 300 perda, saya teliti, dari seluruh pulau jawa cenderung untuk eksploitasi.

Tentunya bapak sudah menyuarakan itu kan?

Itu kan dari menko perekonomian, mencabut perda2 atau memberi peringatan kpada kabupaten2. Saya tidak tahu itu dilakukan atau tidak. Mestinya harus menjadi tindakan politik kan. Menko perekonomian mungkin lebih sibuk mengatasi krisis finansial sekarang ini.

Jadi kesimpulan saya, menjelang pemilu ini sumber daya alam makin banyak rusak. Dari mana dia dapat uang? Mungkin dibayarnya setelah pemilu dalam bentuk lisensi atau apa gitu. Maka urusan pengurusan sumber daya alam itu urusan politik, bukan urusan teknis.

Jadi nasib lingkungan hidup ke depan?

Akan lebih parah lagi, akan makin banyak kerusakan. Pulau jawa apalagi, lebih banyak kerusakan. Lah iya, kebijakannya tidak banyak berubah. Kita harus bikin daftar negatif proyek di pulau jawa.

Pada akhir proyek, bisa tidak menko perekonomian mengumumkan daftar negatif projek. Artinya, proyek2 yang tidak boleh didirikan di pulau jawa karena akan mendorong kerusakan sumber alam lebih lanjut. Pembangunan jalan tol misalnya. Kenapa bukan jalan kereta api, kenapa jalan tol? Sekarang sudah dibagi2 kan kavling jalan tol yang sampai banyuwangi kan sudah.

Sama saja kan dengan jalan kereta api?

Oh lain. Tidak akan membuat wilayah2 di sepanjang kanan kiri jalan. Beda sekali. Dia tidak akan membangkitkan pemukiman2 sepanjang jalan. Paling di titik2 di mana stasiun kereta. Mereka tahu bahwa ini sudah keputusan politik. Keputusan politik kan sudah dibuat.

Jadi jangan dikira climate change bukan keputusan politik, itu keputusan politik. Itu kepentingan global dengan para pengusaha yang bergerak di carbon trade. Ratifikasi protocol Kyoto, itu persoalan politik dan ekonomi. Jadi, politik, ekonomi, dan lingkungan sudah tidak bisa dipisahin.

Jadi, butuh keberpihakan?

Ya, keberpihakan kepada masyarakat dan juga lingkungan. Ambil keputusan stratejik yang bisa membuat ini semua bergerak sampai ke mata rantai pertanian. Semuanya harus berpihak donk, mau berpihak pada perusahaan besar atau rakyat kecil, kan gitu.

Sasi itu tatanan adat di Indonesia timur, di mana orang bisa ambil ikan menurut tatanan adat. Sasi tutup orang tidak boleh ambil. Kapal motor tidak boleh masuk. Kemudian sasi dibuka, orang boleh ambil sesukanya, lalu tutup lagi. Itu bentuk kearifan lokal yang luar biasa. Tiba2 kemudian itu lisensinya dikasih oleh pemda. Nah pemda kan cuma lihat ekonomi.

Kalau di Sumsel itu ada yang namanya lebak lebung. Rawa2 ketika kering di cekungan, ikan berkumpul di situ semua. Nah itu dilelang oleh warga. Sekarang hancur sudah tidak ada karena sudah ditarik pemda, pemda yang melelang. Ini persoalan2 politik, mau tidak menyerahkan itu kepada rakyat?

Yang saya dan teman2 teriakkan itu jangan berhenti pada desentralisasi tapi devolusi. Desentralisasi itu mentransfer kekuasaan mengatur urusan2 berpemerintah dan bernegara dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah tapi kalau devolusi mentransfer kedaulatan dari pemerintah ke rakyat

Caranya konkretnya?

Oo sudah banyak. Contohnya di hutan. Hanya satu yang diberikan devolusi oleh dephut selama dephut berdiri, di penghujung akhirnya zaman Suharto. Hutan damar di Krui, Lampung Barat. Itu diserahkan pengelolaannya kepada mereka. Mereka yang mengelola. Kawasannya mereka yang mengelola. Dan hutannya lebih bagus daripada yang negara punya.

Tapi tentu masyarakatnya jangan yang tidak punya ikatan sosial yang kuat. Kalau tidak punya ikatan sosial yang kuat ya dialihkan ke orang lain kan. Ada contoh beberapa Taman Nasioal. Kepala TN itu berani memberikan akses kepada masyarakat desa yang dari dulu sudah punya tataran akses ke dalam hutan karena adat. Tapi jadi tidak boleh karena ada TN. Padahal aturan tata ruangnya mirip dengan TN, cuma istilahnya saja beda.

Di sini zona inti di sana wana kiki, tapi esensinya sama. Di sini zona rimba di sana wana. Dia punya kekuasaan untuk mengatur area. Dia punya polisi adat sendiri yang jauh lebih banyak daripada kalau kawasan itu dijaga polhut. Masyarakat ikut menikmati. Begitu ngasih seperti itu, harus hati2, karena bisa bertentangan dengan UU no5 tahun 90, si kepala taman nasional ini. Itu kan soal politik devolusi.

Negara ini kan berdiri karena tadinya satuan2 kecil dari masyarakat. Karena kita mau bikin negara RI, percaya sama sukarno, diserahkanlah semua sama sukarno. Itu yang mjadi penting. Pengelolaan lingkungan hidup, tidak semata soal kualitas udara, air, tapi juga soal kehidupan yang menunjang hidup manusia.

Sehingga kalau pengelolaan lingkungan tidak menyertakan lingkungan itu benar2, bagaimana bisa dibilang mengetahui lingkungan. Pengelolaan lingkungan itu harus bersama rakyat. Ketika partai dikasih kesempatan presentasi sebentar, kalian semua ini elitis saya bilang, di mana rakyatnya kok tidak ada. Dia bilang karena waktunya terbatas. Mana bisa sampah dikelola dengan teknologi. Seolah diselesaikannya hanya dengan teknologi, tidak bisa.

Rakyat yang harus diajarin. Inilah sampah, buanglah sampah, dengan penindakan hokum. Itu butuh waktu 10-20 tahun supaya tertib buang sampah, nanti diangkut dalam frekuensi tertentu. Nanti di ujung yang sampah anoranganik sudah ada pabrik2 kecil yang mengolah kemudian yang sampah oranganik bisa jadi macam2, tidak usah kita bicara. Sehingga sampah jadi manfaat, bukan malapetaka. Sekarang, sampah menggunung di bantar gebang. Sudah malapetaka itu, semua ditumpuk jadi satu. Jadi kita cuma mindahin sampah itu. Dari rumah ke TPS, TPS ke TPA.

Itu salah?

O salah donk, itu kan harus dipilah dulu.

Tapi sosialisasi untuk ke situ kan sudah?

Tidak ada sebagai gerakan. Makanya frustasi orang2 pemda cerita, gimana donk pak kita sudah kasih penyuluhan besok gt lagi. Seharusnya kasih contoh kasih penindakan hukum. Cina saja yang masyarakatnya banyak kok bisa untuk tidak buang ludah sembarangan. Tapi panjang waktunya.

Aktivis Lingkungan Masuk Partai Maret 5, 2011

Posted by Iqbal in politik, wisata.
Tags: , , , , , , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Suryo Hadi Wibowo (bagian 2)

Dosen IPB

Maret 2009 di Bogor

Oke, dari sekian partai, tidak ada yang lebih dari yang lain?

Belum. Isu lingkungan dianggap sebagai peri2 sehingga pemandangan ke situ, ya… ada juga yang lumayan, tapi sedalamnya kayak apa tidak tahu. Aplikasinya tidak tahu. Tapi kebanyakan ya konvensional, bahwa harus menyertakan rakyat, bahwa banyak penyebab kerusakan itu bukan di rakyat, di kebijakan yang ditelurkan para pemimpin itu. Nah itu banyak yang tidak tahu.

Apa kita kekurangan ahli lingkungan?

Sebenarnya sih tidak. Pemahaman kita yang kurang. Ahli lingkungan dalam arti instrumental banyak. Ahli pengolahan sampah banyak, tapi sedikit yang memahami bahwa itu karena kesalahan2 kebijakan. Hulu persoalan di situ, bukan karena tidak ada teknologi, bukan karena tidak ada uang.

Apa jangan2 si ahli lingkungan ini tidak banyak terlibat dalam pengambilan policy?

Ya bisa jadi. Sekarang saya temen2 KLH sedang mengupayakan bagaimana mengarusutamakan pertimbangan lingkungan, keberlanjutan, ke dalam setiap kebijakan. Sehingga nanti akan keluar, sedang digodok, sudah jadi draft, kajian lingkungan hidup strtegis. Itu suatu kajian untuk menjamin supaya masuk ke kebijakan2 departemen lain. Dari mulai tata ruang, sektor perhubungan, semuanya. Memang tidak banyak yang tahu tentang itu. Bukan berarti orang lingkungan sedikit. Banyak! Cuma yang memahami, bahwa persoalan lingkungan itu banyak terletak pada aspek2 politik keputusan, politik kebijakan. Itu yang harus kita ungkap terus.

Yang mengclaim dirinya green partij kan PKB, tapi saya denger PKB juga ingin tahu apa sih yang disebut partai hijau. Partai hijau di negara2 maju begitu lahir langsung naik. Perolehan suara tinggi. Jerman langsung 14%. Kenapa? Karena dia bkerja di rakyat. Lahirnya dari LSM-LSM yang mengadvokasi persoalan lingkungan bekerja di rakyat. Negara2 maju berjuang untuk rakyat.

Kenapa kita tidak ikutin jejak Jerman?

Itu yang mau diikuti temen2, membentuk partai hijau. Pertanyaannya, sudah lama belum berjuang dengan rakyat di bawah?

Sudah lama?

Sudah lama, Walhi kan menyatakan diri sebagai bagian dari demokrasi sejak 92. Walhi sendiri berdiri pertengahan 80.

Mentri luar negerinya Jerman yang sebelum sekarang, dari orang lingkungan, tadi nya dari LSM yang suka demo. Trus ada koalisi di kabinet, begitu jadinya.

Sekarang banyak saya lihat teman2 aktivis, tidak hanya aktivis lingkungan, itu senang masuk partai. Siapa yang ngurus rakyat? Mudah2an mereka, kan gitu. Mereka masuk, tapi jangan2 larut, lupa, mudah2an tidak. Kemudian para aktivis ini kalau semuanya kesedot, tidak ada orang lagi. Kalau dulu di Jerman terbelah dua gerakannya itu, ada yang bikin partai ada yang ngurusin rakyat.

Gimana solusinya dari masalah ketidaktahuan orang bahwa lingkungan hidup itu imbas dari policy?

Salah satunya tadi, kami mencoba mengarusutamakan lingkungan dalam kebijakan.

Tiga prinsip lingkungan: keterkaitan, keadilan, keseimbangan. Itu yang kita sebut prinsip memasukkan pertimbangan lingkungan dan keberlanjutan ke dalam setiap kebijakan. Keterkaitan antarsektor. Keterkaitan hulu dan hilir. Keseimbangan jangka pendek dan panjang. Keseimbangan ekonomi dan lingkungan. Keadilan, jangan sampai kebijakan itu menyebabkan orang miskin, karena keputusan2 dari kebijakan2 program yang keputusan rencana program itu adalah keputusan politik. Itu sudah dimasukin dalam pasal 2.

Di Indonesia, itu sering diberi label, bukan label alam, tapi agama, etnis, suku. Apa persoalan poso itu persoalan agama? Bukan! Ambon? Bukan! Apa di Afrika atau yang baru selesai di Ruanda itu betul2 perang suku? Bukan! Indonesia sudah sejak dulu jadi pertarungan, sejak zaman rempah2 di Maluku. Kemudian pengetahuan bertambah, hasil2 riset bertambah, sehingga orang menjadi semakin tahu.

Papua mau lepas sekarang itu karena sumber alam juga.

Negara ini negara yang kaya, tapi sudah hampir habis kekayaannya. Stok tembaga di papua kan. Kita dibohongi lagi sama Amerika, mereka bilang tembaga. Memang tembaga, tapi tembaga itu selalu berasosiasi sama emas. Nilai emasnya yang lebih gede. Makanya Amerika langsung menjadi bank terbesar dalam emas.

Ada satu deposit di Freeport, satu tempat mengumpul dalam satu deposit, bukan semuanya emas, itu karena keputusan politik yang dikeluarkan Suharto tahun 67. Suharto tahu untuk naik butuh dukungan untuk jatuhin Sukarno. Dia harus dapat dukungan politik dari Amerika. Suharto naik, dapat dukungan juga a.l. dari Amerika tentang info2 intelejen. Kemudian Suharto bikin UU PMA untuk barat yang selama itu ditutup Sukarno. Maka generasi Freeport adalah generasi pertama yang menikmati. Itu kan soal timbal balik ekonomi dan politik.

Dalam skala kecil terulang pada desentralisasi. Perilaku nasinal itu terulang pada tingkat kabupaten. Untuk kepentingan politik dan ekonomi. Jadi kesadaran itu yang harus dibangun

 

Ubi Inferior Buat Indonesia, Tidak Buat Jepang dan Cina November 4, 2010

Posted by Iqbal in pertanian.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Wawancara Sutrisno, peneliti pengolahan ubi, dari IPB

April 2008

Selama ini, di Indonesia, penggunaan ubi selain konsumsi langsung gimana?

Varietas Aramoya saki ditanam di daerah Kuningan. Setelah dipanen, dikupas, dibentuk tertentu, kadang-kadang dibekukan (freezer) kemudian dipak. Di Jepang ini sudah jadi makanan sehat, teman minum teh. Mungkin karena keterbatasan tanah sedangkan kebutuhan mereka tinggi, jadinya ditanam di Indonesia.

Ini seperti paradoks. Di Indonesia kan dianggap inferior. Di Jepang dan Cina itu sebagai makanan fungsional si ubi jalar itu. Di Cina juga sebagai tepung.

Produksi kita sejauh ini?

Rata-rata nasional 10 ton/ha, potensinya di Indonesia 40 ton. Itu dengan teknologi yang sekarang. Kita pernah nyoba ke petani di Cibungbulang bisa sampai 15. Literatur mngatakan maksimal 80 ton. Kalau ubi kayu (singkong) itu mungkin saja bisa sampai 200 ton/ha, dengan teknik disambung dll.

Produksi ubi terbesar?

Di Jawa banyak. Di Irian juga, bahkan kan jadi konsumsi mereka. Di Indonesia juga banyak varietasnya. Bahkan di irian itu sampai hampir seribu varietas. Itu sudah dikumpulkan juga plasma nutfahnya oleh Departemen terkait. Misalnya Balitbio sudah mendata hmpir 1000 jenis. Sbagian besar bisa dikonsumsi. Di Indonesia bisa mencapai ratusan, hampir seribu.

Luar negri?

Amerika Tengah, itupun tidak sebanyak Indonesia.

Potato flags?

Sudah ada industrinya tapi belum jalan dengan baik. Memang kita lagi mencari juga investasi ke sini. Rasanya ada khas ubinya.

Mie ubi?

Ini juga pernah dibuat. Sebetulnya bisa dibikin dari 100% ubi asal mindset kita jugan dibandingkan dengan terigu. Selama ini kan kalau produknya terigu ya dibandingkan dengan terigu. Padahal ya apa adanya. Seperti mie ramen itu ya sprti itu, memang dari ubi jalar. Jadi kita tidak harus membandingkan dengan mie dari terigu. Selama ini ya gitu, sebetulnya kita bisa bikin roti dari ubi jalar. Ya itulah hasilnya. Tidak usah dibanding-bandingkan. Kita terlalu lama diberi bahan tepung-tepungan berbasis terigu. Tidak hanya org awam, tapi peneliti juga ada yang gitu. Jadi, mindset perlu diubah.

Ubi sebagai kuliner?

Ada juga yang berani, sprti Bapau Telo, nasi selo (seloboga).

Keunggulan ubi?

Sbagai makanan sehat. Kalau dari warna, yang kuning dan oranye itu beta karotennya tinggi, sebagai provitamin A. Kemudian yang ungu itu antosianin, untuk antikanker.

Protein?

Memang rendah. Ada beberapa produk yang dikembangkan untuk itu, namanya composit flour. Di luar negeri itu salah satu komoditas yang sangat banyak penggunaannya di industri. Misalnya: tepung ubi kan kurang dalam protein, dicampurlah dengan kacang-kacangan.

Mungkin tidak budaya makan beras diganti ubi?

Sulit kecuali sudah biasa. Paling bisa ya jadi makanan sarapan saja.

Gizi bisa mnggantikan beras?

Masih kurang jauh dari beras di protein. Ubi itu kan kandungan proteinnya di bawah 3%, beras bisa 7%.

Jenis apa yang paling utama dikembangkan?

Secara tradisional itu sudah dikumpulkan juga varietas-varietas. Saya kurang tahu tentang hulu, tapi ada beberapa seperti untuk tepung. Ubi itu kan ada yang patinya tinggi ada yang gulanya tinggi. Untuk tepung kita cari yang patinya tinggi gulanya tidak terlalu tinggi. Kalau gulanya tinggi untuk tepung susah. Yang patinya tinggi itu bisa sukuh, bisa juga yang dari Jepang itu Aramuya saki. Ada juga ceret yang patinya tinggi, yang warnanya merah. Ceret itu sebutan petani saja. Ada juga yang ungu. Itu di balitkabi (Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian), mereka punya varietas ungu yang baru dilepas sebagai varietas. Kalau sudah dilepas seperti ini berarti sudah stabil, karakteristiknya tidak berlaku lokal saja.

Gimana proses pengolahan tepung dari ubi?

Kita punya unit pengolahannya di Cibungbulang. Kita bisa mengolah 1 ton ubi basah per hari. Jadinya kira2 20-30% tepung. Setelah jadi tepung ini bisa jadi macem-macam, mie basah, mie instan. Tapi mie instan itu agak sulit teksturnya, butuh modifikasi sedikit.

Apa itu Mocal?

Tepung dari ubi kayu (singkong). Tapi sebelum jadi tepung difermentasi dulu 3 hari sehingga ada perubahan pati. Hasilnya ini ya dsebut mocal

Kelemahan mocal?

Karena produksi masyarakat banyak, jadi ada perbedaan mutu hasil ubi. Perlu ada SOP supaya hasilnya tidak beda-beda.

Gimana tentang yang di Cibungbulang?

IPB bertindak sebagaiai pendamping saja. Mereka membentuk koperasi arum jaya. Semua petani dari 4 Kecamatan yang bentuk koperasi itu. Mereka bikin ubi jadi tepung juga. Mereka jual ke lokal saja. Kami yang dari IPB ini yang bantu masarin. Satu kg tepung ubi dijual Rp 7.000. kita milih ubi yang tidak terlalu bagus, yang bagus dijual ke pasar.

Selama 5 bulan waktu harganya lagi tinggi, kan alat pengeringnya itu bisa dipakai buat pengeringan yang lain. Kalau pas harga ubi lagi mahal memang jadi tidak ekonomis. Alat pngeringnya bisa dipakai bwt yang lain, misalnya jagung, singkong. Mereka belum lama terbentuk, baru 2 bulanan. Badan hukumnya masih proses juga.

Proses penepungan lain?

Kalau yang untuk kebutuhan sendiri sih banyak, seperti di Malang. Dulu di bogasari juga sampai masarin tepung ubi, ada yang ungu, putih, dan kuning. Harganya sama sprti terigu. Tapi sekarang karena restrukturisasi bogasari jadi ditunda mungkin. Memang penepungan selain beras masih jarang.

Kita bisa ganti 10% untuk mie saja itu sudah luar biasa. Kita akan kesulitan nyari bahan baku. Sekarang terigu itu bisa 4 juta ton/tahun di Indonesia. Kalau 10% saja bisa diganti. Padahal 10% itu suatu hal yang mudah untuk masukin ubi. Bahkan sampai 50% pernah dicoba. Sampai 100% pun bisa asal jangan roti karena roti kan butuh pengembangan. Seperti biscuit, cookies itu gak masalah.

Kalau 10% itu sudah 400 ribu ton diperlukan tepung ubi. Berarti butuh 2 juta ton ubi segar. Itu kan pasar baru, tidak menghilangkan pasar yang sudah ada. Karena pada saat murah, ubi itu dpakai buat produksi bukan konsumsi seperti saus-saus  yang murah itu. Kalau scara kualitas dganti 10% itu tidak banyak berubah. Terus kalau di pasar ada, masyarakat akan mencoba. Rasanya juga tidak jauh beda.

Sagu Sebagai Pilihan Sumber Karbohidrat Indonesia Oktober 4, 2010

Posted by Iqbal in pertanian.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Wawancara dengan Profesor Bintoro, ahli sagu dari IPB

April 2008

Bisa Bapak kasih gambaran umum tentang sagu?

Menurut saya, sagu vegetasi yang tumbuh dalam jumlah banyak di Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini. Di Irian itu satu hamparan di datarn rendahnya, bisa jutaan hektar itu sagu semua. Nah, di Irian ini, setiap tahunnya ada 6 juta pati tidak terpakai. Sagu itu kalau tidak dipanen akan mati. Orang di sini kan sedikit, panennya tidak smua diambil, sisa deh.

Rata-rata satu batang sagu mengandung 200-400 kg tepung. Bahkan di Sentani (Irian), ada pohon yang mengandung 738 kg/pohon. Bahkan ada profesor Jepang yang menemukan sampai 974 kg. Andaikata 1 hektar bisa diambil 100 pohon, berarti 30 ton. Ini yang terbesar dibanding bahan karbohidrat lain.

Kalau begitu, kenapa orang-orang tidak memilih sagu?

Orang Indonesia kan kalau tidak makan nasi seolah-olah miskin, padahal sesungguhnya tidak harus nasi, bisa jagung, singkong, sagu.

Nutrisinya? Bukannya sagu kurang memenuhi?

Biasanya orang makan sagu itu tidak seperti nasi yang dicocol pakai smbel saja sudah cukup, tapi pakai sayur. Nah, biasanya lauknya pakai ikan. Ikan ini yang bisa nutupin kebutuhan protein. Jadi, tidak masalah sebetulnya.

Kalau kita makanannya cuma beras itu rawan. Negara-negara maju itu makanannya macam-macam. Amerika, Jepang, Eropa, begitu semua. Kita belum. Jadi rawan.

Apa betul, Sagu bisa juga jadi bahan biofuel?

Menurut BPPT, 2 kg pati bisa jadi 1 liter etanol. Jadi kalau 1 hektar 30 ton bisa jadi 15 ribu liter etanol. Jadi, sebetulnya potensial sekali. Kelebihannya lagi, sagu itu seperti pisang, dia punya anakan. Jadi sekali tanam terus saja tumbuh.

Okelah tadi itu biofuel sebagai alternatif. Tapi di sini juga ada fungsi yang lain. Daerah-daerah yang jauh dari pabrik gula itu bisa memakai sagu jadi gula. Setiap hari kan orang makan gula. Pati itu kan polisakarida kalau dipotong-potong bisa jadi sukrosa.

Prosesnya? Kenapa belum dilirik?

Memang belum pada tahu. Sepanjang ada gula memang lebih praktis gula. Kalau sagu lbih rumit untuk dijadikan gula. Tapi kalau yang biofuel tadi prosesnya sama. Kalau yang pati mau dijadikan gula itu smua dijadikan glukosa dulu. Kalau mau dijadikan etanol tadi difermentasi lagi. Kalau di negara maju sekarang sudah mamakai plastik ramah lingkungan. Biasanya plastik itu kan dari minyak bumi tapi kalau yang ramah lingkungan ini pakai laktat. Laktat itu ya dari pati. Jadi, bisa buat gula cair, buat plastik ramah lingkungan. Di Jepang sudah banyak pakai itu, 15-20% yang memakai plastik ramah lingkungan. Slama ini pemakaian sagu hanya untuk buat kerupuk, pempek, campuran baso, ongol-ongol. Jadi, baru makanan-makanan kecil saja.

Ada tidak sih daerah yang masih makan sagu sbgai sumber karbohidrat?

Yang saya amati, di pulau-pulau kecil itu kalau lagi musim angin Torr (?) kalau di Natuna, atau angin bar (?), gelombang tinggi. Bulog kita biasanya cuma ada sampai kabupaten. Dari kabupaten ke pulau-pulau ini, karena gelombangnya gede dan kapalnya kecil-kecil jadi tidak ada yang melaut, jadi tidak terdistribusi.

Jadi mau tidak mau penduduk pulau itu bertahan dengan yang ada di pulau itu. Jadi dalam keadaan beras habis balik lagi ke sagu. Tapi kalau pas berasnya datang ya makan beras lagi. Sbetulnya orang-orang yang seperti ini msh banyak, tapi lepas dari perhatian. Orang Jepang melihat negara kita potensial, tidak mungkin kelaparan. Tapi ternyata masih banyak yang kelaparan.

Fungsi lain lagi sbagi pakan ternak. Ternak Alabio yang di kalsel itu makanan karbohidratnya dari sagu. Kitanya saja yang belum banyak perhatian. Saya sudah mulai kampanye dari 90, tapi tidak laku-laku. bahkan penelitian yang dibiayai dari pemerintah baru tahun ini. Setelah 18 tahun ini baru gemanya terasa.

Sagu itu bisa tumbuh di kawasan yang tumbuhan lain tidak bisa tumbuh. Rawa bisa. Selama daerahnya lembab. Rawa-rawa Kalimantan itu kan luas. Dan juga, keragaman alamnya dijaga, tidak merusak lam. Kalau kelapa sawit kan butuh dimurnikan.

Hitung-hitungan ekonomis: kelapa sawit menghasilkan 1000 dolar/ha/thn. Sagu 30 ton, Terakhir saya tahu sagu 3000/kg, jadi 90juta/ha/tahun.

Alasan pemerintah untuk tidak melirik sagu?

Lama panennya. Ditambah karena sekarang itu otonomi daerah. Pemimpin-pemimpinnya itu pingen kebijakannya terlihat (panen) sebelum dia lengser. Sagu bisa 10-12 tahun baru keliatan hasilnya. Tapi tunasny tumbuh terus. Jadi, kalau udah panen itu akan panen terus tiap tahun. Bupati tidak tertarik itu karena walaupun diperpanjang masa jabatannya 2 kali pun belum panen juga. Sampai sekarang belum menarik.

Bengkalis, prusahaan internasional timber itu, sudah 12 ribu hektar lahannya. Bisa dbayangkan 12.000 kali 30 ton kan. Itu sudah panen skarang, bukan baru dimulai. Mereka tanamnya bertahap, 1 tahun 1000 hektar, jadi suatu saat kan dia punya tanahnya 20 ribu hektar. Itu dia bakalan menguasai pasar dunia. Dia nentuin harga.

Maluku?

Sekarang tanahnya sudah pada rusak. Paling banyak sagu daerah Maluku itu di Seram. Sekarang ini kan banyak kabupaten-kabupaten baru yang belum punya kantor. Pohon-pohon sagu itu yang ditebang untuk lahan kantor baru itu. Jadi, Maluku secara keseluruhan itu paling tinggal 30 ribu hektar.

Sagu yang mendominasi itu yang di Irian. Jadi seharusnya di sana tidak perlu kelaparan. Irian ada 3 bagian. Irian yang bawah makannya sagu, tapi sempat kelaparan juga di Irian. Irian atas kelaparan, padahal kalau dikirim dari bawah ke atas selesai sudah.

Orang tidak mungkin makan sagu banyak sekali. Perutnya minta berhenti. Jadi, yang makan sagu perutnya tidak gendut. Kalau nasi kan walaupun sudah kenyang tapi terus saja dimakan.

Biofuel?

Prosesnya itu fermentasi. Di Indonesia tidak banyak orang yang meneliti ke situ. Saya penelitian-penelitiannya lebih ke budidaya. Tapi tiap ada pertemuan tentang sagu kan semua ketemu. Di Jepang itu, untuk proses fermentasi pakai macam-macam mikroorganisme. Jadi sampai ke situ. Kalau kita kan ya yang konvensional dipakai apa ya itu saja. Jadi bisa dapat produktivitas yang lebih tinggi.

Sekarang karena pnelitian tentang sagu mulai dibiayai, saya mengajak teman-teman untuk meneliti pemanfaatan limbahnya. Itu limbahnya juga bisa, tapi bukan etanol, melainkan metanol. Tapi skarang ini kan ada protes tentang biofuel itu. Yang dijadikan etanol itu kan dari pati. Banyak orang yang masih kelaparan tapi makanan malah dijadikan bahan bakar. Jadi, saya bersama teman-teman dari Kimia, Teknik Industri, mau coba meneliti untuk memanfaatkan limbahnya. Sagu harusnya jadi andalan. Harusnya.

Pupuk Organik Jerih Payah Petani, Belum Pemerintah September 24, 2010

Posted by Iqbal in pertanian.
Tags: , , , , ,
1 comment so far

Wawancara dengan Henry Saragih (Ketua Serikat Petani Indonesia-SPI)

Di YTKI, 4 Februari 2009

Distribusi tadi bapak bilang tidak sulit, pemerintah mengeluarkan sistem distribusi tertutup. Dengan keadaan petani berkelompok yang lebih sedikit daripada yang tidak berkelompok, bapak rasa kebijakan itu akan seperti apa?

Menurut saya, karena persiapan-persiapan yang dibuat pemerintah belum ada, itu akan sama seperti yang lalu, akan banyak petani yang tidak dapat pupuk. Apalagi kelompok-kelompok tani yang mendapatkan itu adalah kelompok-kelompok tani yang sudah dibentuk pemerintah, padahal itu sangat kecil sekali sebenarnya, lebih banyak 60-70% petani yang belum masuk ke kelompok tani.

Jumlah PPL saja itu kan sangat sedikit. Di kecamatan itu kan tidak ada institusi dinas pertanian, seperti dinas kesehatan itu, yang ada hanyaa PPL. Untuk itu, keputusan itu harus disempurnakan, juklaknya lebih dilengkapkan lagi. Tentang pelibatan pemda, camat, kades. Jadi menurut saya itu harus ada aturan-aturan khusus lagi supaya pemerintah desa dan kecamatan yang aktif. Itu (kebijakan,red) masih terlampau umum sekali. Sambil, menurut kita, harusnya pemerintah Indonesia tidak lagi sekedar menyalurkan pupuk yang kimia itu, tapi ke pupuk yang organik, yang ekologis, yang menurut kita itu bisa mengurangi biaya cost petani dan biaya negara. Pemerintah kita ini hanya mau membuat citra baik saja, akhirnya hutang makin banyak saja, tapi petani susah.

Nyambung pupuk organik tadi, kan ada proyek BLP yang di dalamnya ada pupuk organik?

Itu yang menurut kita masih kecil sekali. Tidak sebanding dengan keharusan. Ini kan pemerintah kita ini kesiapannya untuk mendukung petani, tapi ini tidak. Depkes saja ada sama puskesmasnya di kecamatan, tapi deptan itu tidak ada. Katakanlah baik apa yang dikatakan pemerintah itu, tapi tidak nyampe ke bawah. Nah jadi ini yang menurut kita tidak ada sampai ke masyarakat petani.

Untuk pupuk organik sendiri, sebelumnya petani ini sudah membuat sendiri atau?

Sudah banyak sekarang. Pertama karena memang pupuk mahal. Kedua karena organisasi-organisasi tani seperti kita memang sduah mendorong. Itu ada di Sumatera Utara. Di karo kita sudah mulai, di kota medan sendiri. Sudah kita mulai sejak 10 tahun yl. Bukan hanya demplot-demplot 1 hektar, tidak. Di Bogor kita sudah level desa. Pakai benih lokal, pupuk lokal. Pupuk organiknya dibuat sendiri oleh petani kita, seperti bokashi ataupun kompos.

Proyek BLP ini kan datang, apa akan menghancurkan yang sudah ada?

Nah itu yang menurut kita salah. Seharusnya pemerintah tidak perlu mendistribusikan pupuk organik. Diajarkan saja petani memproduksi pupuk organik itu. Jadi yang penting materialnya disiapkan, misalnya sapi, kambing, itu yang harusnya disiapkan.

Itu (kebijakan,red) akan hanya menguntungkan perusahaan,itu dagang baru dari mereka, padahal itu semua sudah bisa diproduksi petani. Menurut kita, proyek itu pemborosan lagi dan membodohi petani. Petani bisa produksi sendiri, ada datang yang murah bahkan gratis, ya petani kan cari yang mudah saja.

Padahal yang penting dibuat sekolah-sekolah pendidikan untuk petani. Dan itu sudah berhasil, ada, namanya SPLHT, Sekolah Pendidikan Lapangan untuk Hama dan Tanaman. Tapi itu tidak diteruskan. Karena tidak ada bisnis di situ. Nah sekarang ini kan mereka mau bisnis, dari penjualan hormon-hormon, perangsang-perangsang yang organik, pupuk organik. Ini yang mereka kembangkan.

Ada ide untuk dana subsidi itu ke petani saja langsung, tidak ke korporasi, menurut bapak?

Ya, bagus, tapi itu tidak jalan pintas juga. Yang penting untuk petani itu, dikurangi biaya hidup untuk petani. Misalnya pendidikan itu tidak mahal, kesehatan gratis, terus biaya produksi murah, dia bisa cari alat-alat dan bahan yang baik, kemudian sarana transportasi yang baik. Jangan memberi uang. Kalau memberi uang ini orang kan tidak berproduksi. Jadi boleh saja nanti pendapatan petani tidak meningkat tapi kebutuhan hidupunyaa teratasi. Sekarang ini kan tidak.

Kuncinya di daerah?

Di pusat itu kebijakan, di daerah itu pelaksanaan. Misalnya gini untuk kebijakan, soal pangan, menetapkan ekspor impor kan pusat, yang menetapkan dana kan pusat, yang menetapkan strategi pengembangan industri nasional kan pusat. Inisiatif-inisiatif dari beberapa pemerintah daerah itu bagus, misalnya yang ada di Bantul, Kebumen, itu bagus. Jadi ada peningkatan taraf hidup. Pemda ini memberikan peranan yang besar juga. Otonomi daerah ini kan pusat tidak sampe otoritasnya sampai ke bawah.

Tentang subsidi bibit sapi, bapak belum menyinggung?

Subsidi bibit sapi itu jumlah bantuannya sedikit sekali. Programnya itu positif, Cuma kuantitasnya dan pembinaannya. Seharusnya sapi kambing diperbanyak dan dokter2 untuk membina kesehatannya itu diperbanyak.

Kita kan sedang menuju ke sana?

Tapi dari data tidak signifikan. 17 T pupuk kimia, dibandingkan hanya 150 M itu kan tidak ada apa-apanya.

Bapak memandang untuk go organik 2010?

Tidak ada itu. Coba tanyalah mana yang dibuat deptan. Tidak ada daerah pertanian organik yang berhasil itu. Kalaupun ada itu bukan hasil dari kerja keras sistematis pemerintah, tapi dari inisiatif petani itu sendiri.

Di akhir tahun 2008 kemarin kan Deptan banyak sekali mengeluarkan anggaran, apa ada indikasi menghabiskan anggaran?

Menurut saya banyak yang percuma, karena kelembagaannya tidak dibenahi dan salah arah tadi.

Ada pandangan bahwa kenapa pupuk itu langka karena petani yang seharusnya pakai 250 kg malah make sampe 500-600 kg. brati ini kan kesalahan petani?

Tidak juga sih, itu kecil. Mana mungkin petani mau mengeluarkan biaya lebih besar sekali. Itu kasus. Salah pandangan itu. Sebenarnya bukan di situ yang menjadi soal. Karena kan petani beli juga bukan gratis. Tidak mungkin dia boros. Itu kasuslah, mungkin orang yang baru jadi petani. Tapi orang2 yang sudah lama jadi petani tidak mungkinlah itu. Menabur pupuk kan uag semua.

Dengan keadaan tanah yang sekarang, apa masih cukup dengan 250 kg?

Ya makanya pemerintah kita itu belum sungguh-sungguh. Hanya sekedar ingin dicitrakan bekerja dan berbuat baik, tapi tidak melakukan terobosan perubahan padahal mereka kan punya balai-balai yang besar.

Itu kan hasil dari balai 250 kg/Ha?

Seharusnya kan balai itu merekomendasikan orang itu tidak usah pakai pupuk kimia.

Bukannya nanti produktivitasnya jadi berkurang?

Tidak, orang Deptan sendiri merekomendasikan pakai pupuk organik, hasilnya bagus.

Dari Deptan itu kan dicampur pak, organik dengan kimia?

Coba misalnya langkahnya begini. Satu tahun lah kita menderita. Coba dibikin pilot project dari 3-5 kabupaten di Indonesia. Dibuat percobaan. Ada tidak upaya itu? Belum ada! Padahal kan ada riset bahwa itu hasilnya bagus. Sekarang mana? bupati mana yang mau?

Itu kenapa tu pak kira-kira?

Karena tidak punya visi. Tidak berani ambil risiko. Padahal sudah banyak praktek2 di daerah.

Bapak sepakat ya dengan pupuk organik ini?

Bukannya sepakat, kita yang mendorong untuk itu karena menurut kita pertanian pakai pupuk kimia ini menyesatkan, menguntungkn perusahaan-perusahaan kimia.

Untuk mendoktrin petani menggunakan pupuk organik ini bagaimana?

Harus dibangun yang namanya demplot-demplot, pendidikan-pendidikan, dibangun dukungan-dukungan seperti tadi sapi kambing dsb. Kalau dulu pemerintah begitu gencar, sistematis, dan komprehensif mengubah pertanian yang tradisional ke modern, kenapa tidak mengubah ke pertanian organik ini komprehensif? Coba sekarang mahasiswa IPB tu, kalau tamat dijamin gajinya 3 juta untuk menjalankan pertanian organik, mau tidak mereka? Saya pikir mau, timbang mereka jadi pegawai bank ataupun kepada perusahaan perkebunan.

Harus Ada yang Mengawal Produk Lokal September 15, 2010

Posted by Iqbal in budaya, pertanian.
Tags: , , ,
add a comment

Husna Zahir, Ketua YLKI

Juli 2008

Konsumen Indonesia cinta gak sih sama produk Indonesia?

Indonesia ini masih negara brkembang, masih maju, jadi kecendrungan untukngelihat produk luar tu lebih mnarik, lebih baik, lebih bergengsi itu masih ada, masih sangat kuat. Lihat dari gaya hidup saja deh, anak kecil sekarang kalau ngerayain ulang tahun di fastfood. Apalagi dengan prekonomian yang lebih maju itu dari kelompok-kelompok tertentu lebih cenderung lihat ke produk-produk luar.

Tapi ada juga kelompok masyarakat yang gak punya pilihan, pilihan dia mengonsumsi apa yang mampu dia beli. Celakanya adalah kalau kecendrungan mlihat produk luar lebih baik itu kemudian disalahgunakan, ada yang produknya mndekati kadaluarsa atau ilegal, tapi kemudian bisa ditemukan di pasar dengan murah, itu yang berisiko bagi masyarakat kita. Kita gak bilang itu pasti jelek, tapi kalau dia ilegal, tidak teregistrasi, mungkin gak bahaya, tapi kalau kenapa-kenapa jaminan perlindungan konsumennya itu gak ada.

Konsumen Indonesia lebih logis?

Range-nya sangat luas. Kalau kita berbicara konsumen Indonesia sangat lebar. Gak bisa digeneralisir. Kalau digeneralisir mungkin bisa dilihat dari sisi kota. Di sisi kota memang gitu. Mningkat gak sih pngetahuan konsumen tentang pangan olahan? Saya merasa minimal dari sisi mlihat kadaluarsa sudah meningkat, saya mrasa itu sudah ada kmajuan, di warung pun orang bisa melihat kadaluarsa. Tapi knyataannya, beberapa waktu yang lalu, orang tetap beli produk kadaluarsa, dengan asumsi dimakan gak masalah, dia beli dengan harga lebih murah. Jadi, logiknya itu bukan di sisi kualitas, tapi di harga. Kalau dianggap tidak berdampak langsung bagi dia itu dia tidak permasalhkan. Jadi, masih lemah konsumennya.

Kampanye yang tepat ke konsumen?

Bukan hal yang mudah. Kalau dari YLKI melihat tentang keberlanjutan. Keberlanjutan suatu produk. Itu yang bisa didorong. Tidak bisa jaminan bahwa produk luar itu lebih baik. Sekarang masalahnya kan apakah produk Indonesia bisa memberi kepercayaan kepada masyarakat. Sudah ada image produk Indonesia itu kualitasnya lebih rendah. Itu yang harus diralat. Saya pikir kalau dari sisi YLKI itu tidak mudah. Produk impor itu akan menjadi masalah di masa yang akan datang. Yang kedua persoalan kalau terjadi sesuatu. Claim ke produk impor itu tidak mudah. Walaupun ada importir tapi itu bukan produsennya. Mungkin itu satu hal yang bisa kita sampaikan bahwa produk Indonesia lebih terjamin. Sekarang tinggal si industrinya gimana menunjukkan bahwa produk mreka memang bisa terjamin.

Kecendrungan konsumen, food, fashion, film?

Tergantung daya beli. Gak bisa digeneralisir. Kalau untuk orang kota mungkin ketiganya penting. Untuk golongan sosial ekonomi mnengah ke atas, ketiganya masih diperlukan. Sekarang kan bagaimana kita mngedukasi masyarakat berpikir rasional.

Kalau dari sisi industrinya, bagaimana mengkampanyekan. Dilawan dengan iklan itu tidak murah. Mengcounter rokok itu sulit karena mereka punya budget yang besar.

Bangunnya dari komunitas. Jadi, salah satu bentuk kampanye yang coba kita lakukan itu dari kelompok-kelompok masyarakat, kelompok-kelompok komunitas. Memang itu sulit dilihat hasilnya. Yang dibangun itu kan sebetulnya kesadaran kritis. Jadi dia kalau belanja apa yang harus dipertimbangkan. Itu dari pngalaman kita walaupun kecil, komunitas, tapi itu berjalan.

Produk impor murah bahaya bagi konsumen logis?

Makanya kita melihat dari sisi keberlanjutan. Itu kan tidak hanya di sisi  konsumen, di sisi pemerintah sebetulnya. Knapa kita bisa 10 tahun produksi kedelai turun sekian. Itu kan karna dipikir ah itu gampang, tidak didorong ke petaninya untukmningkatkan produksi. Jadi, dari sisi kebijakan itu juga penting, tidak bisa hanya cuma di sisi konsumen. Konsumen kan hanya sederhana. Itu juga tidak bisa disampaikan ke samua level. Kita cuma bisa bilang itu ke orang yang knowledge-nya bagus. Kalau untukkampanye itu td kita ngomongin keberlanjutan lebih kena ke orang menengah ke atas. Orangnya lebih educated. Tapi kalau ke masyarakat komunitas itu lebih ke kesadaran kritis saja.

Produk impor banyak karena apa?

Saya tidak yakin. Tapi barang impor itu kan gak murah-murah amat ya. Tapi yang saya lihat, orang lebih memilih jeruk impor yang harganya lebih tinggi dari jeruk medan. Itu kan menunjukkan pencitraan yang terbentuk itu yang jelek. Persoalan satu lagi, untuk maintain kualitas produk lokal. Kenapa Thailand bisa maju demikian? Karena dalam soal penanganan pascapanen itu mereka seriusin. Semua kita punya kenapa harus ngambil dari impor. Itu bukan dari sisi konsumen saja, tapi kbijakan itu juga penting. Bagaimana dari sisi pmerintah itu bisa membuat kbijakan yang bisa memicu petani-petani kita.

Kampanye gemar produk dalam negeri?

Gak ada. Sebagai satu kesadaran kolektif belum, tapi dari individu-individu itu sudah.

YLKI memandang kampanye gemar produk dalam negeri?

Yang menarik yang ingin saya sampaikan, sejarah berdirinya YLKI itu dari kampanye cinta produk dalam negeri. Orang kecendrungan dulu beli produk-produk impor. Ibu-ibu pendiri YLKI dulu mengkampanyekan gemar produk dalam negeri. Tapi kemudian siapa yang menjamin produk lokal bagus? Nah, di situlah akirnya dibentuk YLKI.

Programnya kan juga gitu, selain menerima pengaduan, kita juga mengedukasi masyarakat, bagaimana mngenali produk. Jadi, sejarahnya itu untuk kampanye produk dalam negeri sebetulnya. Tapi kita gak bisa menutup mata dari globalisasi. Tetap apapun, kampanye itu penting, tapi tetap harus ada yang mengawal membuat produk-produk kita itu kualitasnya baik. Kualitas juga harus dibangun. Harus sejalan. Satu hal yang bisa dilaksanakan, tanggung jawab dari pihak produsen, mungkin dengan menampilkan nomor layanan konsumen. Itu satu hal yang kita dorong. Kalau dia berani mncantumkan berarti dia berani juga menjamin produknya.